“I made films, not movies!” teriak Billy Walsh (Rhys Coiro) ketika Erick Murphy (Kevin Connolly) si produser film biografi tentang Pablo Escobar, Medeillin, memintanya mengurangi adegan-adegan yang dianggap terlalu idealis. Namun, tentu saja Walsh langsung menolaknya. Dalam serial TV Entourage yang tayang di HBO itu, Walsh digambarkan sebagai sutradara jenius berjiwa independen yang hanya ingin membuat film sesuai kata hatinya.

Bagi Walsh, film dan movie adalah dua hal yang berbeda. Film, senyatanya adalah sebuah karya idealis. Sebaliknya, movie dibuat untuk menyesuaikan selera pasar (mainstream).

Dalam artikelnya di Layarperak, Imam Budiman menjelaskan secara gamblang dan sederhana tentang perbedaan antara film dan movie ini. Film yang acap berlabel ”intelek” atau “berat”, kata Imam, adalah sebuah karya yang membutuhkan kematangan dan kedewasaan berpikir dari penontonnya.

Dijelaskan olehnya, sesungguhnya tidak ada yang salah jika penonton Indonesia lebih menyukai movie yang entertaining dibandingkan film bertema serius. Jangan salahkan pula bila mereka lebih prefer ke film-film popcorn khas Hollywood dibanding art house keluaran Eropa, misalnya.

Namun, ia juga mengungkap betapa menonton film “berat” itu justru sangat mengasyikkan. Bagaimana ia berusaha membuka wacana berpikir bagi penonton awam, soal nikmatnya menonton sambil berpikir, serta keasyikkan menangkap esensi yang terkandung dalam film-film intelektual.

Dengan melihat lebih dalam akan nilai-nilai filosofis yang tersirat dalam sebuah film, serta membuka mata akan eksistensi film-film yang bersifat non-linear, diharapkan penonton dapat memperoleh cara pandang baru dalam melihat dan menilai sebuah film. Yakni film dalam konteks bukan sekedar media hiburan, tetapi kembali ke akarnya sebagai wadah seni untuk berekspresi serta memperoleh apresiasi sejati dari penontonnya.

Selanjutnya, Imam juga mengatakan bahwa untuk dapat menikmati—atau bahkan memaknai—suatu film yang kompleks secara sempurna memang bukan perkara mudah. “Bila kita sebagai penonton tidak cukup jumawa dalam menafsirkan apa yang ditontonnya, kendala-kendala di atas pastinya akan sulit diatasi. Yang ada kemudian adalah reaksi seperti membosankan; memusingkan, dan melelahkan,” tulisnya.

Praktiknya, saya temukan langsung pada si Botak. Setiap malam, dia selalu menantikan FTV di SCTV. Mulanya, saya pikir karena dia hanya melihat pemainnya yang cantik-cantik. Tapi, ternyata ia ikut larut mengikuti ceritanya. Dan, setiap saya todongkan kepadanya film-film seperti Fight Club, Trainspoitting, ataupun Memento, DVD-DVD itu hanya teronggok ngganggur di lemarinya.

Akhirnya saya menyimpulkan sebabnya dari jawaban, “males mikir ah!, kita menonton film buat terhibur, kok malah disuruh mikir”. Mungkin, jawaban di Botak itu yang mewakili penonton Indonesia kebanyakan itu menjawab mengapa film-film “kacangan” justru sangat laris dan diminati..

Para penonton seperti Botak ini, bukan berarti tidak pintar, tidak bisa mencerna, ataupun memaknai sebuah film yang disebut intelek tadi. Tapi, menurut saya, mereka hanya malas untuk diajak berpikir. Apalagi, mereka-mereka yang tujuan menonton film hanya sekadar untuk terhibur saja. Nah, kalau nawaitu-nya dari awal sudah seperti itu, ya susah. Pantas saja festival film seperti Europe On Screen tetap sepi.

Karena itulah, dalam tulisannya Imam bersemangat sekali berusaha mengatakan bahwa menonton film “intelek” bisa sangat mengasyikkan.

Sampai-sampai, ia (niat banget) membuat tips Enjoying Films For Dummies. Dan yang pertama adalah : Anda harus punya niat dan kemauan yang kuat untuk menikmatinya. Siapkan otak Anda untuk berpikir karena ini bukan film yang bisa ditonton sambil makan popcorn.

Dan bukan bermaksud menghakimi nih, tapi, sedikit karakter seseorang bisa terkuak dari film-film apa saja yang ditontonnya. Hahaha.

Sekali lagi, bukan juga bermaksud melebih-lebihkan, tapi harus menonton film Indonesia yang digarap dengan kualitas rendah itu bisa sangat amat menyiksa. Bayangkan, kita harus betah duduk selama 120 menit hanya untuk menyaksikan adegan-adegan yang menabrak logika secara banal, corny setengah mati, atau cheesy gila-gilaan. Menyakitkan sekali, ketika kita harus keluar bioskop tanpa mendapatkan apa-apa. Rasanya seperti perut ini lapar, tapi hanya boleh makan krupuk. Sudah gitu harus bayar lagi. Sebal kan?

“Film intelek, butuh penonton cerdas juga untuk memaknainya, dan untuk bisa eksis,” Imam Budiman.

Iklan