Steve Jobs dan para vice president di Apple
Steve Jobs dan para vice president di Apple
Sulit untuk tidak mengagumi cara Steve Jobs melakukan presentasi. Dengan celana jins dan kaos turtle neck hitam yang jadi ciri khasnya, CEO Apple itu selalu menghipnotis audiens dengan presentasi yang hangat dan kharismatis. Tapi, dibalik kisah sukses Steve Jobs dan Apple tersimpan fakta yang sedikit diketahui orang. Tentang Steve sebagai bos yang sangat berlawanan dengan caranya melakukan presentasi.

Steve yang bisa memarahi staff-nya di depan banyak orang, Steve yang emosional, Steve yang mudah mengucapkan kata-kata kasar, Steve yang penuntut, Steve yang sangat perfeksionis, dan lainnya.

Pada medio 2008, layanan MobileMe yang siap diluncurkan ternyata tidak bekerja sesuai harapan Steve. Steve pun ngamuk. Majalah Fortune menggambarkan kejadian saat Steve memarahi stafnya di ruang rapat:

“According to a participant in the meeting, Jobs walked in, clad in his trademark black mock turtleneck and blue jeans, clasped his hands together and asked a simple question: “Can anyone tell me what MobileMe is supposed to do?” Having received a satisfactory answer, he continued, “So why the f*** doesn’t it do that?”

For the next half-hour Jobs berated the group. “You’ve tarnished Apple’s reputation,” he told them. “You should hate each other for having let each other down.”

Masih ada banyak sekali cerita yang menggambarkan kisah kurang menyenangkan soal Steve. Sampai-sampai majalah Forbes memasukkan Steve ke dalam daftar “Bully Bosses Hall of Fame,”. Dan lebih banyak lagi majalah ataupun situs yang memberi kategori yang kurang lebih sama.

Pertanyaannya, jika Steve Jobs memang digambarkan sebagai “bos yang buruk”, mengapa banyak yang ingin bekerja dengannya?

Scott Dunlap di laman Quora punya jawaban menarik. Dikatakan Dunlap, visioner seperti Steve memang punya kelebihan dan kekurangan.

Kelebihannya, Steve yang otak kiri dan kanannya sangat aktif dapat melihat masa depan sejelas saat ini. Steve, disebut-sebut sudah membayangkan iPad bahkan sebelum melahirkan iPhone. Apa yang dibayangkannya begitu jelas, hingga ia begitu ingin untuk mewujudkannya.

Karena itu, Steve mencari engineer dan ahli-ahli terbaik dibidangnya untuk merubah imajinasi itu menjadi kenyataan. Tentu saja membuat sesuatu yang belum pernah dicoba sebelumnya tidaklah mudah. Banyak kegagalan, penundaan, dan lainnya.

“Hal ini membuat visioner seperti Steve frustasi. Bayangkan produk itu sudah tergambar begitu jelas di benak Anda, tapi masih ada penundaan, sesuatu yang tidak beres, atau masalah lain.

“Just get the fucker done! Enough excuses!!! Do you have any idea of the change in the world this will have, and if I give a shit about your kids little league game?!?” ujar Dunlap seolah-olah menirukan Steve.

Memang, banyak yang bisa dipelajari dari seorang visioner yang memiliki standar kualitas kerja sangat tinggi. Karena itu orang-orang “biasa” akan merasa sangat bangga untuk bisa bekerja, atau paling tidak menjadi bagian dari apa yang dia kerjakan.

Dari pengalaman saya, bekerja dengan visioner ini memang membuat kita dapat menyerap banyak sekali ilmu. Kita dituntut untuk bekerja 110 persen dari kemampuan, mewujudkan sesuatu yang awalnya tidak terpikir bisa diwujudkan, dan lainnya. Perasaan dan kepuasan kerja yang di dapat memang luar biasa.

Sebaliknya, sebagian besar energi kita akan terserap untuk bekerja sehingga terkadang kita tidak bisa membedakan antara bekerja dengan bersenang-senang (workoholik) atau bahkan lupa bahwa bersenang-senang itu tidak selalu dicapai dengan bekerja.

Selain itu, kita akan selalu berada dalam kondisi underpressure karena tuntutan ekspektasi kerja yang sangat tinggi (bisa sangat melelahkan).

Jadi, apakah Anda ingin atau tidak bekerja dengan visioner seperti Steve Jobs?

Iklan