cartoonBelum lama sebenarnya, saya menyadari kalau ternyata adrenalin itu bisa begitu adiktif. Melakukan bungee jumping di Bali belum lama ini, diakui atau tidak, membuat percaya diri saya semakin tinggi. Lebih percaya diri karena bisa mengalahkan ketakutan yang teramat besar. Ternyata, setelah itu saya makin ketagihan dibuatnya.

Tapi, apa sebenarnya adrenalin itu? Dan apa sih dampaknya pada tubuh?

Saya jelaskan sejauh yang saya tahu (atau dengan 5 menit googling), ha-ha-ha. Adrenalin, disebut juga epinephrine. Ini semacam hormon atau neurotransmitter, zat kimia di otak yang menghubungkan informasi antarsel saraf otak.

Oke, kita tahu epinephrine adalah hormon. Tapi apa fungsinya? Jika disingkat, Epinephrine berfungsi untuk mengendalikan reaksi stres. Ia muncul ketika tubuh berada dalam ”defense mode”, bereaksi untuk mempertahankan diri.

Tapi, tak selalu juga epinephrine bakal dilepaskan tubuh ketika ia sedang panik atau merasa terancam saja. Perasaan-perasaan tertentu juga bisa membuat tubuh melepaskan hormon ini.

Apa dampaknya? Ketika epinephrine mengalir dalam pembuluh darah bersama hormon lain seperti cortisol, secara berulang-ulang ia memacu tubuh untuk berada dalam kondisi siaga, bersiap untuk menghadapi bahaya.

Caranya? Dengan menggenjot suplai oksigen dan glukosa ke dalam otak dan otot, dan meredam fungsi organ-organ tubuh lain seperti perncernaan.

Epinephrine membuat tekanan darah meningkat, denyut jantung semakin cepat, pupil pada kelopak mata melebar, serta aliran darah ke otot utama juga kian deras. Jadi, sewaktu-waktu tubuh sudah siap untuk diajak berkelahi, atau lari.

Banyak-tidaknya epinephrine yang dikeluarkan tubuh memang tergantung dari trigger atau pemicunya. Wahana seperti Tornado di Dufan, misalnya, membuat epinephrine terpicu lebih banyak dibandingkan saat menaiki roller coaster. Setidaknya buat saya.

Dalam satu dan lain hal, epinephrine ini berkaitan juga dengan bagaimana seseorang menghadapi hidupnya. Ada orang-orang tertentu yang bekerja lebih baik dibawah tekanan, stres, atau waktu yang sempit. Terkadang mereka justru berusaha menciptakan drama di dalam hidup mereka secara sadar atau tidak sadar.

Contohnya saya, atau si Botak yang sering mengerjakan tugasnya pas hari ”H” atau di menit-menit terakhir menjelang deadline. Jika ditanya kenapa tidak mencicil, alasannya selalu sama : ”lebih bisa mikir kalau dikejar deadline”. Nah, sekarang sudah tau jawabannya kan?

Kasusnya dalam kehidupan juga beragam. Misalnya, orang-orang yang selalu saja diliputi oleh masalah, atau mereka yang selalu berada di lingkungan orang-orang yang bermasalah. Atau, orang-orang yang selalu saja terburu-buru, tergesa-gesa, menjalani hari dengan jadwal yang ketat. Mereka-mereka ini tidak bisa menganggur, jika kerjaan sudah habis, mereka akan menambah lagi.

Ya, tentu saja, tidak berarti jika orang yang sibuk atau orang yang diterpa banyak masalah adalah seorang adrenaline junkie atau pecandu adrenalin. Tapi, jika kondisi itu terjadi terus menerus terjadi dalam waktu yang lama, dan mereka mengatasinya dengan baik-baik saja, kemungkinannya besar.

Poin untuk menutup artikel ini adalah, agar kita menjaga secara kontinyu hidup ini agar terasa exciting dan tidak membosankan. Melakukan banyak aktivitas yang bisa memicu epinephrine bisa membuat kita lebih bersemangat selalu.

Iklan