Terus terang saya cukup payah dalam bidang olah raga. Sepak bola mentok jadi bek. Basket nggak pernah dapet umpan. Skateboard kurang bernyali untuk melakukan ollie.

Paling yang “sedikit” membanggakan cuma berenang. Bangga karena banyak teman yang striker handal, mahir shooting, serta mudah melakukan kickflip ternyata tidak bisa berenang.

Saya baru teringat lagi kalau olah raga itu harus dan perlu sejak sepekan terakhir ini.

Bukan gara-gara pacar ngotot saya harus turun 5 kilogram dalam beberapa bulan kedepan (saya memang semakin gemuk). Tapi, lebih karena mood yang buruk sekali. Timbul perasaan kurang bergairah, lemas, serta lesu yang lumayan berpengaruh terhadap bagaimana kita menyelesaikan pekerjaan atau aktivitas tertentu. Padahal, kita sebenarnya tidak melakukan apa-apa!

Seharusnya mulai awal Februari ini saya ikut lagi olah raga tinju privat yang saya tinggalkan selama 3 bulan silam karena diserang rasa malas hebat dan aktivitas padat. Begitu ingin ikut lagi, sasana yang biasa kami tempati sedang dibangun. Sementara Pak Yanto, si pelatih, memutuskan menetap di kampungnya di Jawa tengah. Bahkan boxing gloves dan handwraps yang saya titip beli di Amrik (jiah gayanya) masih dibawa teman saya.

Akhinya saya jawab keinginan untuk berolahraga dengan berenang, satu-satunya aktivitas yang saya senangi dan banggakan (setidaknya diantara peer group saya, karena banyak diantara mereka yang ilmu renangnya cetek :D).


Dua kali renang serius (biasanya 1-2 lap pesen bakso, 1-2 lap berikutnya siomay, dst), dampaknya sudah langsung terasa. Tubuh ini terasa segar dan enteng sekali. Beraktivitas pun jadi lebih semangat. Mungkin karena di akhir hari ada aktivitas yang ditunggu: berenang. Otot juga lebih rileks karena dibuat bekerja. Entah sebab apa lagi lainnya, yang jelas saya buktikan sendiri bahwa Mens sana in corpore sano (jiwa yang sehat di dalam tubuh yang sehat) itu adalah nyata adanya.

Fitnes dan Gaya hidup

Saya sempat rasakan kenikmatan berolahraga ketika ikutan Fitnes di Golds Gym Menteng Huis, Cikini. Kebetulan waktu itu ada diskon, ada rejeki, dan lantaran letaknya cuma selemparan kancut dari kantor. Waktu itu setahun saya di-charge Rp4,2 juta tanpa Personal Trainer (perbulan PT bisa rp1,5 jt sendiri, hoek).

Walau sengsara karena belajar sendiri (trial n error) untuk memanfaatkan alat dan menyesuaikan tempo latihan, saya menikmati betul suasana di pusat kebugaran.

Bagitu datang disambut senyum oleh staf, diberi 2 handuk untuk meyapu peluh dan mandi. Lokernya bersih, kamar mandinya apalagi. Nyaman.

Aktivitas membakar kalori dilakukan di ruang ber-AC yang dingin. Tidak ada matahari, lepas dari polisi. Di setiap alat ada TV kabel dan layar kecil (alat2 di Golds Gym termasuk yang terbaik), dijamin bosan bakal menjauh.

Setelah capai dan bermandi peluh, biasanya saya menyempatkan beberapa menit untuk sauna. Terakhir, ditutup dengan mandi air hangat. Aah nikmatnya.

Sayang saya bawa motor, pulang masih “kedinginan” ditonjok angin malam. Andai pulangnya naik mobil dan langsung menuju ke apartemen untuk tidur di ranjang empuk dan dingin bakal lengkap sudah “gaya hidup urban“ saya.

Mungkin, faktor itu juga yang membuat fitnes–sempat booming banget di Jakarta beberapa waktu lalu–dapat melebur sempurna dengan gaya hidup warga Jakarta.

Tentu saja yang benar-benar dapat menikmatinya adalah mereka yang berpendapatan setidaknya diatas $1000. Kalau buat ekonomi lemah lembut seperti saya, hanya sekadar mencicipi, kenikmatannya kurang sempurna.

Faktor ekonomi tak dapat diingkari. Saya merasa berada dalam gaya hidup yang tidak sesuai dengan standar ukurang kantong dan dompet. Apalagi waktu saya mau perpanjang membership untuk tahun kedua, ternyata rate-nya naik kalau ngga salah $600-$700 per tahun. Dan saya pun berujar, “slamat tinggal!” 😀