Selama sepekan kemarin rasanya semua orang berteriak ke telinga saya. ”Kapan Nang? Kapan? Si A udah, si B baru hamil, si C malah baru punya anak?”. Saat bersama keluarga, maka keluarga saya yang menjejar. Ketika bersama teman, saya jadi korban gojlokan karena hampir semua teman dalam social circle saya sudah menikah. Saat kerumah sahabat, giliran orang tua mereka yang bertanya.

Belum lagi mama dan papa yang selalu mejejalkan amunisi, “mama selalu berdoa setiap hari buatmu lho”, atau “sudah ingin segera melihat anak-anak mama mentas,”. Oh God. Itu sama saja menodongkan AK-47 dengan magazine penuh ke kepala saya, dan menyuruh saya berlari. Percayalah, tak ada yang lebih ingin saya lakukan selain membahagiakan kedua orang tua saya.

Tapi, tentu saja tidak semudah itu. Apalagi untuk urusan satu ini. Ah, sebenarnya masalah ini terlalu pribadi. But, fuck it. Now everybody knows. Oke, apa lantas kalau saya tidak memiliki pacar, berarti tidak mencari atau tidak laku? Bisa ya, bisa tidak. Masalahnya, selama ini semua cewek yang masuk dalam kriteria saya itu selalu saja memiliki barrier. Either she have a boyfriend, or we have different faith.

And believe me, I didn’t stop looking. Almost every week I grab a coffee with different girl. Tapi, tentu saja tak semua berlanjut. Atau berlanjut tanpa status. Kadang saya berpikir terlalu ini, terlalu itu, kurang ini, kurang itu. Dan setiap saya memberi banyak tanda cawang dalam “daftar-kriteria-calon-istri-sempurna” versi saya, serta baru memulai menancapkan pondasi awal, selalu saja dua barrier itu mengemuka. Dan percayalah, proses ini sangat melelahkan. Menghabiskan energi, biaya, dan waktu.

“Terlalu pilih-pilih lo!” kata teman saya. Well, why not? Kita mau yang terbaik buat diri kita kan? seperti juga saat memilih komputer, saya harus tahu dulu semua spek-speknya. Berapa RAM dan HDD-nya. And it better be a Mac, not PC. haha.

Apalagi, saya sangat berbeda dengan sepupu saya yang bisa bergonta-ganti cewek seperti gonta-ganti celana dalam (dan ya, dia lebih ganteng dari saya). Entahlah, mungkin saya terlalu sensitif. Pada 2001, untuk pertama kalinya saya putus dari pacaran serius. Waktu itu saya Cuma bisa bilang, “tobaatt, nggak mau lagi”.

Pada awal 2004, sekali lagi, saya putus dari hubungan serius. Dan saat itu juga langsung bersumpah untuk mengunci pintu hati ini rapat-rapat, seraya berujar, “kalau nanti pacaran serius lagi, harus langsung kawin,”. Since then, saya hanya terlibat on-off relationship dengan cewek-cewek yang sama sekali tidak membuat saya berniat membuka kunci itu.

Dan sekali lagi ya, saya menulis ini karena cewek yang membuat saya terlintas untuk berpikir kesana ternyata sudah berstatus in relationship. fuck. Andai saja ada yang menjual radar soulmate seperti radar Dragonball, sehingga saya tinggal mencari pasangan hidup saya merunut kedipan di radar itu, tentu akan sangat menyenangkan.

*updated
well, oke, maybe i get little carried away yesterday. but i just realize, why the fuck i give up so easily. it so not me. mengasihani diri dan menulis sesuatu yang negatif tidak akan membantu apa-apa. so, the hunting not even over yet. it’s only just started. 😛

Iklan