aku-republikaBioskop 3-D atau 3-D theater menawarkan sensasi menonton jauh lebih seru dan menyenangkan. Tak heran, kedepannya tren menonton dalam bioskop 3-D ini akan terus mengekskalasi.

Film animasi Monsters vs. Aliens belum juga dimulai. Namun, Arief Tri Susanto sudah tidak mampu memendam kekagumannya saat menyaksikan bridging DreamWorks Animation, studio yang memproduksi film tersebut.

Visual yang tersaji di layar memang menakjubkan. Planet-planet kemerahan bertebaran di angkasa. Terlihat tajam dan realistis.
Dan ketika film yang disuarakan Reese Witherspoon, Seth Rogen, serta Hugh Laurie itu benar-benar dimulai, kekaguman mahasiswa Binus University Jakarta ini semakin menjadi.

Benda-benda dari layar yang seolah-olah berloncatan, membuatnya melompat dari tempat duduk. Sensasi itu memang hanya bisa didapat di bioskop 3-D Blitzmegaplex Grand Indonesia yang baru dibuka Rabu (8/4). ”Dibandingkan film 3-D yang pernah saya tonton, sekarang teknologinya jauh lebih bagus. Lebih realistis,” papar Arief.

Ya, di Amerika pun, bioskop 3-D saat ini sedang populer. Salah satu pemicunya adalah kesuksesan Monsters vs. Aliens di tangga box office, mencatat rekor pendapatan hingga USD58.3 juta di minggu pertamanya.

Film yang dirilis dalam format 2D dan 3-D sekaligus itu ternyata mendapat pemasukan besar dari penonton di bioskop 3-D. Padahal, dari total 7,000 bioskop di Amerika, baru 2,080 diantaranya yang mengakomodasi teknologi 3-D.

Para analis menyebut, Monsters vs. Aliens juga bakal mengawali tren film 3-D masa depan, yang tidak lagi terbatas pada genre animasi saja. ”Kedepannya, film 3-D akan mengakomodir genre seperti horor, komedi, bahkan art house. Step Up 3-D, Tron, atau My Bloody Valentine adalah film live-action 3-D,” ujar Greg Foster dari Imax Filmed Entertainment.

Tahun ini, ada lebih dari 10 film yang akan tayang dalam format 3-D. Sekitar 40 lainnya sedang dalam tahap produksi. Kebanyakan dihasilkan oleh studio-studio besar seperti Lionsgate Films hingga Walt Disney Co.
Tak hanya itu, sutradara A-list seperti James Cameron (Avatar), Steven Spielberg (The Adventures of Tintin: Secret of the Unicorn) serta Robert Zemeckis (A Christmas Carol) juga tak sabar untuk menayangkan karya 3-D mereka.

Jika dihitung, bujet produksi film 3-D memang 15% lebih besar. Tapi, studio-studio raksasa Hollywood tetap optimistis karena merasa peluang genre film ini masih terbuka lebar. Selain harga tiket lebih mahal, film berformat khusus ini tidak bisa dibajak karena harus ditonton dengan kacamata khusus.

Teknologi RealD

Berbeda dengan jaringan bioskop 21 yang menggunakan teknologi 3-D Dolby, bioskop 3-D di Blitzmegaplex Grand Indonesia membenamkan teknologi yang disebut RealD. Dampaknya, gambar 3-D jadi terlihat lebih hidup dan cerah. Suaranya pun jauh lebih jernih dan garang.
Untuk menikmatinya, penonton harus menggunakan kacamata 3-D Cinema Eyewear. Kacamata itu memiliki desain stylish, juga lebih nyaman dikenakan untuk mereka yang berkacamata sekalipun.

Apa sebenarnya yang membedakan RealD dengan teknologi di film 3-D sebelumnya? Pertama, RealD menggunakan single digital projector, yakni sebuah sistem proyeksi sempurna bagi film 3-D. Teknologi ini membuat kedua mata, baik kiri maupun kanan, menerima gambar dengan akurasi komplet.

Ini berbeda saat kita menonton film 3-D dengan kacamata plastik yang terkadang membuat gambar terasa lebih gelap. Atau, ada warna-warna tertentu yang lebih dominan di salah satu mata. Sebabnya, kacamata itu hanya melakukan pemisahan warna (color separation).

Nah, lensa 3-D Cinema Eyewear ini membongkar ketidaknyamanan itu dengan melakukan polarisasi warna, sehingga tidak menghambat tergabungnya gambar dengan warna. RealD juga memakai sistem proyeksi stereo pertama untuk bioskop digital. Hasilnya, saat menonton, gambar yang dilihat jadi lebih nyata, jelas, jernih, dengan kualitas suara memuaskan.

Tentu saja, menghadirkan kualitas bioskop 3-D RealD tidak murah. Setidaknya ada tiga elemen yang harus dicukupi. Pertama, proyektor khusus single digital projector yang harganya mencapai Rp1 miliar rupiah.

Hardware berikutnya adalah silver screen, yakni layar abu-abu yang lebih powerful dalam memantulkan cahaya. Efeknya, gambar akan terlihat terang dengan efek 3-D yang jelas.

Elemen terakhir, tentu saja 3-D Cinema Eyewear yang sekilas terlihat seperti kacamata gaya dengan bingkai hitam. Meski ukurannya besar, namun ringan dan nyaman dipakai. ”Kacamata tersebut akan dipinjamkan saat menonton. Untuk harga aslinya mulai USD5-USD26,” ujar Komisaris Blitzmegaplex David Hilman.

Dengan investasi sebesar itu, tak heran jika penonton harus membayar lebih mahal. Di Grand Indonesia, harga tiket hari Senin-Kamis Rp50 ribu, sementara Jumat-Minggu atau hari libur Rp100 ribu. Sedangkan di Mall of Indonesia (MOI), tiketnya lebih murah, yaitu Senin-Kamis Rp40 ribu dan Jumat-Minggu dan hari libur Rp70 ribu.

Targetkan Segmen Keluarga

Apa yang membuat Blitzmegaplex berani menghadirkan bioskop 3-D dengan teknologi terbaru itu? Marketing Manager Blitzmegaplex Dian Sunardi mengaku mendapat banyak permintaan dari penonton. ”Karena itu, akhirnya kami wujudkan,” ujar Dian.

Dengan segmen niche, Blitzmegaplex juga punya beberapa strategi agar bioskop ini bisa bertahan lama. Salah satunya hanya menempatkan bioskop 3-D di lokasi yang dekat dengan kompleks perumahan.

”Sengaja hanya Blitzmegaplex Grand Indonesia dan Mall of Indonesia (MOI) yang difasilitasi, karena lokasinya dekat dengan perumahan. Bioskop 3-D kan lebih banyak menayangkan film animasi, maka kita lebih mengarahkannya ke bioskop untuk keluarga,” kata Dian.

Selanjutnya, direncanakan juga untuk membuat merchandise untuk penonton. Misalnya t-shirt dan topi bertuliskan 3-D. Dalam waktu dekat, merchandise ini akan dipakai oleh para petugas untuk menarik minat pengunjung. ”Bagi mereka yang mencintai film, merchandise seperti ini adalah barang yang harus dibeli,” tambah Dian.

Blitzmegaplex tampaknya sudah matang berhitung tentang fasilitas barunya ini. Apalagi mereka sudah mencatat bahwa tahun ini akan ada 14 film 3-D yang diproduksi Hollywood. ”Sepuluh film diantaranya dipastikan masuk Jakarta. Filmnya mulai dari animasi sampai feature. Jadi kita lihat saja nanti,” kata Komisaris Blitzmegaplex David Hilman.

* Ita, gue pajang tulisan lo yang udah gue utak-atik disini ya. Btw, aslinya cuma mau pamer kalo foto gue masuk Republika Minggu, dan itu bukan bioskop 3D, tapi pas acara Blitz Dinning Cinema. Cuma buat nyambungin aja. huakakaka.

Iklan