Will dan Edward
Will dan Edward
Jika Edward Bloom sedang bercerita, semua akan mendengar dengan khusyuk. Tidak hanya karena cerita-cerita Edward mampu memecah hening dengan tawa, tapi juga pesan di dalamnya minimal menyunggingkan seonggok senyum bagi mereka yang mendengar. Semua, kecuali Will Bloom, anaknya sendiri.

Will selalu menganggap ayahnya hidup dalam dunia imajinasi. Ia sudah bosan dengan cerita-cerita sang ayah yang tidak nyata, dilebih-lebihkan, dan membosankan.

Ketika Edward sedang sakit parah, Will dan istrinya ikut tinggal di rumah orang tuanya itu untuk ikut menjagai sang ayah. Dari situ, Will yang agak “berjarak” dengan ayahnya mulai dekat lagi, membiarkan ayahnya bercerita di saat-saat terahirnya. Dan baru kali ini ia menyimak serta mencerna cerita ayahnya sungguh-sungguh. Mulai manusia rakasasa, si kembar cantik, si penyihir, hingga ikan raksasa di danau dekat rumahnya. Ia merasa seperti anak-anak lagi yang sedang di dongengkan.

Will baru sadar kalau ternyata tokoh-tokoh yang ada di cerita ayahnya itu ternyata benar-benar hadir dalam pemakaman ayahnya. Mereka sebenarnya hanya orang-orang biasa, bahkan sangat biasa, yang di ceritakan kembali oleh Edward dengan sangat menarik.

“Kalau semua diceritakan ayahmu apa adanya, maka tidak ada yang akan mendengar, sayang,” ujar Sandra Templeton, ibu Will.

Tapi, dari cerita Edward pula Will menyadari betapa ayahnya sangat dicintai oleh semua orang. Pemakamannya penuh oleh orang-orang yang nyaris tidak ia kenal sama sekali. Mereka datang, karena kebaikan Edward semasa hidup masih tersimpan dalam hati mereka.


Saya menonton Big Fish sampai menangis. Ini adalah film terbaik, terhangat, yang pernah disutradarai oleh Tim Burton. Soal hubungan Edward Bloom dan istrinya yang tetap hangat dan dekat sampai tua (mirip cerita Up), juga soal hubungan Edward dan Will.

Yang mengherankannya lagi, ada seorang teman yang punya cerita serupa dengan Big Fish. Ketika kakeknya meninggal, mereka yang ikut melayat atau menghadiri pemakamannya luar biasa banyak. Orang-orang yang tidak ia kenal. Konon katanya, itu karena si kakek sering kali melakukan kebaikan untuk orang lain.
Bentuk kebaikan itu bisa saja kecil, tapi siapa tahu bahwa yang kecil itu akan terus diingat oleh mereka yang menerimanya.

Lalu apa hubungannya dengan ulang tahun saya 14 Februari kemarin? Well, saya kaget juga ternyata cukup banyak yang mengucapkan selamat lewat wall Facebook. Meski hanya sekadar berucap selamat, artinya banyak yang masih mengingat dan peduli pada saya. Artinya lagi, di umur ke-28 ini, selain harus lebih keras lagi dalam mewujdukan segala ambisi dan cita-cita, saya harus lebih banyak lagi menebar kebaikan ke orang lain. 😀

In telling the story of my father’s life, it’s impossible to separate fact from fiction, the man from the myth. The best I can do is to tell it the way he told me. It doesn’t always make sense and most of it never happened… but that’s what kind of story this is. – Will Bloom-

Iklan