Tanpa Titanic, Tak Ada Avatar

James Cameron
James Cameron
James Cameron adalah sedikit dari sutradara Hollywood yang benar-benar memiliki visi. Karyanya mungkin bisa dihitung jari, tapi semuanya dikenang seumur hidup. Ia ciptakan robot yang datang dari masa depan untuk meneror manusia lewat ”Terminator” (1984). Cameron juga gambarkan kengerian monster luar angkasa dalam ”Aliens” (1986). Lewat ”The Abyss” (1989), ia ciptakan kendaraan bawah laut futuristik.

Puncaknya, sutradara kelahiran 16 August 1954 itu membesut kisah drama romantis yang akan dikenang sepanjang masa, ”Titanic”. Dari semua prestasinya itu, mungkin tidak ada yang menyangka bahwa dulunya Cameron pernah menjadi supir truk.


”Saya dulu adalah supir truk full time, dan penulis skenario part-time. Saya ingat bagaimana saya harus menulis dengan sembunyi-sembunyi agar sopir yang lain tidak ada yang melihat,” kenang pemilik nama lengkap James Francis Cameron itu.

Ia sendiri tidak menyangka bahwa profesi sutradara bisa menjadikannya begitu populer. ”Mulanya saya hanya berharap bisa bekerja di belakang layar saja. Nah, ketika orang mulai mengenal saya di luar venue dimana film saya diputar, itu menjadi aneh,” ceritanya. Puncaknya, kata Cameron, setelah penganugerahaan Academy Awards pada 1998 untuk film ”Titanic”. ”Rasanya setiap orang di Los Angeles mencari saya,” ujarya terkekeh.

Karena karya-karyanya begitu berpengaruh, Cameron lantas dibanding-bandingkan dengan nama besar George Lucas dan Steven Spielberg. Tentu, menjadi impian para sutradara untuk memperoleh status seperti mereka.

Menurut Cameron, kuncinya adalah membuat sesuatu yang benar-benar baru dan radikal. Meski, ia sendiri mengakui bahwa track record menghasilkan film laris sangat membantunya meyakinkan studio sebagai penyandang dana. ”Saya bilang ke mereka (studio), saya tidak pernah menyutradarai film yang merugi. Dan saya tidak sedang memulainya sekarang,” katanya.

Maklum, ”Avatar” tak hanya menelan bujet yang sangat besar, persoalan paling mendasar justru ada pada karakter dalam bentuk Computer-generated Imagery (CGI) dengan wajah biru, mata besar, dan ekor!. Tentu, siapapun setuju bahwa itu bukanlah salah satu resep dasar film sukses.

”Kadang mereka (pihak studio) bertanya, ’apa memang perlu pakai ekor? Saya hanya tertawa,” ujar Cameron. Yang jelas, Cameron mengaku tidak akan bisa mengegolkan ”Avatar” jika tidak ada ”Titanic”.

Dalam 10 tahun terakhir, Cameron mungkin terlihat minim karya. Tapi, ia sama sekali tidak ”menganggur”. Selama itu, ia sibuk mengurusi proyek ambisiusnya, menyutradarai film dokumenter ”Ghosts of the Abyss” (2003) dan ”Aliens of the Deep” (2005). Kedua film itu mengungkap hewan-hewan di dalam laut yang tidak pernah tertangkap kamera sebelumnya.

Ekspedisi tersebut dilakukan sendiri oleh Cameron. Ia bahkan ikut mendanai riset untuk membuat teknologi kamera yang bisa menangkap gambar di kedalaman 3,6 kilometer di bawah laut. ”Kami harus membuatnya karena teknologi itu memang tidak eksis,” kata Cameron. Karena itu, Cameron merasa heran jika ada yang bertanya kemana saja ia selama ini. ”Saya sangat-sangat sibuk,” katanya tersenyu.