Dua atau tiga tahun lalu saya ingat Dahlan Iskan menyebut bahwa sekarang ini adalah zaman informasi. Artinya, semua informasi dapat diakses dengan cepat dan seketika lewat ujung jari.

Dari munculnya blog/web 2.0 dan citizen journalism, hingga Facebook dan Twitter yang semakin populer. Juga, persaingan portal berita online yang makin sengit.

Tanpa membaca koran pun, saya bisa mengetahui berita apa yang sedang hangat saat ini lewat Twitter. Sudah saya bandingkan, koran hanya pendalaman, sementara garis besar dan topik beritanya sama dengan apa yang saya baca di Twitter.

Semua berita sekarang dikirim dengan cepat. Karena masyarakat saat ini mendambakan sesuatu yang serbainstan.

Saat sebuah konferensi pers sedang berlangsung, Ugho, teman saya di Okezone tampak asik memencet-mencet tuts BlackBerry-nya sambil sesekali melirik ke pres rilis. Begitu konferensi pers selesai, dia ikut mendekati narasumber bersama beberapa wartawan yang lain untuk mendapat informasi yang lebih detail.

Sejurus kemudian berita itu sudah jadi dan langsung di kirim melalui handsetnya. Di kantor, sudah ada redaktur yang mengunduh dan mengedit, dan menguploadnya di situs Okezone. Prosesnya cepat sekali, tak sampai satu jam acara selesai berita sudah bisa dibaca.


Toh, bukan berarti informasi serba instan ini tanpa efek samping. CEO Google Eric Schmidt pernah mengeluhkan generasi sekarang yang semakin meninggalkan deep reading. Katanya, Internet membuat orang jauh dari buku. Mengakitbatkan sulit tenggelam dalam barisan kata-kata indah yang diukir oleh sastrawan-sastrawan hebat.

Bukan itu saja, Ken Blanchard dalam buku Know Can Do! Mengungkap bahwa kelebihan informasi akibatnya justru tidak baik. “Kelebihan informas membuat kita lumpuh” katanya.

Bagaimana bisa? “mereka menderita overdosis pengetahuan. Pengetahuan datang dengan mudah, tapi tidak membawa perubahan dalam berprilaku,” ia mengungkap.

Sederhana saja mengintrepretasikan kalimat itu. Seorang pegawai yang berencana membuat sebuah usaha sampingan, katakanlah kafe, dengan mudahnya mendapat ribuan bahkan jutaan tips, cara, serta panduan menjadi entrepreneur di internet.

Tapi, apa lantas semua informasi yang dilahap orang itu lantas membuatnya semakin yakin untuk terjun menjadi pengusaha? “belum tentu,” kata Ken.

“Masalah akan muncul ketika kita terus menjejali diri dengan berbagai pengetahuan baru tanpa ada jeda untuk mengintegrasikan dan mewujudkannya ke dalam tindakan. Jika kita terus-terusan begini, pikiran kita akan kacau. Itulah sebabnya ada begitu banyak orang yang berakhir dengan tenggelam dalam lautan informasi,’”.

Perubahan = Pengulangan

Menurut Ken, orang hanya sanggup mengingat sedikit saja dari apa yang dibaca dan didengar hanya sekali. Untuk itu, kita seharusnya membaca dan belajar sedikit pengetahuan tapi lebih sering, bukan banyak pengetahuan tapi tidak sering.

Yang kedua, kata Ken, adalah pengulangan berkala. Ini yang menarik. Pengulangan berkala adalah suatu tehnik belajar dimana Anda tidak akan langsung memahami hanya dalam satu proses belajar. Kita dihadapkan pada informasi tersebut secara berkala selama beberapa waktu informasi itu mengendap.

Gampangnya, perubahan akan berdampak kecil jika tidak disertai tekanan kuat yang permanen terhadap diri seseorang. Pernyataan itu harus diulang dan diulang lagi. Saya sendiri belum mencobanya. Tapi, ini bisa jadi tips buat orang yang sedang mencari konsistensi untuk melakukan sesuatu yang baru.

Jadi setiap semangat mengendur, ingat “pengulangan, pengulangan, pengulangan, sampai itu mengendap di otak Anda”. Hehehe.