transformers-2-shia-labeouf-and-bumblebee Peralihan dari SMP ke SMA memang bikin saya shock. Ternyata, jadi cowok itu harus punya identitas. Pilih, mau jago di musik, olah raga, pecinta alam, bela diri, otomotif, atau lainnya.

Saya baru tau juga, kalau ternyata tempat parkir sekolah itu jadi ajang pamer ketajiran orang tua masing-masing. Buktinya, enggak cukup tuh bawa mobil bagus ke sekolah, tapi musti diceperin, ditambah spoiler depan, side skirt, ganti velg 17 inci, kasih knalpot ngebronk, plus amplifier dengan speaker 7 inci yang suaranya bisa bikin orang pup di celana.


Saat itu saya sih nggak terlalu tertarik sama dunia "otomotif" karena lagi asik-asiknya ngeband dan maen musik. Toh, saya juga enggak punya mobil bagus yang bisa dipamerin. Saya memang punya mobil, tapi enggak bagus dan enggak bisa sok-sokan dimodifikasi gaya gitu deh.

Bergaul dengan teman-teman yang "bermobil" ternyata membawa kesimpulan baru: ternyata naek mobil bagus itu enak yah. Lebih enak lagi, sambil dibuat pacaran. Dan tentu saja, girls dig car, a lot. Mendapatkan cewek jadi lebih mudah. Meski, pada akhirnya saya tetap bisa mendapatkan cewek–yang dikejar cowok-cowok bermobil bagus—hanya bermodal motor. Huehehe.

Menginjak kuliah, orang tua beli mobil enak dan nyaman. Mesinnya belum EFI, jadi tenaganya doyo dan rada boros. Tapi, saya senang karena audio systemnya sudah built-in CD. Saya menikmati benar mengajak pacar saya dulu naek mobil itu. Apalagi di Surabaya yang jalanannya enggak macet. Jalan-jalan dan kencan jadi lebih asik.

Tak hanya itu, begitu senangnya saya naik mobil, saya sering putar-putar kota selama berjam-jam sambil mendengarkan playlist dari band dan penyanyi favorit saya. Entah kenapa, hal bodoh ini rasanya menyenangkan sekali. Rasanya seperti adrenalin saya dipompa pelan secara konstan.

Tapi, karena mobil itu punya orang tua, jadi menggunakannya juga enggak bisa semena-mena. Saya harus "izin" dulu sama papa. Dan entah kenapa, saya menangkap bahwa ayah saya agak kurang suka kalau saya sering-sering pakai mobil. Bahkan dalam hati saya sempat kesal, bukannya mobil itu gunanya kan buat dipake ya?

Tapi wajar juga sih kalau ayah saya marah, karena saya termasuk pengguna yang tidak bertanggung jawab. Habis make enggak dicuci atau dibersihkan, juga kadang suka ceroboh. Hehehe.

Udah izin keluarnya susah, membawanya pun harus ekstra hati-hati. Hal terakhir yang saya inginkan adalah membuat mobil itu lecet. Wew, membayangkannya pun enggan.

"Beban mental" yang menumpuk itu membuat saya berandai-andai, duh, enak ya bisa punya mobil sendiri. Yang bisa dipake sesuka hati, di modif sesukanya, di bongkar pasang sesuai keinginan.

Sayangnya, itu cuma rencana. Karena harga mobil mahal sekali. Jadi saya kubur dulu impian itu dalam-dalam, seperti Davy Jones menyimpan jantungnya dalam sebuah peti terkunci, dan menguburnya ke pulau tak berpenghuni. Hey, what do you expect? Saat itu saya belum lulus kuliah! Berkerja pun statusnya masih magang.

Belakangan, ketika saya merasa semua kebutuhan tersier saya sudah terpenuhi, tiba-tiba saya ingat dengan secuil impian yang dulu membuat saya tidak bisa tidur. Impian itu, sekarang kembali menari-nari dan menggelitik ulu hati. Apalagi, beberapa tahun terakir ini saya ditempatkan di desk otomotif. Kecintaan dan pengetahuan saya terhadap mobil dan dunia otomotif bertambah pesat.

Saya semakin yakin bahwa mobil menunjukkan karakter dan identitas seorang pria. Lihat saja di film-film crime, detektifnya selalu terlihat keren dengan mobil-mobi yang–juga keren sih. Wkwkwkwk.

Sekarang, impian itu nyaris tak terbendung. Sudah bergejolak. Duh, bagaimana sih rasanya punya mimpi yang diidamkan sedemikian lama, coba diraih dengan keringat dan kerja keras, samar-sama mulai terlihat, dan semoga bisa diraih.

Jadi, jangan, sekali lagi jangan, pernah lagi menggurui saya soal "investasi itu lebih baik rumah atau tanah dulu lah" atau "harga mobil nantinya bakal terus-terusan turun lho". Karena saya tidak setolol itu untuk tidak menyadari logika yang paling mendasar tersebut. Karena setiap orang yang mengatakan hal itu kepada saya, membuat hati ini sakit dan tersinggung. Rasanya, seperti ada yang ingin membunuh mimpi saya.

Iklan