Sour Sally

IMG00165_phixr Di Jakarta tren memang tidak melulu soal fesyen, tapi bersliweran juga di ranah makanan pengisi perut. Setelah kopi dan donat, sekarang kaum urban Jakarta (tsah!) sedang gandrung frozen yoghurt atau fro-yo.

Salah satu alasan fro-yo digandrungi katanya karena fat free. Bisa makan enak, tapi tetap tidak gendut. Premisnya kira-kira seperti itu. Biasalah, orang Indonesia kan senangnya serbagampang dan serbainstan. haha.

Well, anyway, mungkin sudah rada telat saya menulis ini sekarang, karena trennya sendiri sudah bermula sejak berbulan-bulan lalu.

Tapi ya sudah lah. Karena saya sendiri termasuk penggemar yoghurt, akhirnya ajang incip-incip dimulai dengan J.Cool, fro-yo keluaran J.Co milik Johnny Andrean itu. Sensasi mencoba pertama, cukup lumayan lah. Yoghurtnya tak terlalu asam, liat, mirip es krim. Sensasi ketika dikombinasikan dengan topping longan dan almond, cukup fun. DC (damage cost) sekitar Rp25 ribu. Dengan rincian Rp15 ribu per porsi/cup dan tambahan Rp5 ribu/topping.

Kemarin, setelah makan bersama pacar di Grand Indonesia, akhirnya kami melangkahkan kaki ke Sour Sally, yang disebut-sebut sebagai fro-yo paling happening di Jakarta saat ini. Saya pesan yang medium, dengan topping longan, mangga, dan almond. Sementara pacar pesan small dengan topping longan dan peach.

Hasilnya, menurut saya Sour Sally lebih enak. Karena rasa asam yoghurtnya lebih terasa. Lebih orisinil :p. Cukup asyik pula saat dikombinasikan dengan buah-buahan yang manis. Sayangnya, saya agak terkejut ketika lihat DC Rp70 ribu (berdua). Bah, mahal sekali.

Bukannya apa, saya fine-fine aja membayar mahal untuk es krim di Gelato, Gelare, ataupun Coldstone karena memang sensasi rasa es krim di ketiga gerai itu selalu membuat lidah saya terkejut.

Tapi, membayar lebih dari Rp40 ribu untuk satu cup yoghurt kecil dengan irisan buah mangga, longan,dan kacang almond menurut saya terlalu berlebihan. Apalagi, dengan egoisnya Sour Sally tidak menyediakan tempat duduk buat konsumen untuk menikmatinya, haha. Mental kapitalis.

Jadi kesimpulan terakhir, Sour Sally is highly overpriced and overrated. Sama sekali tidak membuat saya ingin kembali kesana. Memang, ada satu fro-yo lagi, Heavenly Blush. Tapi ah, rasanya saya sudah tidak terlalu tertarik dengan what so called fro-yo ini. Tak lama lagi paling orang juga bakal cepat bosan. Berbeda dengan es krim yang tidak mengenal tren. Dari dulu sampai sekarang masih tetap dicintai, terutama oleh saya. Hahaha.


Tinggalkan komentar...



Categories: Makansutra

6 replies

  1. Setuju Bro..
    Sour Sally kayanya ga worthed deh.. Mahaal euuyy…
    Qeqeqe..
    Pertama kali nyobain pas ada sodara dateng… Pas lewat sour sally.. “Ini lagi nge trend loo fro yo.. mau coba? Mo pesen brapa ?” Ngitung .. liat harga.. ngitung lagi.. liat harga.. ” 3 aja lah ya.. kita makannya barengan”.. Wakakaka… Mo nraktir kok pelit..

    Aku sih lebih milih J.Cool reasonable price and sweeter..

  2. iya nduk, aku juga males kesana lagi. kalo J.Cool mungkin masih pengen balik. btw, rafi suka yang mana? hehehe.

  3. saatnya gaji ditambah ben tuku Fro-Yo gak kerasa mahal ya gak om……:D

  4. LanjutGan!

  5. ya ampun situ aja yg terlalu pelit. zzzz. cowok kok pelit. iuhh

  6. hahaha. iya, gue pelit banget kalo sama Sour Sally. iuuhhh

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: