Day 3 : Secret Bitch Beach

08.35
img_8488Pffhh. Akhirnya saya membatalkan tur menggunakan mobil Land Cruiser di Tabanan hari ini dengan sejuta rasa bersalah kepada mbak Ida dari The Waka. Dia pula yang mengatur perjalanan ke Pulau Nusa Lembongan kemarin. Untung orangnya superbaik. “Oke maybe next time,” tulis pesan pendek yang dikirim ke saya. Lega.

Setelah membangunkan Anto, kami menjemput Dewi di kosnya di daerah Denpasar, lalu menuju air port Ngurah Rai untuk exchange tiket. Pagi-pagi mengelilingi jalanan Bali semakin meyakinkan saya betapa pulau ini sangat eksotis. Rumah-rumah bersandingan dengan pura, patung-patung bertengger di atas ruko, whoa cool.

Akhirnya kita breakfast di Nasi Pecel Bu Tinung, yang ternyata cukup populer di Bali. Pecelnya biasa saja, tapi lauknya bak prasmanan, bisa memilih sesuai selera. Ada otak, ayam, tempe, udang, telur, dan lainnya. Wah, konsepnya benar-benar seperti restoran yang ingin saya dirikan di Jakarta suatu hari nanti. Haha.

10.40
img_8508 Menuju Pelabuhan Padang Bai, melewati ketewel. Jalannya lempeng, lurus, lebar, dan bagus. “Ini jalan baru. Yang gue suka di Bali jalannya memang tidak ada yang jelek,” sahut Anto. Ketika melewati Gua Lawa, giliran Dewi nyeletuk, “kenapa nggak mampir sekalian?” katanya.

Jadilah kita turun. Gua Lawa, seperti namanya berisi ribuan kelelawar yang bertengger di mulut gua. Absurd. “Kata pemandunya, kelelawar yang akan meninggal akan menyerahkan diri untuk di makan ular yang ada di dalam gua. Ularnya besar sekali, dan hanya menampakkan diri pada orang-orang tertentu,” ujar Dewi yang sudah pernah kesini. Di pintu masuk, si penjaga mewanti-wanti bahwa perempuan yang sedang sedang berhalangan tidak boleh masuk.

12.10
img_8533 Kata Anto, pelabuhan Padang Bai berada tak jauh dari Amankila Resort, yang tarifnya termahal di Bali. Saya tahu Amankila gara-gara salah satu acara di Discovery Travel & Living menempatkannya di posisi 4 kategori “10 Resort Terbaik Dunia”. Crazy.

Begitu sampai Padang Bai, tiba-tiba Anto membelokan mobil ke jalan yang berbeda. “Disini ada pantai cantik bernama Blue Lagoon, belum banyak yang tahu,” katanya.

img_8535Blue Lagoon atau Laguna Biru adalah secret spot berupa pantai mungil yang diapit oleh dua teluk. Arusnya tenang, sangat aman untuk bermain anak-anak. Sedikit ke tengah, bisa digunakan untuk snorkling. Snorkle dan kacamata bisa disewa Rp20 ribu sepuasnya.

Lalu ada restoran yang langsung menghadap ke pantai. Sambil makan, minum bir, dan menikmati pantai tak terbayang nikmatnya. Niatan untuk snorkling sudah mengemuka, tapi karena harus mengejar kapal, maka saya batalkan. Kalau ke Bali lagi, tempat ini benar-benar harus di kunjungi.

01.30
img_8580Kapal Ferry penyebrangan Padang Bai-Lembar, Lombok, hanya Rp32 ribu. Murah meriah. Tapi, perjalanannya cukup lama, sekitar 4 jam. Saya berangkat pada jam yang tepat, karena bisa melihat sunset dari atas kapal.

Lihat dong, langit seperti ini nggak akan kita temui dimanapun. Saya hampir menangis saat melihat keindahannya. Gumpalan awan putih dengan berbagai bentuk, mewarnai langit yang biru, dipisahkan cakrawala. Ketika sunset datang, sinar matahari menembus awan-awan itu. Seperti melihat sebuah lukisan yang Maha Cantik. Trenyuh sekali mengapresiasi ciptaan-Nya, yang tak terkira indahnya.

18.10
img_8595Tiba di lembar, tukang ojek langsung menawari mengantar ke Sheraton Senggigi, hotel saya, dengan ongkos Rp50 ribu. Tanpa tawar, kita pun brangkat. “Satu jam perjalanan mas,” kata Sabri, tukang ojek itu.

Sebenarnya ada jalan pintas, tapi ia mengajak saya menembus kota Mataram, melewati bandara, serta Mataram Mall, satu-satunya mall disana (tanpa bioskop). Hasilnya, pantat saya panas karena jaraknya cukup jauh juga ternyata. Wakaka.

Begitu cek in di Sheraton Senggigi, sempat surprise juga liat kamarnya. Wohoho, cool as fuck. Bahkan iBook saya dapat tempat yang cozy. Ah, senangnya.

21.20
dsc00040Setelah mandi, saya menunggu Ria, teman Anto yang sudah saya kontak sebelumnya. Ia bekerja di Nestle, sebagai head region Lombok-NTB. Tak lama Ria datang menggunakan Avanza berdua dengan temannya Fafa.

Kedua cewek ini mengajak saya makan di Happy Café, yang hanya berjarak 2 kiloan dari hotel. Konon di lombok kehidupan malam hanya ada di sepanjang pantai Senggigi.

Kita makan, mengobrol, sambil menikmati live band dan merequest lagu. Tempatnya cukup seru. Teman ngobrol saya ini juga asyik. Fafa, baru 2 bulan di Lombok. Cewek tomboy asal Jakarta yang bekerja di bidang farmasi itu tak malu-malu untuk maju dan menyanyikan lagu I’m Yours milik Jazon Mraz. Way to go, Fafa!. “You sing very good!” ujar seorang bule sambil mengacungkan jempolnya. Haha.

Saya mulai bisa mengendus vibe kehidupan malam di Senggigi, tentunya dengan bergaul dengan lokal (atau setidaknya orang yang lama disana). Meski baru pertama kali bertemu, kami bercanda-canda sambil menikmati lagu. What a night. Tapi, bukannya itu inti backpacking? Untuk mendapatkan teman baru di perjalanan?

“Karena sudah disini, kenapa nggak sekalian ke Gili Trawangan? Tempatnya enak banget. Pulaunya terpencil, pantainya indah, ada tempat snorkling yang bagus,” kata Ria. Hmm, interesting.