Perayaan pergantian tahun kemarin mungkin bukan yang paling meriah : tanpa alkohol, tanpa klab, dan tanpa musik berdebaman. Tapi, bisa jadi paling berkesan. Tidak meriah, karena saya harus opname di rumah sakit Medika Permata Hijau akibat diare dan dehidrasi. Jadi berkesan, karena ada pacar yang dengan setia menemani.

Entah apa yang saya makan, jelasnya saya diare parah. Tak sampai 10 jam, saya bisa 11 kali BAB. Artinya, saya BAB tiap satu jam yang mengakibatkan kehilangan banyak cairan. Prediksi saya, sekitar 4-5 persen cairan dari total berat badan. Dampaknya? Fatal.

Saat dehidrasi tubuh tidak hanya kehilangan air, tapi juga kehilangan elektrolit dan glukosa. Gejala pertama saya rasakan siang hari setelah makan. Tiba-tiba mulut dan lidah saya kering, air liur berkurang. Rasa yang sangat mengganggu itu hilang setelah saya membeli Pocari di pinggir jalan.

Gejala kedua, suhu tubuh menjadi panas dan naik. Di kantor, saya meriang dan kedinginan.

Gejala selanjutnya semakin parah. Muncul rasa sakit kepala, perut jadi mual, frekuensi pernafasan meningkat, konsentrasi menurun, juga mengantuk yang teramat sangat.

Bayangkan, saya harus berjuang keras melawan semua gejala itu diatas motor dalam perjalanan 9 kilometer Kebon Sirih-Kebon Jeruk dalam kondisi jalan yang macet. Bweh. Sumpah, saya hampir pingsan.

Sampai di kos saya sudah lemas. Dengan tenaga tersisa saya menelpon taksi, mengemasi baju seadanya dan langsung ke UGD. Setelah diinfus, mendingan. Yang tersisa hanya mual dan hilangnya nafsu makan saja. Sehari kemudian saya sudah pulih. Namun, dokter tidak mengizinkan pulang, karena takut suhu badan panas akan merujuk pada penyakit lain seperti DBD atau thypus. Untungnya, itu tidak terjadi.

Tapi yang jelas, saya dan pacar terpaksa bertahun baruan di kantor. Dan selama tiga hari kami bersama di ruang rumah sakit yang sempit, sambil gantian bermain iPod touch. Tapi tetap senang. Lucu juga kalau dipikir-pikir. šŸ˜€

Iklan