Dua Hari, Delapan Pulau

Apetite (4)Snorkeling dan diving bukanlah tujuan utama saya saat bertamasya di kepulauan Karimunjawa, kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Dengan 27 gugusan pulau kecil yang siap dijelajahi, island hopping justru menjanjikan adiksi lebih besar.

Jika Three Gillis (Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air) di Lombok, NTB, sudah Anda anggap kehilangan daya pikatnya, maka sudah saatnya mengalihkan tujuan wisata ke Kepuluauan Karimunjawa, yang disebut sebagai surganya para pencari pulau (island seeker).

Dan jika Anda merasa pernah mendengar Karimunjawa dari promosi mulut ke mulut, itu karena untaian pulau-pulau kecil ini memiliki daya pikat magnetis. Begitu pulang, sudah tak sabar untuk datang lagi. Tapi, kalau memang digambarkan begitu elok, kenapa Karimunjawa tidak sepopuler Bali atau Lombok, misalnya?

Jawabannya cukup pelik. Pertama, karena keterbatasan transportasi. Karimunjawa dapat dicapai dari Semarang lewat pelabuhan Tanjung Mas, atau dari Jepara lewat pelabuhan Kartini. Kapal menuju kesana tidak berangkat setiap hari.

KMC Kartini I hanya berangkat dari pelabuhan Tanjung Mas setiap Sabtu pukul 9.00 WIB dan Senin pukul 7.00 WIB. Sementara KMP Muria di Jepara berangkat setiap Sabtu pukul 9.00 WIB dan Rabu pukul 9.00 WIB.

Jika ingin kembali dari Karimunjawa, lagi-lagi harus menyesuaikan jadwal kapal yang berangkat setiap Minggu dan Selasa (KMC Kartini I) atau Senin dan Kamis (KMP Muria). Terbatasnya waktu kunjungan inilah yang membuat penduduk Karimunjawa tetap bermata pencaharian utama sebagai nelayan, tidak menggantungkan diri pada sektor pariwisata. Selain tentu saja persoalan klise bahwa sektor pariwisata di kawasan tersebut belum dimaksimalkan.

Faktor cuaca yang tidak bersahabat terkadang mengikis niat wisatawan yang ingin kesana. Periode November-Maret, laut bisa sangat ganas. Pada awal 2008, misalnya, gelombang besar yang mencapai 2,5 meter membuat Kepulauan Karimunjawa yang berpenduduk 8.600 jiwa itu terisolasi. Tidak ada kapal yang berani kesana.

Karenanya, saya bersama 20-an traveler lainnya sengaja datang di awal April untuk memudahkan hopping dari pulau ke pulau. April-Oktober adalah musim kunjungan terbaik. Maklum, di musim peralihan hujan dan kemarau tersebut air bisa sangat tenang. Begitu tenangnya, konon permukaan laut bisa serata air di kolam.

Terapung di Wisma Apung

Apetite (7)-1Kendati jumlahnya terbatas, tapi Kepulauan Karimunjawa yang berjarak sekitar 134 km di utara Semarang atau sekitar 89 km di sisi barat laut Jepara itu menyediakan beragam jenis akomodasi. Ada pondok tinggal (home stay), wisma, hotel dan resort, serta pondok apung. Jumlahnya ada 40-an di seluruh kepulauan dengan kisaran harga mulai Rp40 ribu-Rp300 ribu per malam.

Rombongan kami memilih menginap di Wisma Apung, yang mengambang di laut lepas antara pulau Karimunjawa dan Menjangan Besar. Fondasi Wisma Apung berdiri diatas laut dangkal. Dibawahnya tersebar koral dan terumbu karang beraneka warna. Kalau mau, tamu bisa langsung meloncat di depan kamar untuk snorkeling, berenang, atau memancing.

Bangunan penginapan dengan 10an kamar AC dan non-AC itu tersusun seutuhnya dari papan-papan kayu. Celah-celah dibawahnya hanya seinci jaraknya dari permukaan laut yang dangkal. Di dalam kamar, gemercik air laut terdengar dari bawah, mengentalkan sensasi tidur terapung diatas kapal.

Asyiknya lagi, Wisma Apung juga menyediakan kolam berisi 10an ekor hiu putih dan hiu pari sepanjang lengan orang dewasa. Sebagian tamu menganggap berenang bersama hiu adalah ”uji nyali” yang wajib dilakukan begitu menginjak Wisma. Meski hiu-hiu kecil itu terlihat harmless, berenang dalam jarak yang sangat dekat tetap saja membuat adrenalin bergejolak.

Ingat, listrik hanya hidup dari pukul 6 sore hingga 6 pagi, mengandalkan tenaga seutuhnya dari generator. Ini momen yang tepat untuk men-charge ponsel atau kamera digital. Jadi, selamat saja bagi mereka yang kamarnya dekat generator. Siap-siap mendengarkan deru mesin sepanjang malam.

Rencana Matang

Apetite (2)Ada 27 pulau di Karimunjawa yang menunggu untuk dijelajahi. Lima pulau terbesar, Pulau Karimunjawa, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Nyamuk, dan Pulau Genting, sudah ditinggali. Sisanya adalah pulau-pulau kecil yang tak berpenghuni, menyimpan keindahan dan misteri.

Sayangnya, banyak traveler melewatkan kesempatan island hopping karena minimnya perencanaan. Dengan jarak antarpulau yang bisa memakan waktu 1-2.5 jam, perencanaan harus tepat. Kita juga harus mem-booking kapal, berikut guide untuk mengantar berkeliling.

Beruntung, Hasim As’ari, tour guide kami, kompak mengikuti keinginan anggota tur yang memang sudah beberapa kali menjejakkan kaki di Karimunjawa. Kami tiba di Wisma Apung pukul 1 siang, dan bergegas mengejar target tiga pulau, yakni Menjangan Besar, Menjangan Kecil, serta Tanjung Gelam.

Pada momen inilah saya merasakan betapa cuaca di Karimunjawa bisa berubah drastis dalam waktu singkat. Waktu berangkat dari Tanjung Mas, Semarang, pagi tadi, langit begitu terik. Tapi, begitu kami tiba di Pulau Menjangan Kecil, mendung tampak menggeliat, bersambut ritik air hujan.

Karena sudah tak sabar, kami langsung meloncat dari kapal, menceburkan diri ke laut untuk snorkeling. Sayang, waktu yang terlanjur sore serta sinar matahari yang bersembunyi dibalik mendung dan hujan, membuat visibility (jarak pandang) jadi terbatas.

Pulau Menjangan Kecil memiliki terumbu karang pantai (fringing reef) yang lebih bagus dari Menjangan Besar. Tak heran, banyak wisatawan yang menyewa glass bottom boat (perahu yang dasarnya dari kaca) untuk menikmati taman laut disana.

Disekitar Pulau Menjangan Kecil dan Menjangan Besar ada bangkai kapal Panama Indono yang tenggelam pada 1955. Kini, reruntuhan kapal yang sudah berubah menjadi habitat ikan itu acap digunakan sebagai lokasi penyelaman (wreck diving).

Karena hujan semakin deras, kami juga membatalkan rencana ke Tanjung Gelam. Benar saja, di perjalanan pulang, kapal motor nelayan yang kami tumpangi dihantam gelombang, dihempas hujan deras. Sementara penumpangnya ditusuk hawa dingin. ”Hari ini kita tidak beruntung. Tapi semoga besok cuacanya membaik,” ujar Ari, sapaan akrab Hasim As’ari.

Pulau Eksotis, Suasana Magis

Hujan bercampur angin yang menebarkan hawa dingin bergulir pada pagi keesokan harinya. Untunglah, kekhawatiran kami sirna ketika matahari bersinar terik tepat disaat kami meninggalkan Wisma Apung untuk memulai island hopping tepat pada pukul 8 pagi.

Tujuan pertama adalah Pulau Cilik, yang memiliki dermaga cantik dan eksotik. Letak Pulau Cilik di sisi barat Pulau Karimunjawa membuatnya menjadi bagian dari zona penyangga Taman Nasional laut Karimunjawa. Pulau-pulau di zona penyangga ini memang digunakan untuk daerah wisata bahari serta aktivitas para nelayan.

Pulau Cilik juga salah satu dari delapan pulau di Karimunjawa yang dimiliki perorangan. Menurut Data dari Balai Taman Nasional Karimun Jawa, pulau tersebut dikelola oleh PT Raja Besi Semarang. Buktinya, memang ada beberapa rumah di pulau itu yang sesekali disinggahi pemiliknya. Keempat pondok yang berjarak beberapa meter dari pantai berpasir putih lembut dan masih alami itu dijaga dan diurus oleh satu keluarga nelayan yang tinggal disana.

Lupakan dulu soal pantai, karena tujuan kami berikutnya, Pulau Tengah, menunjukkan keindahan taman laut Karimunjawa sesungguhnya. Ya, pulau ini termasuk primadona karena kelestarian terumbu karang di dalamnya masih terjaga.

Apalagi, struktur tanahnya sloppy, menurun kebawah. Ini membuat pemandangan bawah laut terlihat jauh lebih indah. Ikan-ikan beraneka warna bergerombol, juga bersembunyi di terumbu karang pantai tepi (fringing reef). Sinar matahari menembus kedalaman laut, menyinari koral, memendarkan warna ikan. Pemandangan yang luar biasa cantik dan layak dikenang.

Apalagi, di Pulau Tengah juga tidak ada sea urchin atau bulu babi, binatang laut berduri seperti landak yang tersebar di pulau-pulau kecil Karimunjawa. Dan karena ia hidup di perairan dangkal, sering penyelam tertusuk duri bulu babi yang beracun. Cara menyembuhkannya cukup unik, disiram urine manusia karena mengandung amoniak untuk menetralisir racun.

Di Pulau Cendekian dan Pulau Cemara Besar, kami disambut padang lamun (seagrass), yang sekilas terlihat seperti hamparan kehijauan di bibir pantai. Seagrass tak hanya jadi tempat hidup ikan, kepiting, atau bulu babi. Pelengkap ekosistem mangrove dan terumbu karang ini juga mencegah erosi, serta memperlambat gerakan air akibat arus dan ombak, sehingga perairan menjadi tenang.

Pulau Cemara Besar mungkin tidak memiliki taman laut seindah Pulau Cendekian. Tapi, kesan paling indah justru ada di Cemara Besar, saat kami menyusuri padang Lamun dan makan siang diatas gundukan pasir di bibir pantai.

Di Pulau Cemara Kecil, kami disapa alang-alang, bakau, karang batu, semak belukar, serta pohon kayu stigi. Pulau ini paling kotor. Di sekitarnya tersebar ada ranting pohon, dan sampah yang hanyut. Bahkan, ada banyak sendal yang kehilangan pasangan. ”Katanya, pulau ini digunakan untuk dugem oleh para bule,” ujar Ari, tour guide kami.

Rombongan akhirnya mengakhiri hari di Tanjung Gelam. Disana, dipayungi pohon kelapa, kami menunggu sunset. Dalam perjalanan pulang, kami mengalami sendiri bagaimana air laut menjadi begitu tenang, seperti air kolam, menciptakan suasana yang magis. Tak terasa, sudah 8 pulau yang kami singgahi. Lain waktu, saya berjanji akan kembali, menyusuri pulau-pulau yang tersisa. (*)

* artikel ini dipublikasikan di majalah Appetite Journey edisi Mei 2009.