Let me show you how this is done. First thing, hold the glass up and examine the wine against the light. You’re looking for color and clarity. Just, get a sense of it. OK? Uhh, thick? Thin? Watery? Syrupy? OK? Alright.

Now, tip it. What you’re doing here is checking for color density as it thins out towards the rim. Uhh, that’s gonna tell you how old it is, among other things. It’s usually more important with reds.

OK? Now, stick your nose in it. Don’t be shy, really get your nose in there. Mmm… a little citrus… maybe some strawberry..

Begitu pahamnya Miles Raymond (Paul Giamatti) akan wine, ia tak sekadar lancar mendeskripsikan aroma, namun juga piawai memilah-milah kandungan rasa dari minuman tersebut secara detil.

Soal wine ini, saya termasuk newbie. Jangankan aroma, membedakan rasa thick dan yang thin saja terkadang masih suka salah. Hahaha. Budaya minum wine di Jakarta memang populer, tapi saya rasa sampai kapan pun akan begini-begini saja. Karena gaya hidup ini memang sangat segmented. Meski, pergerakan survey Vinexpo mencatat bahwa, konsumsi wine di Asia terus meningkat.

Cara gampang belajar soal wine selain mencari referensi di internet adalah mendatangi acara wine testing yang rutin digelar di kafe atau hotel. Setelah mengikuti eksebisi wine dan melakukan wine testing, cakrawala terhadap minuman ini akan semakin luas

Menurut informasi seorang teman, Di Vin+ Kemang, ada wine testing gratis setiap Selasa dan Rabu. Dari situ, kita bisa melatih lidah untuk membedakan macam-macam rasa wine, juga bertanya kepada para sommelier (pakar wine) maupun wine maker (produsen wine).

“Wine maker itu bertindak sebagai buku panduan, untuk memutuskan membeli label wine tertentu,” kata stephane Christophe dari hotel Nikko Jakarta. Sebaliknya, bagi wine maker, ini juga jurang kesempatan untuk memasarkan produknya di suatu negara. Jika memang feedback yang diberikan konsumen bagus, maka para produser wine akan semakin yakin untuk memasarkan produknya di negara tersebut.

Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti wine testing. Dari Afrika Selatan, hingga Prancis atau Italia. Yang terbaru, adalah acara Italian Fine Wines Co (IFW) di Grand Hyatt Indonesia, Rabu kemarin. Oh ya, negara-negara new world adalah penghasil wine yang sejarahnya belum terlalu panjang, seperti Afrika Selatan dan negara-negara Asia. Rasa produknya cenderung memiliki power, bold, dan berkarakter buah tebal (fruity). Sementara old world yang terdiri dari negara Prancis, Italia, ataupun Spanyol, spektrumnya lebih thin, getir, yang disebut elegan dan classy.

Menurut kenalan saya Budi dari Vin+, rata-rata orang Indonesia lebih suka taste yang fruity atau manis. Yang mendominasi pasar Indonesia, adalah produk wine asal Australia, negara penghasil wine terbesar keempat dunia. Beberapa produk Aussie terpopuler antara lain Sauvignon Blanc, Chardonnay, Shiraz, Cabernet Sauvingnon, Merlot, dan yang menjadi all time favourite Miles Raymond di Sideways, Pinot Noir (coba cek Sideways di imdb untuk tahu mengapa ia begitu cinta pada Pinot).

Sepulang dari sana, teman saya dari PR agency Idea Communication memberikan sebotol Beni Di Batasiolo tahun 2005. Ini akan saya simpan, dan dibuka pada saat khusus. :P. Oh ya, terus terang, saya mulai tertarik dengan wine gara-gara menonton Sideways. Dan ada line yang paling saya suka saat Virginia Madsen (pemeran Maya) menjelaskan kepada Miles mengapa ia begitu mencintai wine.

How it’s a living thing. I like to think about what was going on the year the grapes were growing; how the sun was shining; if it rained. I like to think about all the people who tended and picked the grapes. And if it’s an old wine, how many of them must be dead by now. I like how wine continues to evolve, like if I opened a bottle of wine today it would taste different than if I’d opened it on any other day, because a bottle of wine is actually alive. And it’s constantly evolving and gaining complexity. That is, until it peaks, like your ’61. And then it begins its steady, inevitable decline. And it tastes so fucking good,”.

“Wine is the drink of the gods, milk the drink of babies, tea the drink of women, and water the drink of beasts,” John Stuart Blackie
foto : sun lylia