Apa beda Nachos dan tachos? Burritos dan fajitas? Semuanya terlihat sama bagi saya. Apalagi ini, Tostadas, Enchiladas, dan Quesadillas. Namanya saja hampir tidak mungkin untuk dihapal karena terlalu banyak menggunakan huruf konsonan.

Nachos mungkin paling umum. Tersedia di kafe buat teman ngebir, atau ngemil sambil nonton di teater XXI. Yang jelas, Nachos ini jadi cemilan wajib Justin Timberlake dan Cameron Diaz saat menonton tim basket kesayangannya. Para aktor Hollywood bisanya nyewa boks, tempat duduk khusus tepat di pinggir lapangan.

Nachos adalah keripik dari jagung. Diatasnya ditaburkan sayuran, irisan daging kecil-kecil, keju, dan saus. Rasanya gurih dan sedap. Nyam. Kalau Tachos, isinya sama. Hanya keripik yang digunakan lebih besar dan bundar.

Burritos ini populer di Amerika buat teman ngemil, seperti hot dog atau burger. Kalau di Indonesia bisa dibilang senada dengan kebab. Tepung yang digulung, lantas diberi isi. Yang membedakan mungkin kandungan sayuran dan bumbunya yang khas Meksiko.

Mesir juga punya makanan seperti ini. Namanya Habasy Takanat. Selain sayuran, isinya juga telur dan kacang. Lumayan mengenyangkan, meski rasanya plain. Kalau orang Jawa bilang, nggak ngalor nggak ngidul. Fajitas sendiri adalah Burritos dengan imbuhan “plain” alias tanpa bumbu.

Saya mencoba makanan khas Meksiko itu dalam acara Mexican Food Fiesta 2008 di Olive Tree Restaurant, hotel Nikko, Jakarta, semalam. Sudah umum hotel berbintang lima menggelar promosi makanan, bisa seminggu atau sebulan, untuk mengikat costumer. Biasanya, mereka juga mendatangkan chef langsung dari negara asalnya.

Tapi, dasar kurang cocok dengan Mexican food (nggak kenyang, bo), saya lebih asyik dengan buffet yang ada di Olive Tree Restaurant. Buffet disini, seharga 200an ribu ++, termasuk yang terbaik di Jakarta. Sashiminya, wuih, segar, tender, dan lembut di lidah.

Baby shark dan grilled sea food-nya harus dicoba. Dahsyat. Trus, yang enak lagi pecking duck, shabu-shabu, dimsum, dan pizza-nya. Pizza ini, saya dapat rekomendasi langsung dari Nikki, PR hotel Nikko. Teksturnya mirip Izzy Pizza yang tipis, crispy, dan cheesy. Bener-bener menggigit rasanya. Fiuh, membayangkannya saja sudah bikin ngiler.

Makanan di Hotel Nikko memang memuaskan. Restoran Kahyangan, yang terletak di lantai 28-30 mungkin kecil. Tapi, pemandangannya indah. Ruangan kacanya langsung menghadap ke bawah bundaran HI. “Banyak yang nembak pasangannya di sini,” kata Executive Chef Hotel Nikko Setiyanto.

Tapi, yang menjadikan restoran ini populer adalah shabu-shabunya. Malah, tak salah bila resto ini disebut sebagai best shabu-shabu in town. Begitu mencoba, saya jamin, Hanamasa terlihat seperti restoran kemarin sore. Hahaha.

Kahyangan menggunakan daging Wagyu M9+, daging sapi Jepang dengan kualitas terbaik. Yang membedakan adalah jenis marble atau tekstur pada daging yang diiris tipis tersebut. Teksur marble itu, maksudnya hampir seperti yang kita temukan di batu marmer. “Celupkan 3 detik saja di kuahnya,” kata Setiyanto, yang beberapa kali menjuarai Iron Chef di Indosiar. Rasanya, wow, lembuuut sekali.

M9+ menunjukkan kelasnya. Masih ada angka 10-12 untuk menunjukkan grade tertinggi. Tapi, kata Setiyanto, grade 10 keatas dagingnya sudah terlalu lembut. “Sampai-sampai tak perlu dikunyah,” canda Setiyanto. Harganya, tentu saja lumayan merogoh kocek. Sekitar Rp300 ribu-Rp800 ribu ++.

Iklan