Memang pahit, tapi jujur kita harus akui bahwa Thailand lebih maju selangkah soal film horor. Soal kematangan eksekusi dan penciptaan konflik, soal keasyikan bercerita dan dramaturgi, serta kreatifitas penggalian ide dari latar belakang budaya lokal yang krusial dalam membuat cerita lebih dekat dengan penonton.

Sutradara/penulis skenario Ekachai Uekrongtham (Beautiful Boxer) menyutradarai supernatural thriller The Coffin setelah mendengar ritual upacara absurd yang digelar di sebuah propinsi di Thailand. Ritual yang disebut Non Loeng Sadorcro (tidur di peti mati, enyahkan nasib buruk) itu sudah berabad-abad dilakukan, namun baru populer selama beberapa tahun terakhir. Begitu populernya, hingga Guiness Book Of Records mencatat Non Loeng Sadorcro sebagai upacara pemakaman terbesar di dunia

Seperti namanya, upacara tersebut memperlihatkan ribuan orang berbaring di peti mati sementara para biksu melakukan ritual seakan mereka sudah meninggal. Ini pula yang menjadi adegan pembuka film The Coffin. Tepatnya ketika para partisipan, dalam sebuah wawancara di televisi, mengaku dapat terhindar dari kematian (cheating death).

Namun, apakah benar realitasnya semanis dan semudah itu?

Kenyataan itu yang coba dicari tahu oleh Chris (Ananda Everingham) dan Sue (Karen Mok). Chris, berharap dapat menyelamatkan tunangannya yang meregang nyawa karena kanker. Sebaliknya, Sue yang asal Hong Kong ingin mendapatkan hidupnya kembali setelah di diagnosa menderita tumor otak seminggu sebelum menikah.

Setelah melakukan ritual itu, baik Sue dan Chris mendapati kenyataan manis sekaligus tragis. Ya, kekasih Chris lantas sembuh begitu saja. Sementara dokter tidak menemukan sel-sel tumor di otak Sue. Tapi, saat itu juga keduanya secara bertubi-tubi mendapati insiden aneh dan tidak masuk akal.
Chris dan kekasihnya, terus menerus melihat wajah perempuan menyeramkan yang menggendong bayi. Sementara Sue mendapati fakta menyakitkan bahwa calon suaminya meninggal dunia mendadak, dan terus menerus menampakkan diri dihadapannya. Maka, baik Chris ataupun Sue pun berusaha keras mencari jawaban apa yang sedang terjadi dengan diri mereka.

The Coffin mungkin tidak berjalan meledak-ledak. Pun juga tidak frontal dalam memberi teror. Sekilas, film ini malah terasa datar. Namun, sebenarnya The Coffin sudah sangat lengkap. Lancar bercerita, padat dengan drama, asyik menakuti, serta selipan kejutan-kejutan kecil. Usaha manusia untuk menghindari kematian, yang menjadi tema film ini pun, sudah sangat menarik. Seperti yang diungkapkan Chris, ”kematian seseorang yang kita cintai jauh lebih menakutkan daripada kematian kita sendiri,”.