Day 1: Lost in the City

img_8477 Oke, saya sudah sering kali melakukan kebodohan. Tapi kalau bodoh ditambah apes, dan terjadi berulang-ulang dalam sehari, baru kali pertama. Itu terjadi tepat di hari pertama liburan di pulau Dewata, Jumat, 12 Desember 2008.

Persiapan saya, sebenarnya sudah lebih dari cukup. Ponsel, kamera digital, kacamata hitam, dompet, peta Bali, dst sudah saya siapkan di tas kecil. Bahkan, alamat teman saya Anto berikut rute dari Kuta ke rumahnya di Puri Candra Asri, Ketewel, Gianyar, sudah saya catat di ponsel. Hari itu rencananya saya memang akan putar-putar Kuta naik skutik, dari pagi sampai……bosan.

Anto menurunkan saya di Kuta Square, karena hari itu ia harus bekerja. Jalanan masih sepi, sebab hari masih pagi. Mobilnya pun berlalu seiring saya mengambil nafas sambil menguap panjang-ah-ini-bakal-jadi-hari-yang-super fun. Saat itulah saya sadar kalau HENPON DAN PETA KETINGGALAN DI MOBIL!!! FUUUUCKKKK!!!!

Saya tak ingat alamat Anto, dan seingat saya, tidak ada teman yang tahu nomer ponselnya. Yang saya ingat hanya belokan gang di rumahnya, serta nama-nama daerah yang kira-kira saya lewati selepas bandara Ngurah Rai seperti Batu Bulan, Gianyar, dan Gatot Subroto. Haha. Awalnya saya clueless dan panicked, sebelum akhirnya cuek. Ah what the fuck, dipikir ntar saja. Sekarang have fun dulu. :p

Legian, Seminyak, Kuta, Poppies, dan entah berapa banyak gang-gang kecil saya jelajahi dengan Yamaha Nuvo. Saya baru tau syarat menyewa motor adalah KTP dan alamat/nomor kamar hotel tempat kita menginap. Berhubung saya tidak menginap di hotel, jadi ya saya bohongi penyewanya! Ha!.

Banyak sekali club-club baru di sepanjang Kuta. Tapi menurut saya, denyut Kuta sebenarnya ada di dalam gang-gang kecil itu. Bule-bule atau backpackers yang menginap long stay (bisa sampai 6 bulan) biasanya memilih di hotel-hotel kecil yang tarifnya hanya $10 per malam. Lumayan, sudah ada AC, spring bed, dan air panas.

Ada yang berendam di kolam sambil baca buku, minum kopi dan sarapan disambi melumat Jakarta Post, ngobrol-ngobrol dengan locals sambil minum bir siang-siang, siap-siap surfing sambil mengepak surfboardsnya di Yamaha Mio, basah-basahan pulang surfing sambil bawa papan, serta sejuta aktivitas lainnya yang menarik untuk diamati.

Sempat juga mampir ke toko aksesoris surf seperti Volcom, Oakley atau Ripcurl yang katanya diskon habis-habisan. Nyatanya, tetep aja mahal. Akhirnya cuma beli titipan. Saya sendiri tidak beli apa-apa karena tujuan utamanya memang jalan-jalan, bukan belanja. Yeah, Ian Wright style. :p

Kuta sendiri juga tampak sepi, padahal sudah masuk musim liburan. Wisatawan lokal sedikit, sementara turis bule atau Jepang juga tidak terlalu banyak. Kasihan juga, kalau wisatawan semakin sedikit, bisa-bisa ribuan toko di kawasan Kuta pada yang gulung tikar. Saya juga kehilangan pemandangan bule-bule kece dengan tanktop dan 2 piece-nya :p. “Hotel-hotel saja banyak yang bangkrut mas. Makanya sekarang banyak yang berlomba bikin sistem membership, mencari pelanggan loyal,” kata seorang marketing hotel yang menawari saya brosur.

Yang jadi juara hari itu saat saya mencoba Bungee Jumping di AJ Hackett 66 Club (Double Six), tapi ini akan saya ceritakan di postingan berbeda. Nah, kesialannya dimulai saat saya membatalkan rencana pinjam motor 2 hari. Ternyata uangnya tak bisa di refund. *sigh.

Sengaja saya berusaha pulang sebelum hari gelap, agar lebih mudah mengenali jalan. Sebab semakin malam, semakin tidak beres pula penglihatan saya. Mulanya saya akan naik taksi, tapi ternyata ada pegawai minimart yang menawari ojek. Made, pegawai yang mengambil sidejob sebagai tukang ojek itu, hanya manggut-manggut mendengar tujuan saya yang seadanya, tanpa alamat jelas, hanya kira-kira. Kami pun berangkat sambil berbincang basa-basi seperti kerja dimana? Tinggal dimana? Udah pernah ke Bali? Dst.

“Saya sebenarnya nggak terlalu hapal daerah Belah Batu, jauh juga ya ternyata, lebih jauh dari Ubud nih,” kata Made sambil memacu motornya lebih cepat.
“Bukannya kita ini ke arah Gatot Subroto, Bli?” jawab saya.
“Lho, ini sudah jauh ngelewati Gatot Subroto. Lho, mas ini mau ke BELAH BATU atau BATU BULAN?”
“O ya itu Bli, BATU BULAN, bukan BELAH PaNTAT BATU, pokoknya Gatsu paling timur itu mentok, belok kiri, sampe deh,”

Terlambat. Made mengarahkan motornya jauh ke arah yang salah. Hari sudah gelap, hujan gerimis tiba-tiba terhempas dari langit. Saya semakin disorientasi sambil melap-lap kacamata, Made pun semakin bingung. Klop.

Setelah beberapa kali salah arah dan salah masuk gang, akhirnya saya bisa menemukan rumah Anto. Fiuuuhhh…akhirnya, kalau nggak ktemu bisa-bisa saya nginep di hotel. Made pun saya bayar dobel, karena ia tidak tega meninggalkan saya yang sudah mulai hopeless. Haha.

Tak lama kemudian Anto datang, saya menyambutnya di depan dengan perasaan membuncah untuk segera menceritakan pengalaman melelahkan yang baru saya dapat.

Tapi sebelum kata-kata ini keluar dari mulut, ia buru-buru berteriak “KENAPA NGGAK NELPON HENPON LO SENDIRI NANG? HENPON LO BUNYI NGGAK BRENTI-BRENTI TADI. GUE NUNGGUIN TELPON LO, TAPI YANG TELPON DARI JAKARTA SEMUA. LO NGGAK LUPA NOMER SENDIRI KAN?”

“………Euh, tadinya mau tak telpon, tapi tak pikir gak bakal mbok angkat. Hehe,”

Iklan