“Where the hell are you guys going to drive this car in Jakarta?”

Pertanyaan itu dilontarkan Regional Manager Lamborghini Rocco Basta awal bulan ini sebelum memulai presentasinya terkait dua varian Lambo terbaru yang akan dirilis di Indonesia, yakni Murcielago LP 670-4 SuperVeloce dan Gallardo LP 550-2 Valentino Balboni.

Pertanyaan serupa pernah dilontarkan Rocco kepada pemilik Lamborghini di Singapura, negara serbatertib yang membatasi kecepatan maksimal (speed limit) di jalan tol hanya sebatas 100 km/jam. “Ada yang menjawab, well, kalau mau mengendarai mobil ini harus nyebrang jembatan ke negara tetangga (Malaysia),” kenangnya.

Siapapun sepakat bahwa supercar bukanlah sebuah pajangan, meski setiap bagian mobil adalah pahatan seni yang sangat rupawan. Sebuah sport car fitrahnya adalah diajak ngebut, dibejek gasnya hingga meraung mesinnya, diajak menikung hingga menipis rodanya, diajak menyalip hingga rem brembonya bekerja sempurna.

Jeremy Clarkson, pembawa acara Top Gear langsung antusias saat membawa Lamborghini melewati jalanan di pegunungan Swiss yang berbentuk seperti spaghetti tapi sepi. Disitulah ia memacu Lambonya melewati tikungan demi tikungan dengan cepat, dan ia pun berkomentar “performa mobil sesungguhnya baru keluar, luar biasa,” katanya.


Presenter Garage 419, Matt, paling suka menginterogasi narasumbernya, orang-orang kaya yang memiliki mobil sport mewah. “Berapa kilometer di mobil Anda?” tanyanya tegas. “Karena jika Anda memiliki mobil sport yang hanya ngendon di garasi hanyalah pemborosan. Boros uang, tenaga, juga biaya,” katanya.

Komentar Rocco, Jeremy Clarkson, serta Matt lantas menyatu di otak saya, membentuk benang merah. Bagaimana orang mau mengendarai sebuah SuperVeloce di jalanan Jakarta? Bagaimana orang bisa memaksimalkan karakter Gallardo Valentino Balboni yang hanya berpenggerak 2 roda itu?

SuperVeloce adalah monster. Seri terakhir Murcielago ini adalah Lamborghini tercepat, terekstrem, dan terkuat yang pernah diproduksi. Harganya yang mencapai Rp9,5 miliar, bukan tanpa sebab. “model ini termasuk collectible items,” ujar Endy Kusumo, Chief Operation Officer (COO) PT Artha Auto.

Tipe SV mengusung mesin V12 yang mempunyai tenaga 670 dk. Pengurangan bobot kendaraan juga dilakukan hingga 100 kilogram. Mobil supersport tersebut mampu melesat 0-100 km per jam hanya dalam waktu 3,2 detik. Kecepatan maksimum bisa mencapai 342 km per jam.

Bayangkan, bagaimana rasanya menunggangi monster itu di jalanan Jakarta yang sempit, macet, dan penuh lubang? Sungguh sayang, miliaran rupiah sudah dikeluarkan, tapi pemiliknya sangat sulit untuk mengetahui bagaimana mobil itu menjelma dari pajangan, menjadi monster jalanan.