Di film-film era 1980-1990an, masih banyak tema-tema film yang mendefinisikan cinta secara pragmatis. Ketika dua anak manusia sudah begitu beratnya mencintai satu sama lain, maka yang mereka butuhkan cuma itu. Ingat Kawin Lari (1975) yang dibintangi Christine Hakim?

Mungkin karena keterbukaan informasi, zaman yang semakin maju, kemandirian berpikir, serta persaingan antar individu yang begitu tinggi di Jakarta, maka pandangan “modal cinta” saja saat ini jauh dari cukup. Bahkan mungkin menjadi faktor kesekian dari alasan seseorang untuk memilih pasangannya.

Teman saya, mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Al-Azhar, Kairo, berkata sambil bercanda, “gadis Mesir memang cantik-cantik. Tapi, jangan berpikir bisa menikahi mereka sebelum memiliki sebuah flat (apartemen) sendiri. Itu sudah jadi syarat bagi pria untuk menikahi seorang gadis,”.

Mulanya saya pikir dia bercanda, tapi BBC News ternyata pernah membuat laporan betapa syarat yang memberatkan para pria itu 😛 membuat pasangan-pasangan muda di Mesir sulit menikah. Banyak pasangan memilih tetap bertunangan selama bertahun-tahun, karena tidak memiliki uang yang cukup.

“Ketika mereka akhirnya menikah dan tinggal bersama, mereka sudah bosan dengan satu sama lain,” tandas aktivis HAM Nihad Abou El Qoumsan. Ditambahkan Nihad, hal ini membuat faktor perceraian di Mesir sangat tinggi. Sampai-sampai, demi mengejar kebutuhan papan itu, banyak pasangan berebut mengikuti kuis televisi berhadiah flat, atau mendaftar di calon penerima apartemen yang diberikan oleh dermawan kaya setiap bulan Ramadan tiba. Ulama di Mesir berusaha menego syarat yang memberatkan itu, tapi ternyata gagal.

Teman perempuan saya, terheran-heran melihat teman sekantornya yang asal Jawa menikah di usia sekitar 22-24 tahunan. Selain masih muda, pasangan itu, menurut teman saya, juga belum mapan secara finansial. ”Kenapa sih mereka buru-buru menikah? Umur masih muda, rumah masih ngekos, ntar kalau udah punya anak bakal dikasih makan apa?,” pekiknya. Teman saya itu memang sudah memiliki karir bagus di perusahaan tempatnya bekerja, dan saat ini berencana mengalokasikan uangnya untuk membeli rumah. Meski, sampai sekarang statusnya masih single. “Belum ada yang cocok,” katanya.

Di Jakarta, tuntutan akan ”keamanan finansial” ini mungkin tidak seekstrim di Mesir. Tapi, dari “bersosialisasi” dengan lumayan banyak cewek-cewek Jakarta, saya bisa menyimpulkan satu hal. Mereka rata-rata mendambakan pria yang mampu menjamin kebutuhan finansial mereka di masa depan. Ini tidak selalu berarti silau terhadap kekayaan yang dimiliki saat ini, tapi lebih melihat kesolidan kepribadian seseorang diluar keinginan standar “mendambakan pasangan yang baik dan dapat mengerti dirinya”. Maksudnya, apakah orang tersebut memang memiliki kapabilitas, di kemudian hari, untuk menopang kehidupannya kelak.

Takaran ukurnya sangat-sangat tidak pasti, dan bisa bergantung pada banyak sekali faktor. Kalau misalnya, perempuan itu, sangat pintar, memiliki jenjang karir bagus, dan berlebih-lebih mencukupi dirinya, maka secara otomatis ia akan mencari pasangan yang diatasnya, atau paling tidak, lebih berhasil darinya. Ini tentu saja bakal semakin berat bagi pria-pria yang strata sukses atau strata sosialnya berada di bawah si gadis (kecuali kalau bapaknya punya tambak garam).

Dan dampaknya, para pria kini tidak bisa bersantai, bermain game setiap hari, berpangku tangan, untuk kemudian berkhayal, cinta dapat menyelamatkan mereka dari jurang kejombloan dan kemudian dengan modal dengkul bisa mendapatkan perempuan cantik dan sukses. Seperti hanya seekor singa yang sedang berburu, mereka harus bekerja keras ekstra keras untuk membekali diri dengan modal, posisi, kemampuan, kecerdasan, ketrampilan, hobi, serta otak yang lebih untuk mendapatkan hasil buruan memuaskan. Selain berkompetisi dengan para pemburu lainnya, mereka juga harus bersaing dengan “buruan” mereka sendiri. Setuju tidak?

You have to believe that you are the one who creates your success, that you are the one who creates your mediocrity, and that you are the one creating your struggle around money and success.

T. Harv Eker from Secrets of the Millionaire Mind