MIDEAST-ISRAEL-PALESTINIAN-CONFLICT-GAZA Kalau soal berita dari Timur Tengah, saya lebih suka menonton Aljazeera daripada BBC atau CNN. Lebih obyektif. Haha. Dan kemarin, kantor berita itu membuat liputan bagus sekali, Road to Gaza, yang menjelaskan bagaimana sebenarnya konflik Israel-Palestina yang sudah berjalan sejak 27 Desember 2008 itu bermula.

Well, kalau dijelaskan rinci, satu buku pun tidak akan cukup. Karena itu, saya coba bercerita ringkas dari sudut pandang awam, dan sejauh apa yang saya pahami saja. Hihi.

Kita mulai dari Hamas, organisasi karitas, yang diam-diam berkembang sebagai organisasi bersenjata di akhir 1987. Dibanding Fatah, Hamas lebih militan. Mereka tak gentar melawan agresi Israel yang bersenjatakan altileri lengkap hanya dengan batu-batu sekepalan tangan.

Semakin lama, sayap-sayap militer Hamas beroperasi secara terbuka. Meluncurkan sejumlah serangan balasan—termasuk bom bunuh diri—ke kubu Israel. Dan bukan saja melawan, Hamas bergerak bak Robin Hood. Mereka membangun sekolah, juga melindungi warga-warga sipil Palestina. Pergerakan ini membuat masa Hamas semakin luas.

Puncaknya, pada Januari 2006 Hamas memberanikan diri ikut pemilu. ”Ya baguslah, ini menunjukkan adanya iklim demokrasi yang bertumbuh disana,” kata Bush waktu itu.

Diluar dugaan, Hamas yang dipimpin oleh Khaled Meshaal ternyata memenangkan kursi Dewan Legislatif, menyudahi dominasi Fatah selama 40 tahun.

Dan apa kata Hamas kala itu? “Kita mau berdamai dengan Israel, asal mereka mau mengembalikan puluhan warga Palestina yang ditahan!”. Fatal. Jelas saja, Israel geram, dan langsung menyebut Hamas sebagai pemberontak dan teroris. Amerika, tentu berada di berakang Israel, lha wong pemimpinnya Yahudi semua.

Serangan Israel kembali dilancarkan ke Gaza. Kali ini sambil menutup lini ekonomi. Ekonomi terpuruk, pengangguran menumpuk, Gaza pun goncang. Fatah, yang ideologinya bersebrangan dengan Hamas, ikut berontak. Maka, meletuslah perang saudara, Hamas melawan Fatah pada 2007. Saling tembak, saling bunuh terjadi antara warga Palestina dengan warga Palestina.

Perang saudara yang disebut lebih mengerikan daripada serangan Israel. Pada akhirnya, Hamas mampu mengusir milisi Fatah dan pasukan Otoritas Palestina yang loyal kepada Presiden Palestina Mahmud Abbas Mahmud Abbas dari Gaza.

Namun, ketegangan justru terus meningkat di Gaza. Terutama setelah Israel memutus suplai listrik dan gas. Sejak 14 Juni 2007, terutama setelah Hamas berkuasa, Israel melakukan blokade total pada Gaza. Pejuang Hamas pun memberikan perlawanan dengan menembakkan roketnya ke Israel. Roket Qassam, roket handmade dengan jarak jelajah hanya 20 meteran. Boom.

Geram, pasukan Israel membalas dengan serangan lebih dahsyat. Pada 26 Desember 2008, pasukan infanteri, helikopter, serta tank menembakkan proyektil, dan menghujani Gaza dengan rudal. Dan Blaar….rumah serta gedung porak-poranda, puluhan korban sipil berjatuhan. “Kami tidak pernah menarget warga sipil,” klaim Perdana Menteri Israel Ehud Olmert sambil terus memaksa Hamas menghentikan serangan roketnya.

Sebuah perang tak seimbang. Israel, dengan angkatan perang yang disebut-sebut terkuat di dunia, melawan pejuang Hamas yang hanya bersenjatakan senapan serbu (assault rifle) AK-47 dan grenade launcher atau pelontar roket. Selama menyerang, Israel juga menerapkan taktik jitu, blokade.

Melalui sistem blokade, mereka semakin dalam merangsek ke kawasan padat penduduk Gaza sambil menutup akses, serta terus melancarkan serangan dari darat, laut, dan udara. Akibatnya, sekitar 2/3 warga Gaza tak punya listrik, setengahnya tidak memiliki air. “Kami hanya dipasok air oleh Israel sedikit sekali, yang seringnya tidak cukup,” kata warga Gaza.

Penduduk Gaza makin terpuruk. Gencatan senjata antara kedua belah pihak (Israel dan Hamas) dilakukan, dan berulang kali pula dilanggar. “Lepas dulu blokade-blokade itu Israel!” teriak pasukan Hamas.

Total, hingga kemarin, 905 warga Gaza tewas, 277 diantaranya anak-anak. Sementara lebih dari 3.490 lainnya luka-luka. Pihak Israel? Hanya belasan pasukan saja yang tewas. Perang terus terjadi hingga saya menulis artikel ini.

Smuggling Tunnel
ap_gaza_tunnel_080424_mnBila akses di blokade, bagaimana warga Gaza bisa bertahan? Jawabannya ada pada smuggling tunnel atau terowongan rahasia sepanjang 15 kilometer di perbatasan kota Rafah dengan Mesir.

Terowongan ini, bisa mencapai kedalaman 40 meter, bercabang-cabang, 200-1000 meter panjang, dan bisa muncul dimana saja. Disinilah Hamas mendapat pasokan senjata, makanan, pakaian, obat-obatan, bahkan ponsel hingga sapi (ya saya lihat sendiri di TV sapi diangkut di dalam terowongan). Disini pula, ekonomi underground warga Gaza bergulir. Whoa.

Pemerintah Mesir pun berupaya menutup terowongan-terowongan ini. Israel bahkan makin kelabakan menghadapinya. ”Kalau mau damai, tutup dulu tunnel-tunnel itu, dan hentikan serangan roket!” kata Ehud Olmert. Kondisi keras kepala kedua belah pihak membuat baku tembak masih terjadi, seperti yang kita lihat update-nya di berita.

White Phosporous
MIDEAST ISRAEL PALESTINIANSBangsa Yahudi memang ditakdirkan oleh Tuhan sebagai bangsa ya cerdas, berintelektual tinggi, ambisius, tapi juga licik, kejam, pintar memutar balikkan fakta, juga menelikung.

Lihat saja komentar-komentar para jubir Israel yang selalu berputar-putar, dan merasa tidak bersalah saat diwawancara, padahal dilapangan fakta menunjukkan sebaliknya.

Selain persenjataan tidak seimbang dan menargetkan serangan ke penduduk sipil atau kawasan padat penduduk, ada satu lagi kecurangan Israel, menggunakan senjata kimiawi, White Phosporous, yang dilarang.

Kenapa dilarang? Karena sangat potensial digunakan untuk menyerang penduduk sipil. Sekilas, senjata kimia ini mungkin tidak memiliki daya hancur masif. Namun, dampaknya ke manusia bisa sangat signifikan.

Ketika ditembakkan, proyektil white phosphorous meledak dan memberi efek sebar (flare), untuk kemudian menciptakan selubung asap putih tebal di atas langit. Serpihannya yang telah jatuh ke tanah juga terus menerus berasap. Jika terlalu banyak dihirup, bisa mengakibatkan kematian. Sementara mereka yang terkena serpihan ini bisa menderita luka bakar masif. Saya lihat ada televisi yang menterjemahkan salah soal berita tentang white phosphorous ini (hi Trans!) :p.

Hamas Ingin Perang

hamas Ada pendapat menarik yang saya baca hari ini di Koran Tempo, ditulis oleh pemerhati politik Timur Tengah Mohamad Guntur Romli. Dalam analisanya, ia menyebut bahwa Hamas memang ingin perang. Bagaimana bisa?

Oke, pada 9 Januari 2009, Dewan Keamanan PBB sudah merilis resolusi nomor 1860 yang memerintahkan kedua belah pihak secepatnya “melakukan gencatan senjata, dan pasukan Israel mundur dari Gaza agar bantuan kemanusiaan bisa masuk ke Jalur Gaza”. Nyatanya, resolusi itu ditolak mentah-mentah oleh keduanya.

Ini aneh, karena sebenarnya resolusi itu membela rakyat sipil Palestina agar terhindar dari serangan Israel. Alasan Hamas, mereka tidak diajak berunding atau tak ada poin: blokade terhadap Gaza dan perbatasan Rafah harus dibuka.

Hamas juga menolak usulan lain seperti pengiriman tentara PBB ke Palestina. Alasannya, Hamas tidak ingin ada tentara negara lain di wilayahnya, apalagi di perbatasan Mesir (Rafah). Ingat smuggling tunnel?. Agaknya Hamas ingin memegang kekuasaan total di Gaza.

Mengapa? Bagi Hamas, perang adalah satu-satunya panggung untuk memamerkan kekuatan, serta jadi celah keluar dari krisis. Pertama, mereka ingin pamer kepada rival mereka di Palestina, Fatah. Kedua, unjuk kekuatan pada Israel, dan ketiga, bagi pihak-pihak yang selama ini menjadi mediator dan donatur bagi perundingan Israel-Palestina (Amerika, Uni Eropa, Liga Arab hingga PBB), yang selalu meremehkan kekuatan Hamas. Target mereka, pihak mana pun yang ingin berunding dengan Palestina, Hamas-lah yang paling berhak mewakili Palestina.

Dengan memancing Israel menyerang, Hamas bisa cuci tangan dari kegagalannya mengontrol multikrisis (ekonomi, sosial, politik) di dalam negeri. Hamas memperoleh simpati dan dukungan opini luar biasa publik dunia. Kita lihat saja, demonstrasi yang meluas di mana-mana hanya membawa dua pesan: mengutuk Israel dan mendukung Hamas. Dan Kekuatan Hamas dalam konflik ini bukan senjata, melainkan tameng hidup rakyat sipil Gaza yang korban-korbannya (khususnya ibu dan anak-anak) mampu memanggil simpati dunia. Whoa.

Padahal, mayoritas rakyat sipil di Gaza tidak pernah memilih perang. Survei Near East Consulting menunjukkan 60 persen responden tidak mendukung pilihan Hamas yang tidak melanjutkan “gencatan senjata enam bulan” dengan Israel, yang berakhir 19 Desember. Pada akhirnya, Guntur Romli berkesimpulan, kedua pihak memilih terus berperang daripada peduli terhadap bencana kemanusiaan. Ini politik perang, bukan politik kekuasaan.

Bukan konflik Islam-Kristen

krisetnKonflik di Palestina bukanlah konflik Islam versus Kristen, karena kedua agama tersebut sama-sama sedang berjuang mewujudkan satu negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Faktanya, dari 4 juta warga Palestina, sekitar 85 persen adalah Islam dan 15 persen Kristen.

Hamas bahkan punya menteri Kristen juga, yakni Hosam al-Taweel. “Setiap Natal, para pemimpin Palestina selalu mencoba hadir di Gereja Kelahiran Yesus di Betlehem, meski penguasa Zionis sering menghalangi. Bahkan, kalau pemimpin Palestina tidak bisa hadir di gereja itu, selalu tersedia satu kursi kosong. Sejarah bisa menjadi saksi betapa harmonisnya relasi umat Islam dan Kristen di Palestina,” kata pemerhati masalah agama Mustofa Liem.

Presiden Palestina Mahmud Abbas bahkan pernah marah kepada Osama bin Laden karena ia berjuang melawan Amerika dengan memanfaatkan isu Palestina. Menurut Abbas, siapa pun yang ingin berjuang bagi bangsanya, bisa disalurkan untuk menolong warganya. Sekitar 75 persen warga Palestina kini dilanda kemiskinan dan kepedihan akibat penjajahan Israel. Di West Bank atau Tepi Barat, ada 2,5 juta jiwa, di Gaza ada 1,5 juta. Mereka hidup dengan biaya kurang dari USD 2 per hari.

Iklan