collage3 Setahu saya, Kopitiam di Singapura itu identik dengan gerai-gerai kecil di pinggir jalan yang menyajikan menu makanan breakfast seperti roti, toast, atau telur, serta minuman semacam kopi, teh dan sejenisnya. Lha wong kalau dibahasa Indonesiakan Kopitiam itu artinya warung kopi. Tapi pacar saya ngeyel, “ada nasi gorengnya juga kok, lumayan enak,” katanya. Siang-siang perut lapar, tentu saja saya berharap menu yang “berat”.

Uh oh, benar saja. Ternyata Kopitam Oey memberikan peraturan yang agak strict soal menu. Menu breakfast, hanya boleh dipesan pagi saja. Begitu pun sebaliknya dengan menu untuk lunch dan dinner. Padahal, bagi saya menu makan siangnya tidak ada yang “berat”. Hanya ada Gado-gado, Lontong Cap Gomeh, dan Sate Ayam. Ya udahlah, akhirnya kami sama-sama pesan Lontong Cap Gomeh. Well, makanan dan minumannya sih menurut saya lumayan. Meski sedikit agak mahal ya.

KOPI OEY 1 800px-CoffeeShopSG Tapi, konsep tempatnya sih oke. Dinding berhias art deco, serta ruangan yang kecil (maks 40 orang). Justru menurut saya keunggulannya ada pada varian minumannya. Rata-rata kopinya disedu dengan cara menyaring (kopi-o). Cukup banyak juga varian teh seperti mint dan talua.

Tapiiii, kalau memang konsepnya seperti itu, Kopitiam Oey kurang mengakomodir sensasi ber-kopitiam karena tak menyediakan tempat untuk merokok. Hueheu. Seingat saya sih, keasyikan Kopitiam itu karena letaknya yang outdoor, berada di pinggiran jalan. Lha, kopi kan padanannya dengan rokok dan obrolan. Betul tidak? Tapi ya, tentu saja tidak bisa dibandingkan pinggiran jalan Singapura dan Jakarta. Oh ya dua gambar diatas adalah perbandingan antara Kopitiam Oey dan salah satu Kopitiam di Singapura.

Field Report (FR):
Yang dipesan: 2 Lontong Cap Gomeh, 1 es teh manis, 1 mint tea, dan 1 kroket.
Place : 7,5
Food : 7,5
Service: 7
Satisfaction rate : 7,5
Akan kembali lagi: mungkin (ngga bisa ngerokok)
Damage Cost (DC): 94 k

Iklan