jkt-jakjazz-yulianto-2 ”Jazz itu sumbang, melenceng dari pakem musik pada umumnya,” kata si Botak, yang sekali lagi sya anggap mewakili figur penggemar musik “kebanyakan”. ”Dengarkan saja, nada-nadanya selalu ada yang minor. Dan itu tidak bisa masuk di kupingku,” tambahnya.

Sebuah teori yang sangat logis, namun tak pernah terpikir dibenak saya sebelumnya. Benar juga ya, jazz itu improvisasi, membiarkan nada-nada mengalir seenaknya, bertubrukan, cepat, pelan, rendah, tinggi, harmonis, tidak harmonis, keras, lembut, monoton, dinamis.

Itu juga, mungkin, alasan mengapa jazz tidak selalu mudah dinikmati atau dicerna oleh mereka yang kupingnya tidak terbiasa dengan nada-nada “sumbang” tadi.

Tapi, buat saja, justru itu yang menjadikan jazz sebagai genre yang unik. Untuk menikmatinya, kita harus “menyetel” indera pendengaran lebih sensitif, mengosongkan pikiran dan sedikit berkonsentrasi. Kadang memang terasa melelahkan, tapi begitu dapat feelnya, wow, sensasinya luar biasa.

Karena mengapresiasi sebuah performance jazz, lebih dari sekadar mendengarkan lagu yang dibawakan secara live. Tapi juga menikmati improvisasi, mengagumi teknik bermusik, mengikuti rancaknya ketukan, mengecap nada-nada yang berbenturan, terhipnotis dalam suasana, tertegun lewat kemenonjolan instrumen tunggal, dibelai keindahan harmoni, serta dipacu energi dan adrenalin.

Jazz, bisa dibawakan dengan berbagai cara, dibentuk menjadi berbagai rupa, dalam upaya mendefinisikan ulang arti dari keindahan musik itu sendiri.

Terkadang, tanpa ada vokal dan kata-kata pun kita bak diajak berdialog dan memahami bahasa musik, yang disebut sebagai bahasa paling universal di dunia.

“Bahasa apa yang kalian gunakan?” tanya seorang wartawan kepada penyanyi jazz Lica Cecato asal Brasil dan Zarro dari Indonesia yang bersepanggung di gelaran JakJazz ’08 kemarin malam. Sebelum tampil, Lica dan Zarro hanya sempat berlatih selama beberapa jam saja.

”Orang mengira kami telah berlatih lama. Padahal, kami hanya latihan selama 2 jam. Selebihnya, kami serahkan kepada musik. Biarlah bahasa musik yang menyatukan kami” ungkap Lica. Dan memang, penyatuan dua genre musik jazz yang mereka bawakan malam itu bisa melebur sempurna.

Jika menafikan pengkategorian selera musik tiap individu yang bisa sangat personal, saya mengangap jazz sebagai pencapaian akhir kedewasaan selera bermusik seseorang.

Saya besar mendengarkan musik Skoinkcore (ska, oi, punk, hardcore, dst), dan sudah berada di ujung kebosanan. Namun tiba-tiba, jazz datang seolah memberikan oase baru. Saya tahu, pengetahuan musik jazz yang baru saya kenal selama 3-4 tahun terakhir ini masih sangat minim. Ada ribuan musisi jazz yang belum pernah saya dengarkan musiknya, ketahui namanya. Seperti belajar dari nol lagi. Tapi, saya bersemangat.

Saya ingin, jika suatu saat nanti ada orang bertanya, musik apa yang kamu dengar? Saya dengan bangga menjawab, ”jazz, ini adalah pemberhentian terakhir saya dalam mencari genre musik,”.

“Hidup saya mengalir, seperti jazz yang selalu berimprovisasi,” – Peter F Gontha.

* Foto Ray Harris : Anton