Menggenggam komputer tablet seperti iPad memang keren. Tapi, apa ya cuma karena “keren” saja kita harus merogoh kocek hingga lebih dari Rp5 jutaan? Rasanya tidak. Tapi, mengapa juga tablet merekat bak sebuah lem yang membuat penggunanya hanya meninggalkan “mainan” itu ketika tidur atau sedang mandi?

Gara-gara iPod touch yang sudah di jailbreak, saya ketagihan mengunduh game-game bootleg di situs seperti iPhonecake, dan buru-buru menginstal serta memainkannya. Dari 15 game yang saya instal, paling cuma dua yang saya mainkan. Ternyata, lebih asik “berburu” game dan mendownload daripada memainkannya.

Namun, kegemaran itu seolah terenggut ketika game-game terbaru ternyata tidak bisa dimainkan di iPod touch 2nd gen saya lantaran keterbatasan hardware. Bodoh, iPod itu saya jual dan berharap bisa beli iPad, padahal bujet jauh dari cukup.

Keinginan beli tablet waktu itu hanya untuk membaca majalah PDF saya yang jumlahnya ratusan, ukurannya mencapai beberapa gig. Pucuk dicinta ulam tiba. Saya memang tidak dapat iPad. Tapi, saya memenangkan lomba writing competition Samsung Galaxy Tab. Hadiahnya, ya 1 unit SGT.

Sebagai Apple fanboy, saya “dipaksa” belajar soal Android lewat SGT. Sekilas, keduanya serupa tapi tak sama. Tapi… ups, saya tidak akan berbicara soal beda Apple dan Android lebih jauh. Karena ini soal tablet.

Oke, yang saya rasakan setelah lebih dari 1 bulan memegang SGT adalah, tablet ini memagnifikasi semua fungsi yang dimiliki oleh smartphone. Begitu cintanya, seperti yang saya katakana diatas, praktis saya berpisah dengan SGT hanya saat mandi dan tidur. Bahkan SGT menemani saya pup.

Apa saja sih yang saya lakukan dengan SGT ini?


Pertama, jelas, memindahkan koleksi majalah PDF saya. Dari majalah gadget, musik, film, sepeda, fotografi, just name it. Saya bisa membacanya di kamar mandi, saat menunggu, di mobil, dll. Cara menggunakannya mudah. Sentuh 2x di tengah untuk zoom in, pinch to zoom agar font nyaman dimata, dan tap 2x di pinggir untuk pindah halaman.

Kedua, menonton film. Layar 7 inci kekecilan? Bullshit. Menurut saya sudah pas. 7 inci membuat film tampil wide. Lalu, tidak mencolok di keramaian. Setiap hari saya menonton film di KRL Bogor-Jakarta dengan earphone. Pengalamannya luar biasa tuh. Justru, saya tidak akan pede mengeluarkan iPad di kereta. Apalagi saat ramai. Kegedean.

Tidak seperti iPad, movie player SGT juga mampu membuka file .mkv, .avi, bahkan .flv. Saya tinggal men drag & drop film-film .mkv 720p/1080p saya. Gambarnya tajaaaam. HD gituloh😀.

Meski, saya akui kelemahan SGT layarnya berubah jadi cermin dibawah matahari. Dan SGT saya sempat hang karena saya paksa buka file .flv. Well, Apple “memaksa” file movie dikonvert jadi MPEG karena 1 alasan : lebih stabil. Hehehe.

Lanjut. SGT supernyaman digunakan untuk browsing internet. Tetap terasa jembar. Ada beberapa aplikasi launcher untuk situs berita yang nyaman seperti Koran atau Indonesia News. Tentu, saya menfaatkan juga buat Facebook, Twitter, Foursquare, chatt di YM!, mengakses aplikasi lokal seperti BuUuk dan Toresto, hingga membaga mailing list yang nyaman banget (saya ikut ID-Android, ID-Mac, dan berbagai milis lain). Dengan dukungan Adobe Flash, kita jadi lebih nyaman untuk membuka YouTube ataupun situs berbasis flash lainnya.

Untuk bermain game, saya akui game di Android Market, terutama untuk SGT, masih sangat terbatas. Bandingkan ketika saya sampai bingung memainkan game di iPod touch saya. Tapi, positifnya, less is more berlaku. Karena gamenya dikit, setiap game dinikmati memainkannya. Justru rasanya lebih lezat.

Dan, ada kok game-game gratisan yang keren seperti Need For Speed, Pocket Legends (bikin ketagihan!), Poker, Angry Birds, Gun Bros, Skies of Glory dan lainnya yang bagus. Pocket Legends, adalah MMORPG, dimainkan online beramai-ramai. Di rumah saya mainkan game ini dengan Wi-Fi lewat MacBook Pro saya. Sedap.

Untuk sehari-hari, saya berlangganan internet Tri yang murah banget. Kalo tidak salah saya cuma bayar Rp50 ribu-Rp70 ribu dan sudah dapat kuota lebih dari 500 MB. Meski, di daerah tertentu jangan harap bisa dapat sinyal. Hehehe.

Karena saya tidak punya kamera (kasian banget), maka kamera di SGT berguna banget untuk memotret dan mengabadikan video Langit, anak saya selama 3 minggu terakhir sejak ia lahir. Fotonya bisa saya uplot lewat Picplz dan Flickr. Videonya, saya edit di iMovie di MBP dan akan di uplod di YouTube dan Facebook (gila eksis banget :D).

Yang bikin saya makin cinta dengan SGT adalah bagaimana ia bisa membuka dan mengedit file Ms Word lewat aplikasi ThinkFree Office. Dahsyat! Saya bisa membaca file Word semudah membaca file PDF (ini sulit ditandingi iPad). Setelah tau file Wordnya bisa di edit, saya malah kepikiran untuk beli kibor dock yang harganya Rp600 ribuan di Kaskus. Tapi, masih pikir-pikir dulu, se-mobile apakah saya hingga harus mengetik di SGT? Toh, dirumah ada MBP dan Desktop PC Lenovo di kantor juga nyaman.

Cara koneksi SGT juga keren. Begitu USB di colok, saya bisa pindahin data berukuran besar (film, musik) dari komputer kantor ke MBP di rumah. Ini, yang mungkin ngga akan kepikir buat saya untuk melakukannya dengan iPad. Ribet. Habis pindahin game/app di iTunes rumah, colok di iTunes kantor harus ke replace semuanya.

Terakhir yang ngga ketinggalan adalah Google Map. Ketika beberapa teman kantor ingin berkunjung ke rumah saya di Bogor untuk melihat Langit, saya tidak perlu menelpon dan menunjukkan jalan.

Saya tinggal buka Google Map di SGT, dan meng-add akun Latitude teman saya yang sedang berada di mobil. Jadi dia tinggal mengatur rute di posisi saya berada. Hasilnya, cukup akurat. Posisi saya di peta hanya berjeda di dua rumah tetangga.

Masih banyak lagi sebenarnya fitur SGT yang bisa di eksplor. Saya sudah overwhelming mengonsumsi fitur-figur SGT, bahkan tanpa melakukan root. Nggak ngerti juga apa dengan di root akan signifikan manfaatnya dibanding apa yang saya ceritakan di atas. Hahaha.

Anyway, intinya saya sangat puas dengan tablet dan Android, meski punya beberapa kekurangan. Tablet, bagi saya adalah hal luar biasa untuk menikmati dan mengonsumsi konten (content consumption). Bahkan, kalau mau membuat konten pun bisa dilakukan (content production).

Kalau saya di atas agak menjelek-jelekan iPad, hanya bicara jujur. Saya sudah menggunakan produk Apple jauh sebelum Steve Jobs mengenalkan iPhone.