Day 5 : Befriended With Local

09.20
img_8757 Setelah mengemasi barang, breakfast, dan ngobrol dengan GM Hotel dan Agustin, saya bergegas ke tujuan selanjutnya : Gili Trawangan. Perjalanan Sheraton Senggigi menuju pelabuhan Bangsal sekitar 45 menit.

Jalanannya melewati pinggiran pantai. Sekali lagi, saya dipesona oleh keindahan pantai-pantai perawan Lombok. Jalanannya berkelok-kelok naik turun bukit, sehingga kita bisa melihat pantai-pantai yang nyaris tak terjamah itu dengan jelas. Beberapa kali saya menyuruh tukang ojek saya untuk berhenti dan mengambil foto.

10.34
img_8836Sambil menunggu kuota kapal motor sebanyak 20 orang yang membawa saya menyebrang ke Gili Trawangan, saya mendapat teman baru. Haer atau Aeng, biasa pulang-balik mengantar turis lokal/asing disana. Ia sendiri menyewakan snorkle dengan harga lebih miring. “Nanti saya antar jalan-jalan disana,” katanya. Sip.

11.30
img_8799Boat yang kami tumpangi diombang-ambingkan ombak yang lumayan besar, seolah-olah hampir terguling. Beberapa penumpang pucat, bahkan ada yang hampir muntah. Crazy. Lihat muatannya, ada kayu, kardus-kardus, dan berbagai barang lain yang akan dikirim ke Gili.

Mulanya saya pikir kapal kelebihan muatan. Saya juga sempat panik. Kalau kapal terguling, saya sih cuek, tapi iBook saya bisa-bisa wasalam bertemu air laut. “Ini normal kok mas. Lihat saja, kapten kapalnya santai. Lihat penumpang panik, dia malah senang,” kata orang disebelah saya.

12.40
Begitu tiba, kami disambut hujan. Aeng mengantar saya mencari penginapan yang direkomendasikan Ria. Yang pertama, Rumah Hantu, ada di Lonely Planet. Sayang sudah penuh. Akhirnya beralih ke Sederhana dengan tarif Rp80 ribu permalam. Lumayan murah.

13.50
Saya habiskan waktu berjalan-jalan di pantai dan snorkling bareng Aeng. Taman laut berupa terumbu karang yang cantik hanya berada sejengkal di pantai. Whoa, saya bisa menyaksikan ikan begitu dekat. Superb. Kelamaan snorkling membuat saya sadar bahwa kulit menjadi kian hitam. Ah, peduli setan.

17.20
Karena kemalaman, Aeng tak dapat kapal pulang. Jadi saya ajak dia menginap. Well, kita memang harus hati-hati, tidak boleh percaya 100% dengan local. Yang penting, menjaga barang berharga, dan berdoa semoga dia tidak berniat jahat. Untunglah, Aeng tidak termasuk salah satunya.

Malam hari di Gili Trawangan benar-benar berubah. Kafe, pub, dan restoran memendarkan taburan lampu. Papan-papan terpampang di depan dengan harga dan jenis makanannya. Ada European food seperti sphaggeti, burger, dst, sea food bakar, spirits, wine, kopi, just name it. Meja-meja juga berdesakan di pinggir pantai. Ada yang beratap langit. Bule-bule, ngobrol sambil bersantap. Bahkan, ada yang memutar bioskop mini. Well, they sure know how to entertain. Beberapa juga menyediakan live music. Suasananya sangat hidup, tak kalah dengan kuta.

Tentu saja, ada satu yang saya ingin coba, magic mushroom. Hoho.
Karena ini sesuatu yang baru, saya tidak berani mencoba kalau tak ada teman. “Aeng, you take care of me just incase something happens okay,”. “Sip Bos,” katanya.

Segelas mushroom yang dijus dengan buavita dipatok Rp100 ribu. Setelah ditawar, saya dapat dengan harga Rp75 ribu. Bagaimana rasanya?

img_8809Well, tidak seperti ganja atau alkohol yang mabuknya “menguasai” kita. Mushroom membuat kita tetap sadar. Tapi, pikiran ini dibawa melayang, dipaksa terus berimajinasi. Ini semua tergantung bagaimana menggunakannya. Kalau dibayangkan yang indah-indah, maka rasanya bisa mengasyiikan dan senaaang sekali.

Sebaliknya, jika dibayangkan seram-seram, bisa-bisa kita paranoid. Saya pikir, untung ada Aeng. Nggak lucu aja kalau tiba-tiba saya dikamar sendirian dan membayangkan hantu. Bah. “Happy-happy, relax-relax,” kata Aeng melihat saya terlarut dalam imajinasi. Haha.

02.40
efeknya lumayan lama, dan berlangsung secara konstan. Sekitar 4 jaman. Begitu sadar, entah kenapa mendadak saya berada dalam kondisi trance, damai sekali.

Perjalanan singkat ini saya tempuh untuk mencari sebuah jawaban, dan jawaban itu saya dapatkan malam itu. Berkaca dari orang-orang yang saya temui, dan kejadian-kejadian yang saya alami. Ternyata saling berhubungan. Seperti film Big Fish.

Oh, gitu ternyata ya. haha. Tuhan seperti menjadi travel agent, mengatur perjalanan saya kali ini dengan caranya sendiri. Karena semua yang saya lakukan rasanya pas, berada pada tempatnya. Saya menempuh perjalanan ini sendiri, tapi tak pernah merasa kesepian. Im overwhelmed with joy and happiness. Lega dan puas sekali.