Day 4 : Mataram on a Motorcyle

09.10
img_8711 I slept like a baby. Pagi-pagi, Sales Manajer Sheraton Senggigi Agustin sudah mengontak. “Kita ketemu sambil breakfast bareng ya mas,” tulis pesan pendeknya. Mandi, ganti baju, dan turun kr garden. Ngobrol ngalor-ngidul sambil ketawa-ketiwi. Ternyata, mbak Agustin ini asli Magelang, dan sudah menetap 17 tahun di Lombok. Orangnya rame dan suka bercanda.

Ia mengatakan, kendala wisatawan yang ingin berkunjung ke sini adalah penerbangan yang sangat terbatas. Kecuali rombongan besar, Garuda tidak mau terbang kesini. Sisanya hanya ada Trigana dan Merpati.

“Banyak juga lho yang cancel, gara-gara nggak dapet pesawat. Banyak yang nggak mau kalau nggak naik Garuda. Makanya, kalau ada tamu yang order kamar untuk pertemuan, saya tanya dulu, ’sudah dapat tiket belum?’,” curhatnya. Sore nanti, saya dijanjikan wawancara dengan General Manajer Hotel Mashri, serta diajak mengikuti party ultah hotel malamnya. “Siap mbak,” jawab saya.

Setelah makan, saya berkeliling hotel yang terbesar di kawasan Senggigi ini. Whoa, pool Sheraton langsung menghadap ke pantai Senggigi yang cantik. Sangat privat, dengan langit biru dan awan-awan yang menari gemulai.

Sheraton Senggigi memang sangat recommended. Makanannya oke, kamarnya bagus, pelayannya ciamik, dan lokasinya superduper strategis. Im overwhelmed with happiness, argh couldn’t ask for more. Haha.

11.30
Seharusnya saya istirahat karena badan masih capai. Tapi, rasa ingin tahu ternyata lebih besar. Akhirnya, saya menyewa sepeda motor seharga Rp35 ribu, lalu bergegas menuju Mataram. Tujuannya sebenarnya cari baju oleh-oleh dan buat saya sendiri karena cuma bawa beberapa pasang saja. Tapi, yang ada malah ke Segar Belle, tempat jualan mutiara yang jadi khas Pulau Lombok.

Kota Mataram sepi dan damai. Sekilas jalanannya mirip di Malang. Saya cari hot spot di Mataram Mall, tapi satpamnya malah nggak ngeh apa itu Wi-Fi. Hihi. Baru onlen sebentar di warnet (dengan Wi-Fi) di sebelah mall, lampunya mati. Yaelah.

img_8638Setelah muter-muter sebentar, dan balik menuju Senggigi. Sempat makan siang di restoran pinggir pantai. Menikmati nasgor dan menunggu sunset. Saya baru sadar, keindahan pantai Senggigi, terlepas dari suasannya yang sepi dan damai adalah langitnya yang, subhanallah, tak bisa dideskripsikan keindahannya. Lihat sendiri deh.

16.40
Sebelum ke hotel, saya menyempatkan untuk pijat dulu. Baru sadar, ternyata kartu kunci masuk kamar hilang. Hihi. Keteledoran saya memang sudah berada dalam tahap akut. Untung segera dapat gantinya.

Malam itu ada acara ultah Hotel, dirayakan ramai-ramai bareng karyawan. Numpang makan dan basa-basi bentar dengan Agustin, lalu balik ke kamar.

Mulanya ingin lanjut ke Marina, which is tempat dugem paling hip di Senggigi. But im too tired. Dan kasur Sheraton yang empuk, dengan beberapa bantal yang supercozy membuai saya dalam mimpi. “Kasur kita ini khusus, nyaman sekali. Bahkan ada tamu yang berniat ingin membelinya,” kata General Manajer Sheraton Mashri. Well, itu yang menjelaskan mengapa 2 hari ini saya tidur superpulas.

Iklan