deathheadln5 Jika mau (sok) berpikiran terbuka, saya melihatnya seperti ini, pada satu titik, manusia terus berusaha mengeksplorasi batas terujung bagaimana tubuh dan pikiran (otak) bisa berakselerasi. Termasuk jika caranya harus dengan menyakiti diri sendiri (self harm).

Body modification atau body alteration, misalnya, tidak sekadar menganggap tubuh sebagai sebuah kanvas dan memamerkannya. Tapi terkadang justru proses menyakitkan untuk mewujudkannya itu yang dicari.

Model body modification ini banyak sekali variannya. Mulai mematri lengan dengan besi panas (branding), membuat tindikan (body piercing) di bagian-bagian tubuh paling ekstrim, mengelupasi kulit (circumcision), menyuntik pigmen ke kornea (eyeball tatooing), membakar kulit untuk membentuk gambar tertentu, membelah lidah, hingga cara-cara lain yang tak terbayangkan oleh akal sehat.

Disebut memodifikasi tubuh, karena tidak seperti tato, dampak praktek ini tak hanya merusak jaringan kulit dan daging, tapi juga merubah bagian-bagian tubuh secara parsial atau seutuhnya. Dan tentu saja, terkadang rasa sakit yang dihasilkan benar-benar tak terbayangkan, mendorong tubuh sampai ke ujung batas. Setelah melalui rasa sakit yang begitu sangat itu, konon mereka mengaku bisa merengkuh kepercayaan diri luar biasa. “Setelah melakukan susepending, rasanya tidak ada yang tidak bisa saya lakukan,” kata seorang suspendee.

Ini pula yang melahirkan inisiasi seperti body suspending. Kendati masih jadi bagian dari body modification, suspending tidak benar-benar merubah bagian tubuh tertentu. Para suspendee, bahkan bisa melakukannya berulang-ulang.

Inspirasinya, datang dari upacara-upacara yang dilakukan suku-suku primitif yang masih eksis hingga sekarang. Di Amazon, para remaja yang beranjak dewasa baru disebut warrior atau pejuang setelah melakukan inisiasi dengan membiarkan kedua tangannya digigit puluhan semut api. Racun yang mengalir disemut ini konon begitu menyakitkan hingga terus terasa selama 24 jam, bahkan bisa menyebabkan demam yang berujung kematian.

Kembali ke body suspension, bagaimana sebenarnya prilaku yang disebut Modern Primitivism movement ini dilakukan?

Caranya sederhana. Bagian-bagian tubuh tertentu seperti lengan, bahu, atau dada ditembus dengan kail atau hook seukuran telapak tangan orang dewasa. Kail ini biasa digunakan untuk menangkap hiu, atau gurita. Kail tersebut lantas diikatkan pada rigging bertali yang bisa bersifat statis atau dinamis. Dari situ berlahan-lahan tubuh diangkat dari atas tanah.

bertahan beberapa 5-10 menit ketika berat tubuh ditopang hanya dengan pengait yang menembus daging dan kulit saja sudah luar biasa dan menjadi benchmark. Tapi, banyak suspendee yang mampu berayun selama 10-15 menit. Bahkan menggunakan pengait lebih sedikit. Normalnya 4 hook, tapi suspendee hardcore nekad hanya menggunakan dua.

Risikonya jelas berlipat ganda. Jika jumlah berat setiap hook tidak didistribusikan tepat ke seluruh tubuh (tidak seimbang), maka kulit yang tidak mampu menahan berat tubuh akan robek. Tak hanya mengerikan, tapi juga fatal akibatnya.

Yang tergila, adalah bizzarian Criss Angel, ketika ia melakukan suspending atau body suspension dengan mengaitkan bahunya ke helikopter melewati gunung dan gurun Nevada. Rekor body suspension terlama juga dipecahkannya di Time Square New York pada 2002, selama sekitar 5 jam 40 menit.

Melihatnya saja sudah mengerikan, apalagi membayangkan sakitnya. Namun, para suspendee mengaku, dalam kesakitan yang teramat sangat itu mereka mengaku mampu mencapai suatu kondisi mental tertentu yang membuat mereka ketagihan untuk mengulanginya lagi.

“Pure adrenalin and endorphin, Its only mind over matter” kata seorang suspendee. Ketika adrenalin melonjak konstan, tubuh akan menghasilan endorphin, hormon pemberi rasa nyaman yang konon mampu membunuh rasa sakit. Hasilnya, adalah kondisi trance, suatu keadaan pikiran yang tenang, kosong, dan damai.

* terinspirasi dari tayangan Taboo : Initiation. foto body suspension sengaja tidak ditampilkan karena terlalu mengerikan. cek sendiri di google.

Iklan