childsj-0805-08-105Film dokumenter Mengejar Ombak (Chasing Waves) membuat olah raga surfing menjadi dekat dengan pentonton karena penyajiannya yang hangat, intim, dan jujur.

Film tentang surfing terbagi dua genre. Pertama, kemasan dokumenter yang lebih menyoroti aksi para surfer dalam membelah ombak. Dan kedua, film biasa yang memiliki latar olah raga surfing seperti Big Wednesday, Blue Crush, Point Break, hingga animasi Surf’s Up.

Mengejar Ombak (Chasing Waves) arahan sutradara Dave Arnold dan Tyrone Lebon ini memang mengadopsi genre pertama. Tapi, pendekatan yang mereka lakukan berbeda. Sebuah dokumentar yang character based.

Alasannya, bukan sekadar kehidupan subyek film ini, Dede Suryana, yang memang spesial. Tapi, juga keinginan Dave dan Tyrone untuk membuat film yang hangat dan dekat dengan penonton Indonesia.
Maklum, surfing, seperti halnya skateboard, sejak dulu hanya menjadi sebuah subkultur. Apalagi di Indonesia. Selain kurang diminati, dianggap kebarat-baratan, bahkan tidak bermasa depan. Padahal, industri surfing adalah industri yang sangat besar. Begitupula dengan Indonesia, yang disebut Disneyland-nya para surfer.

Dan untuk mengajak penonton menyadari fakta itu, terlebih dulu kedua sutradara asal Inggris ini menunjukkan kehidupan Dede, seorang surfer asal Cimaja, Jawa Barat. Mengapa harus Dede? Disinilah kejelian Dave dan Tyrone dalam melihat potensi sang surfer.

Dede berasal dari desa kecil di Jawa Barat. Dari sebuah papan selancar bekas, Dede lantas menjadi peselancar terbaik di Cimaja, dan memenangkan berbagai kompetisi. Karena Cimaja tak lagi dapat menampung bakatnya yang terlalu besar, ia mempertajam ilmunya ke Bali.

Dari situlah perjalanan panjang Dede dimulai. Termasuk mengikuti kompetisi internasional seperti Todd Chesser Memorial Contest di Hawai, juga berburu ombak besar di Amerika, hingga Australia. Menariknya, sebagai seorang muslim, Dede memiliki latar belakang konvensional, dan masih menjunjung nilai-nilai tradisional. Friksi-friksi ini melarut dan terus digulirkan sepanjang film.

Soal bagaimana Dede beraksi terhadap tempat dan kebudayaan baru yang ia singgahi; bagaimana ia hidup dalam lingkungan baru; soal keluarga Dede dan lingkungan rumahnya; soal ia menghadap karakter ombak di Hawai yang cepat dan kuat, hingga bagaimana Dede dihadapkan pada pilihan menjadi peselancar profesional yang terus mengejar gelar dan kompetisi, atau menjadi free surfer yang berselancar dengan hati. Sepanjang film, seolah penonton disajikan ke dalam fakta-fakta baru yang mungkin sudah lama ada, tapi tidak pernah disadari sebelumnya.

Mengejar Ombak yang memenangi dua penghargaan di Dance 2009 di Utah, Amerika Serikat ini mengajak penonton mengenal seluk beluk olah raga surfing melalui kisah Dede yang sederhana. Film ini tersaji hangat, intim, inspiratif, dan rendah hati.