Luar biasa ”Avatar”. Film fantasi 3-D ini diprediksi bakal mengukir sejarah, menjadi karya besar kedua sutradara James Cameron setelah ”Titanic” yang dirilis 12 tahun silam.

Empat bulan sebelum ”Avatar” resmi tayang serentak di seluruh dunia, penulis/sutradara James Cameron, 55, sempat memperlihatkan fotaage (cuplikan) 16 menit adegan film tersebut kepada media.

Banyak yang kagum, lebih banyak lagi yang tak sabar dan penasaran. Selain kualitas grafis film ini yang sejak awal didengungkan sangat imajinatif dan realistis, banyak yang ingin tahu terobosan apalagi yang bakal disuguhkan oleh James Cameron.

Dan benar saja, ketika film science-fiction adventure itu akhirnya tayang pekan lalu, sudah banyak yang memprediksi akan sukses. Para pengamat meramal ”Avatar” bakal mencetak pemasukan masif di box office.

”Saya yakin pendapatan film ini nantinya bisa tembus USD1 miliar (Rp9,5 triliun) di seluruh dunia,” ujar pengamat box office Jeff Bock dari Exhibitor Relations Co.


Penantian itu juga dirasakan oleh selebritis Hollywood. ”Cameron adalah satu-satunya orang yang bisa menggunakan special effect lebih dari sekadar efek,” ujar Sigourney Weaver, bintang trilogi ”Alien” yang di arsiteki Cameron. ”Ia (Cameron) menggunakan teknologi untuk memperkuat sisi drama, mempertajam cerita, tapi tetap mengutamakan chemistry para aktornya,” kata Weaver. Dirilisnya Avatar dalam format 3-D, bagi Weaver adalah nilai plus.

Ide membuat film ”Avatar” sudah mengendap di kepala Cameron sejak ia mulai memproduksi ”Titanic” pada 1994. Namun, tawaran dari studio untuk merealisasikan ”Avatar” sesegera mungkin ditolaknya karena merasa teknologi yang ada saat itu belum mampu mewujudkan imajinasinya.

”Avatar” disyut menggunakan kamera 3-D ganda yang teknologinya digagas Cameron bareng rekannya Vince Pace. Butuh waktu 10 tahun bagi keduanya untuk menyempurnakan terobosan teknologi di dunia film itu. ”Ini proyek besar Cameron, bahkan mungkin yang terbaik,” ujar Bill Mechanic chairman studio Fox.

Bujet produksi ”Avatar” pun sangat masif, mencapai USD230 juta. Bujet itu berada dibawah ”Pirates of the Caribbean: At World’s End” sebesar USD300 juta dan ”Spider-Man 3” sekitar USD258 juta sebagai film termahal yang pernah dibuat.

Total bujet yang dikeluarkan Fox, Dune Entertainment serta Ingenious Film Partners untuk memproduksi dan mempromosikan film itu sendiri mencapai USD380 juta. Menurut Tony Wible dari Janney Montgomery Scott LLC, ”Avatar” setidaknya membutuhkan pemasukan hingga Rp400 juta di Amerika dan Kanada dan USD500 juta (global) agar bisa untung.

Di Amerika, ”Avatar” akan diputar dalam 3,300 bioskop, sekitar 2,100 diantaranya sudah dibekali teknologi 3-D. Menurut penjual tiket online MovieTickets.com, 78 persen pembeli tiket ”Avatar” adalah kaum pria. Fandango.com mencatat angka sedikit lebih rendah, 68 persen.

Kalau benar pendapatan ”Avatar” bakal menembus angka USD1 miliar secara global, maka akan bertolak belakang dengan ”Titanic” (1997) yang sebagian besar penontonnya adalah kaum hawa. ”Titanic”, peraih penghargaan tiga Oscar itu mencetak rekor sebagai film paling laris di dunia dengan pendapatan global USD1.8 miliar.

Di Indonesia, demam ”Avatar” lumayan terasa, meski tak seheboh ”2012”. ”Tadinya enggak tertarik nonton ’Avatar’, tapi ada apa ini orang-orang pada nonton, jadi penasaran,” ujar Farida Susanty lewat akun Twitter-nya.

Sutradara film/penulis skenario Joko Anwar bahkan mengaku sudah menonton ”Avatar” dua kali. ”Luar biasa. James Cameron mampu memadukan berbagai hal dalam film ini hingga menjadi tontonan yang asik,” ujar Joko, yang menyutradarai ”Pintu Terlarang”. ”Ceritanya simpel, tapi disajikan sangat baik,” ia menambahkan.

Menurut Joko, penonton Amerika sangatlah antusias untuk menonton. Tak heran pekerja film Hollywood berani jor-joran mengucurkan dana besar untuk membuat film. Karena keuntungannya bisa berlipat-lipat. ”Di Indonesia, penontonnya belum ada. Disuguhi film serius dikit, penonton langsung kabur,” kata pria kelahiran Medan, 2 Januari 1976 ini.

Hal senada diutarakan Anita. Meski tak begitu menyukai film fantasi, ia berpendapat bahwa karya James Cameron akan menjadi pijakan bagi film maker lainnya untuk meniru efek spesial ”Avatar” yang kualitasnya diatas rata-rata. ”Bagus sekali!,” katanya.

Kritikus film Kenneth Turan dari Los Angeles Times menyebut bahwa ”Avatar” adalah film yang sangat boyish, menyajikan petualangan yang digemari kaum pria, plus sedikit imbuhan romantisme. Agregat ulasan film RottenTomatoes.com pun memberikan 83 persen ulasan positif terhadap film ini.

Keberuntungan Zoe dan Sam

Popularitas ”Avatar” menjadi berkah bagi dua aktor utama film tersebut, Zoe Saldana dan Sam Worthington. Banyak yang menyebut bahwa keduanya bakal terus bersinar. Sudah banyak studio dan sutradara yang tertarik untuk meminang mereka.

Zoe dan Sam termasuk beruntung. Zoe, misalnya, dipercaya menjadi salah satu bintang ”Star Trek”. Sementara Sam juga bermain dalam ”Terminator Salvation”. Keduanya sama-sama film fantasi, berbujet tinggi, dan menjadi hits di box office.

Sekarang, mereka disatukan melalui karya besar James Cameron, sebuah dongeng di abad ke-22 dimana manusia berusaha menginvasi sebuah dunia bernama Pandora. Di dalamnya, ada suku Na’vi yang diperankan oleh mereka berdua.

Yang menarik, James Cameron sebenarnya sudah mengkasting mereka di ”Avatar” jauh sebelum Zoe membintangi ”Star Trek” ataupun Sam di ”Terminator Salvation”. Apakah ”Avatar” membuat mereka populer bahkan jauh sebelum filmnya dirilis?

”Saya mengatakan kepada Sam, ’kamu bisa jadi bintang film besar’ begitu ia menyelesaikan syuting ’Avatar’,” kenang James Cameron. ”Dan Zoe berperan bagus sekali di ’Star Trek’,” ia menambahkan.

Di ”Avatar”, Worthington menjadi Jake Sully, mantan marinir yang kehilangan kedua kakinya. Dia lantas mengikuti Program Avatar yang mengubahnya menjadi mahluk yang disebut Na’vi. Ini adalah cara manusia untuk mendapatkan mineral kaya energi di planet Pandora, tempat tinggal suku Na’vi.

Sementara Zoe sendiri menjadi Neytiri, suku Na’vi asli yang menjadi teman Jake. Dari situ mereka lantas jatuh cinta. Sampai akhirnya Jake dihadapkan pada pilihan, membela Na’vi atau bangsanya sendiri?

Cameron men-syut adegan di Pandora dengan teknologi rekam-gerak. Gerakan serta ekspresi para aktor direkam melalui kamera digital. Hasilnya lantas diolah dan ditambahkan efek melalui komputer.

Sam memang sempat tampil dalam bentuk manusia utuh di adegan-adegan awal film (sebelum ia berubah menjadi suku Na’vi). Namun, sepanjang film Zoe hanya tampil dalam bentuk animasi komputer saja.

”Ya, awalnya saya sedikit kaget begitu tahu yang ada di layar bioskop bukanlah wajah asli saya, melainkan rekayasa komputer. Tapi hanya sebentar, setelah itu juga menghilang,” kata Zoe. ”Saya mengerti bagaimana teknologi bekerja, juga intregritas James untuk menjaga akting kami. Begitu menonton, saya merasa benar-benar ada di dunia Pandora, meski sebenarnya tidak disana,” ia menambahkan.

Sam juga mengungkap bahwa akting yang dilihat penonton benar-benar ia lakukan. ”Teman dekat saya bilang, ’wah, itu memang kamu, karena saya bisa melihat senyummu!’,” kata Sam.

Karir cemerlang sudah menanti Zoe, 31. Ia sudah terlibat dalam film-film box office seperti ”Pirates of the Caribbean: The Curse of the Black Pearl”, ”Guess Who”, ”The Terminal”, ”Drumline”, dan ”Star Trek”. Ia kini sedang bersiap menggarap film baru bertajuk ”The Losers”.

Sam, 33, adalah lulusan National Institute of Dramatic Art, Australia. Ia mendapat kecil dalam film ”Hart’s War” dan ”The Great Raid”. Sempat pula ikut audisi menjadi James Bond di ”Casino Royale”, namun kalah dari Daniel Graig. Proyek terbaru Sam nantinya adalah ”Clash of the Titans”. Jika ”Avatar” terbukti sukses, Cameron mengaku sudah menyiapkan dua sekuel. Tentu saja, ini berarti proyek baru untuk Zoe dan Sam.

Iklan