incredibles”Kalau anak bungsu, ya cocoknya sama anak sulung,” kata ibu saya suatu waktu. Perkataan yang mulanya saya anggap enteng itu lama kelamaan mengendap di kepala.

Benar juga ya. Dari dulu, pacar-pacar saya tidak pernah tuh berasal dari anak bungsu, selalu sulung atau tengah. Lebih ekstrim lagi, usia mereka bahkan selalu lebih tua dari saya. Dan ya, ketertarikan saya nol terhadap cewek-cewek ABG. hihihi. Ini mungkin menjelaskan sifat bawaan saya yang egois, self-centered, dan semaunya sendiri.

Ternyata, teori ibu saya-dan mungkin kepercayaan sebagian orang tua-terhadap urusan mencari pasangan hidup ini sudah diteliti oleh pakar pernikahan Kevin Leman. Leman bahkan menyebut bahwa urutan kelahiran tak hanya bisa mempengaruhi perilaku seseorang dalam menjalin hubungan kasih sayang. Tapi juga bagaimana cara bersosialisasi, cara berbisnis, perspektif hidup, dan lain-lainnya.

Memang, teori ini tidak mutlak dan jadi jaminan kebahagiaan. Karena masih banyak faktor yang ikut berperan. Bahkan orang tua saya sendiri sulung-sulung,–meski jarak usia keduanya cukup jauh–. Dan sampai saat ini mereka masih saya anggap sebagai pasangan paling romantis.

Meski tidak mutlak, tapi saya pikir pengaruhnya sangat besar. “Jika Anda ingin bahagia dalam pernikahan, cari pasangan yang berbeda dari posisi Anda. Semakin jauh semakin baik” kata Leman. Dan semuanya bisa dilogikan kok. Tulisan ini saya dapat di milis, tapi diringkas saja.

Sulung + Sulung , Tunggal + Tunggal = Perebutan kekuasaan
Berpeluang besar untuk sering bertegang urat. Masing-masing senantiasa suka berkeras dalam menentukan siapa pemberi dan penerima perintah.

Sulung + Tengah = Paradoks
Sebagai anak yang memiliki kakak dan adik, anak tengah terbiasa berkompromi, bernegosiasi dan tidak terbiasa mengungkapkan perasaannya.

Sulung + Bungsu = Happy Ending
Riset terhadap tiga ribu pasangan membuktikan bahwa pasangan ini secara alamiah tertarik satu sama lain. Anak sulung mengajarkan hal-hal seputar prinsip hidup dan rencana masa depan, sedangkan anak bungsu membantu pasangannya untuk lebih santai dalam menghadapi hidup. Saling melengkapi.

Tengah + Tengah = Kacau?
Kelemahan pasangan ini terletak pada komunikasi yang terhambat. Keduanya menghindari kemungkinan perdebatan dan masing-masing juga cenderung merasa kalau pendapatnya tidak begitu penting.

Tengah + Bungsu = Aman
Kemungkinan sukses kombinasi ini sangat besar, karena merupakan campuran dari
si negosiator dan si makhluk sosial. Entah bagaimana rumusnya, tetapi jika
mereka disatukan akan terjadi komunikasi yang sangat lancar.

Bungsu + Bungsu = Kalang Kabut
Sama egois dan acap saling menyalahkan. Tingkat friksi dan konflik lebih besar. Harus ada pihak yang mau mengalah.

Ohya, setelah saya amati lagi dari lingkungan pergaulan (peer group) saya dan teman-teman saya, urutan kelahiran ini juga cukup berpengaruh terhadap bagaimana seseorang mencari sahabat dekat. Saya, misalnya, merasa lebih nyaman di lingkungan sahabat dengan urutan kelahiran sulung, meski tidak mutlak.

Menghadapi anak bungsu, jelas saya harus berdamai dengan ego, dan sifat-sifat saya lainnya. Lebih banyak bersabar dan bertoleransi. Rasanya seperti saya menjadi pribadi yang berbeda. Tapi, jika berinteraksi dengan sulung, rasanya lebih nikmat. Saya bisa menjadi diri sendiri. Lebih bebas dan plong.

Iklan