n1225200704_30221745_5988Kematian Michael Jackson—Jacko—berimbas global di ranah internet. Situs pencari Google rusak 35 menit karena terlalu banyak pengakses internet mengetik kata “Michael Jackson”. User Wikipedia berlomba mengedit artikel tentang Jacko, sementara situs mikro blogging Twitter kewalahan mengakomodir 66.500 tweet 1 jam sejak laporan Jacko dilarikan ke rumah sakit.

Di berbagai belahan dunia, orang-orang pun menyampaikan duka mereka melalui telepon, SMS, email, Twitter ataupun Facebook kepada si King of Pop.

Memang wajar-wajar saja, jika kemudian seseorang menjadi fans tokoh, selebritis, band, atau public figure tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa rasa keterikatan dengan selebriti tanpa harus saling kenal bisa memberikan dampak positif. Apa itu? Setelah di survey, para subyek yang memiliki rasa percaya diri rendah ternyata cenderung melihat para selebriti favoritnya memiliki citra kepribadian idaman.

Rasa kekaguman ini lantas menjadi alat bantu untuk merenung dan langkah-langkah mental lainnya, seperti merubah energi frustasi menjadi kekuatan positif. Setidaknya itu yang saya dapat dari sini. Well, waktu menginjak remaja, semua pasti pernah merasakan kekaguman begitu dalam, atau istilahnya ngefans, pada seseorang hingga akhirnya mengoleksi fotonya, memajang posternya, dan lain-lainnya.

Dulu saya sempat seperti itu kepada…Dian Sastro. Tepatnya sejak SMA, Ha-ha-ha. Saya menganggapnya sebagai tipikal wanita idaman saya. Cantiknya udah pas, nggak kurang lagi. Pintar juga, berbakat lagi. Saya tonton semua filmnya, sampai bisa ketemu, berfoto, dan mewawancarainya langsung. Ya, ketika pertama kali bertemu dengannya saya hanya speechless, menyodorkan rekorder sambil melongo.

Pevita Pearce_ Yulianto (12) Sambil ”ngefans” Dian Sastro, saya ”ngefans” juga dengan Mariana Renata. Ho-ho-ho. Tapi nggak se-ngefans Dian, karena dia jarang muncul. Saya sempat dua-tiga kali bertemu dengannya dan…speechless juga. Cantiknya memang maksimal.

Eeeh, belakangan ini perasaan “ngefans” itu muncul lagi. Kali kali ini pada…Pevita Pearce. Ha-ha-ha. Secara fisik, ini cewek yang mewakili “tipe saya banget”. Lancip-lancip, rambut panjang, dan senyum yang meluluhkan hati (oke, saya mulai berlebihan). Ada kesamaan nggak sih antara ketiganya? Dian, Mariana, dan Pevita?

Anyway, saya sudah aware saat melihatnya sekilas di Lost in Love. Tapi, tak sempat saya menonton film itu.

Nah, kemarin setelah browsing-browsing di YouTube soal Pevi, wahaha, makin ngefans saja sama gadis kelahiran Jakarta, 6 Oktober 1992 ini. Lucu banget. Oke, mungkin saya akan mulai dengan menonton film-filmnya dulu. Nanti kalau dia main film baru, saya akan meliput konferensi persnya. Karena saya terus terang belum pernah bertemu langsung. He-he-he.

Iklan