as_moto_twitter_630 Teknologi selalu jadi pedang bermata dua. Facebook, di satu sisi, tak hanya mempertemukan saya dengan teman-teman lama. Tapi juga membuat hubungan kami menjadi tidak berjarak.

Sekadar mengomentari status, misalnya, paling tidak sudah bisa menunjukkan interaksi atau kepedulian kita terhadap seseorang, yang mungkin sudah lama tidak bertemu. Silaturahmi pun tetap berjalan.

Atau, saya juga bisa mengetahui kabar dari teman-teman yang lama tidak bertemu–bahkan tidak pernah bertemu lagi– hanya dengan membaca statusnya. How cool is that.

Tapi gara-gara kemudahan itu juga orang jadi mengaburkan batas sejauh mana akses terhadap teknologi ini normalnya dilakukan.

Well, saya sudah sering mendengar komentar bagaimana orang lebih suka berkomunikasi dengan internet messaging seperti YM atau BBM daripada menelpon. Lebih mudah dan murah, katanya.

Bukti lain, udah tau lagi ngumpul bareng teman di kafe, eeh tetep aja ngga bisa jauh-jauh dari BlackBerry-nya. Entah buat update status, ngecek msg YM atau BBM, atau cuma menengok status di FB atau Twitter. Tak heran banyak yang menyebut seseorang “autis” karena terlalu asyik dengan handsetnya.

Jeez, dunia virtual seperti The Matrix kayaknya bakal datang lebih cepat. FYI, ilmuwan di Amerika sedang mengembangkan teknologi Ray Tracing yang hasilnya kira-kira membawa kita ke dunia khayalan seperti Matrix, walau masih belum sempurna.

Dan lihat premis film terbaru–ah saya lupa– yang pokoknya bercerita soal manusia yang menciptakan inang. Jadi dia mengintegrasikan otaknya ke sebuah inang (manusia juga), sehingga bisa menjadi orang lain, sementara tubuh aslinya tetap dirumah.

Well anyway, itu lain soal. Tapi intinya kurang lebih seperti itu. Teknologi, bisa dimanfaatkan dengan positif, atau mudah sekali menjadi negatif.

Dan jangan salah, saya dan pacar juga mengalami masalah yang sama. Lagi asyik dinner di restoran, eeh, tangan udah gatel aja buat ngutak-atik BB, sementara dia dengan Nokia E71nya.

Bahkan, dia mengomentari status Twitter yang baru saya buat, padahal saya ada di sampingnya. OMG how absurd is that. Hahaha.

Oke, mungkin setelah ini kami akan membuat perjanjian untuk tidak menyentuh BB/ponsel saat sedang bersama, kecuali ada text atau panggilan telpon. Jangan sampai kami sedang berhadapan tapi mengobrol lewat YM atau hanya berbalas status Twitter. Jangan sampai teknologi menjadikan saya sebagai budaknya deh. Phew.

NB: saya jarang ngeblog karena–entah kenapa– wordpress di kantor di blok. Tapi, saya baru saja menemukan aplikasi WordPress untuk BB yang ternyata sangat praktis dan handy.

Iklan