Megamind dan asistennya yang kocak.
Kemenangan tidak selamanya berlangsung manis. Paling tidak, itu yang dirasakan oleh super-villain berotak super-jenius, Megamind. Dengan rencana jahat dan kejeniusan otaknya, Megamind yang sebelumnya selalu dipecundangi oleh superhero Metro Man, akhirnya berhasil membuat pahlawan penjaga kota Metro itu bertekuk lutut.

Well, lebih dari sekadar menekuk lutut. Tepatnya, menghanguskan Metro Man dengan bom hingga hanya tersisa tulang belulangnya.

Namun, setelah merasakan manisnya kemenangan dan membuat seluruh kota Metro berada dibawah kendalinya, justru kehampaan yang ia rasakan. “Aku merasa kosong, tanpa tujuan,” batinnya.

Ia datang ke monumen raksasa Metro Man dan curhat, “I never wanted to defeat you. Well, I did, but I never thought I would actually do it. I had so many evil plans in the works – the illiteracy beam, typhoon cheese, robo sheep… Battles we will now never have. So it’s good to have this time now…,” katanya kepada musuh bebuyutannya itu.

Mengambil DNA Metro Man, Megamind menggunakan kecerdasannya untuk membuat kloning pahlawan super itu hanya agar ia bisa menemukan seseorang yang dapat dilawan. Ia ingin menikmati kembali proses pertarungannya dengan Metro Man. “Walau pun saat melawan Metro Man aku terus-terusan gagal dan kalah, tapi aku selalu belajar dari setiap kekalahanku,” katanya.


Film Megamind yang mendapat 72 persen rating positif di Rotten Tomatoes seolah menunjukkan secara gamblang kepada penonton bagaimana terkadang kita terlalu berfokus pada hasil dan melupakan prosesnya. “Kita” disini berlaku pula untuk saya.

Sering saya menilai kesuksesan dari hasil yang di dapat secara kasat mata. Seberapa besar rumah yang dimiliki si A, apa merek mobil yang dibeli si B, berapa sih gaji si C.

Ini bahaya, karena saat energi banyak terkonsumsi hanya untuk memikirkan hasil tanpa diiringi dengan praktik nyata, yang terjadi adalah mimpi yang mungkin berujung pada lupa atau keengganan untuk bersyukur akan apa yang kita miliki saat ini.

Karena itu, kini saya selalu berusaha untuk memfokuskan energi pada setiap proses, memusatkan pikiran untuk melakukan aktivitas/pekerjaan sebaik mungkin, dan berharap hasil baik akan datang.

Dari sudut pandang agama bahkan lebih dalam. Dari literature yang pernah saya baca, kehidupan di dunia tidak ada hasil akhir. Karena hasil dari sebuah proses merupakan awalan dari proses yang lain, begitu seterusnya hingga kita meninggal dunia.

“I don’t believe in failure. It is not failure if you enjoyed the process.”Oprah Winfrey