saya mengendarai Apache
saya mengendarai Apache
Jangan remehkan motor India. Buktinya, Wahyu dan Pange, dua teman sekantor gandrung sekali dengan Bajaj Pulsar tunggangan mereka.

Bahkan, saat ini keduanya sedang touring bersama klub Pulsar dari Jakarta ke Yogyakarta. Dua orang yang dulunya jauh dari klub motor, tertarik gabung bahkan ikut touring cuma gara-gara membeli Bajaj. Luar biasa.

Saya memang belom pernah mencoba Bajaj. Tapi saya tahu dibalik noraknya fitur built-in speaker untuk MP3-radio di TVS Rockz, motor itu cukup tangguh. Tarikannya panjang dan bertenaga. Lincah untuk bermanuver, irit, dan remnya sangat pakem.

Dan kemarin saya giliran mencoba TVS Apache RTR 160 facelift. Versi anyar ini dirilis dengan sederet pembaruan dari input pelanggan di versi lamanya. Yang utama paling menoncjol adalah penggunaan double disc brake serta penambahan bodi.

Oke, kesan pertama, wow, sporty! Motornya bongsor dan berat. Tinggi saya 165 cm, dan harus jinjit. Cukup menyulitkan saat harus mundur di jalan. “Untuk mengakalinya, jok sedikit di papras oleh para pemilik TVS,” kata Bo, teman saya.

Begitu merasakan respon throttlenya, motor ini jadi terasa lebih hidup. Tarikannya bertenaga. Tidak bosan-bosannya saya menggeber Apache setiap bertemu jalan yang agak lenggang. Bo, teman saya mencapai 120 kph. Bejita, teman saya lainnya, sudah tembus max speed 140 kph. Gokil. Asiknya lagi, motor ini sangat anteng dan nyaman dalam kecepatan tinggi. Double disc brake juga bekerja mantap saat dibutuhkan.

tenang, setir ngga bikin pinggang sakit
tenang, setir ngga bikin pinggang sakit
Setirnya sudah model sport, cukup gaya. Tubuh pun jadi sedikit membungkuk, tapi tenang, tidak gampang capek. Hanya saja, saya merasakan getaran kencang di setir saat gas ditarik. Meski getaran hilang dalam kecepatan konstan, tapi cukup mengganggu.

Panel dashboard model kombinasi digital-analog. Speedometer, penunjuk bensin, Odo meter dan indicator waktu dalam bentuk digital, sementara penunjuk RPM berbentuk analog. Cukup stylish.

Kemarin, saya bersama pacar menempuh rute lumayan untuk mencari lokasi pernikahan kami nantinya. Dari Binus Rawa Belong-Lebak Bulus-RS Fatmawati-Prapanca-Kemang-Senayan-Permata Hijau-Puri Indah Mal-Rawa Belong.

jok belakang nyaman dan lebar
jok belakang nyaman dan lebar
Ada dua catatan. Pertama, bensinnya sangat irit! Mesin Apache Cuma 160 cc, sama dengan Honda GL Pro saya dulu. Herannya, teknologi mesinnya tak hanya mudah melarikan bodi yang berat, tapi juga tetap irit BBM. Salut.

Kedua, pacar saya mengaku posisi duduknya cukup nyaman. “Biasanya motor besar gini kan suka nggak enak pas dibonceng. Tapi, aku asik-asik aja tuh,” katanya.

Oh ya, keluhan lainnya adalah saya mengalami susah netral (false netral). Ternyata ada blogger pengguna TVS yang mengalami hal sama di awal penggunaan. Menurut kesaksiannya lagi, ketersediaan spare part cukup sulit. Untuk ini, saya tidak bisa memastikan.

Iklan