prayerDan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi-Ku, dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Setelah lama tidak sholat, dan kemudian menunaikan lagi, saya tersadarkan kembali dengan satu hal: kenikmatan berdoa. Momen beberapa menit setelah salam itu saya rasakan sebagai waktu terdekat manusia dengan Tuhannya.

Momen itulah saat manusia bisa “curhat” kepada Sang Pencipta soal problematik, keinginan, perasaan, pikiran, yang ia hadapi dalam kehidupan ini dengan sangat tulus. Dengan berdoa, kita seperti mendapat energi baru untuk menjalani kehidupan, menghadapi masalah, serta mengejar mimpi.

Doa merupakan naluri manusia yang tumbuh berlembaga, sadar atau tidak sadar manusia terdorong untuk harus melaksanakannya; sama seperti bernafas, makan dan minum. Ketika kita benar-benar sendiri, tidak ada lagi tempat untuk berlari selain kepada Tuhan.

Sampai SMA pun, saya masih sering menunaikan sholat malam untuk berdoa lebih khusyuk, lebih dekat dengan Tuhan. Tapi, makin bertambah umur, jarak saya dan Tuhan justru semakin jauh ya. Apalagi setelah datang ke Jakarta.

Karena itu, terkadang saya tak habis pikir. Begitu jauhnya saya dengan Tuhan, tapi begitu murahnya Dia memberi segala kemudahan dalam kehidupan saya. Terkadang saya juga merenung, bertanya-tanya apakah ini karena ibu saya, yang mendoakan siang dan malam demi anak cowok satu-satunya ini. :p

“Kalau kamu sendiri tidak Sholat, doa mama akan sulit nyambungnya,”. Entah, berapa kali orang tua saya mengingatkan pentingnya mendirikan sholat sebagai tiang agama. Tapi, sesering itu pula saya tinggalkan. Saya mendapatkan kedamaian luar biasa saat menjalankannya, merasa utuh sebagai manusia. Tapi, begitu mudah pula saya dekati godaan syetan.

Oh Tuhan, maafkan lah hambamu ini, dan berilah kekuatan untuk selalu berada di jalanmu. Amin.