dre0777l Kata ibu saya, waktu kecil saya selalu asyik dengan imajinasi sendiri. Entah itu bermain action figure, robot-robotan, mengulik lilin bermain (malam), atau sok mengomandoi perang masif dengan serdadu-serdadu mainan kecil.

Tapi, saat itu juga saya juga memendam tanya. Seperti apa ya rasanya kehidupan diluar sana? Bagaimana sih rasanya tinggal di tempat lain, di negara lain? Pasti asyik kali ya jika bisa melihat tempat-tempat yang lingkungannya, orang-orangnya, langitnya, berbeda dengan kita. Pada intinya, saya tertarik dan penasaran melihat bagaimana orang lain menjalani hidupnya.

Sayang, tahun berganti, mengubur imajinasi itu. Karena memang tidak ada trigger-nya. Waktu SMA, saya sibuk ngeband dan pacaran, hihi. Menginjak kuliah, dari semester awal saya sudah bekerja dan memiliki sedikit sekali waktu luang.

Baru 2-3 tahun terakhir ini, baru saya bersua kembali dengan imajinasi saya itu. Dan menariknya, internet dan informasi yang serba mudah mempertemukan saya dengan orang-orang yang ternyata memiliki pikiran serupa. Namanya, backpacker. Kitabnya, Lonely Planet. Whoa.

Berlahan saya mulai mengenali para backpacker ini. Di channel Discovery Travel & Living, saya paling suka Globe Trekker. Hostnya, Ian Wright, benar-benar menunjukkan bagaimana berkelana ala backpacker. Jika tiba di suatu negara atau tempat tertentu, ia coba semuanya. Mulai makanan (meski Ian sebenarnya vegetarian), diving, trekking, dan berbagai aktivitas lain. Wah, keren sekali.

Lalu, saya menemukan ini, hardcore backpacker Agustinus Wibowo, pemilik situs avgustin.net. Umurnya mungkin sepadan dengan saya, tapi ia menghabiskan waktunya bertahun-tahun di jalanan, berkelana ke negara-negara yang mungkin hanya kita dengar di peta.

Ia pernah bekerja di Afganistan, serta menapaki kaki di negara seperti Tajikistan, Kyrgyzstan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan. Wow, adrenalin saya seolah melonjak saat mendengar ceritanya.

Saya juga mendengar soal si pengelana Ibnu Batuta, yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya menelusuri 120 ribu kilometer dari Afrika hingga ke China. Acara televisi Camels, Courts, and Concubines: The Adventures of Ibn Battuta memperlihatkan bagaimana perjalanan Ibnu Batuta begitu berpengaruhnya terhadap daerah-daerah yang ia singgahi. Terutama dalam penyebaran agama Islam. Wih.

Masih banyak lagi informasi-informasi tentang backpacker dan backpacking yang saya temui di internet, atau bertemu langsung.

Di Singapura, saya melihat tingkah laku para Business Traveller, yakni orang-orang yang pekerjaannya menuntut mereka bepergian ribuan mil dari rumah, dan bisa tinggal di suatu tempat secara sementara atau jangka waktu lama. Wah, ternyata ada saja ya orang seperti ini. Keren sekali. Saya sempat berandai-andai, apa ya pekerjaan yang bisa bikin traveling terus. Hihi.

Di Pulau Nusa Lembongan, saya sekapal dengan pasangan turis dari Belanda dan Jerman. Usia mereka, mungkin 60-70an tahun. Saya pantas memanggil mereka kakek dan nenek, dengan rambut beruban, pipi penuh keriput, dan perut yang membuncit. Tapi, mereka sedang berlibur, menikmati keindahan pulau yang berada ribuan mil jauhnya dari rumah. Saya berpikir, whoa, ternyata jiwa-jiwa backpacking ini tak mengenal waktu dan usia ya.

Lalu, di Pulau Gili Trawangan, Lombok, saya melihat secara dekat para backpacker yang masih muda-muda (dibawah 30 tahun), banyak juga diantara mereka yang pergi berpasangan. Mereka bukan dari Aussie, tapi dari negara-negara Eropa seperti Inggris, Finlandia, Belanda, bahkan Prancis. Keren sekali. Melakukan perjalanan berdua dengan seseorang yang sangat dicintai, wih, pasti rasanya amat menyenangkan. Lagi-lagi saya takjub.

Dan kalau dulu saya kebingungan, mencari hobi, sesuatu yang bisa melampiaskan hasrat, untuk merefresh diri, menjadi identitas, hmm, sekarang saya sudah tahu jawabannya. Tidak apa-apa, meski referensi traveling saya sekarang masih cetek, rasanya belum terlambat juga untuk menekuni ini sebagai hobi. Ya, hobi untuk mengapresiasi keindahan ciptaan Tuhan secara langsung. Haha.

Backpacker adalah wisatawan yang khas dengan ransel di punggung sambil berjalan kaki. Mencari yang serba murah. Menikmati detail perjalanan. Itulah gaya berlibur mereka. –Tempo, Juni 2005