Saya baru merasakan bagaimana sebuah berita menjadi sesuatu yang sangat mengasyikkan sejak satu dua tahun belakangan ini. Sebabnya, selain mungkin dampak dari kedewasaan (cie cie cie), juga si Hum, teman sekos yang jadi rekan diskusi menyenangkan.

Menyingkapi sebuah berita, politik misalnya, gampang-gampang susah. Benar, tulisan di koran memang menjelaskan sebuah berita panjang lebar. Tapi, apa yang sebenarnya terjadi, siapa melawan siapa, latar belakang dibalik kejadian itu, tidak benar-benar diungkap secara eksplisit.

Nah, disinilah asyiknya bagaimana kita menyingkapi, memposisikan diri, atau sekadar berkomentar terhadap sebuah berita atau kejadian. Dan Hum, yang juga wartawan Indopos ini termasuk melek politik dan suka membaca.

Jadi, sering bertanya kepadanya tentang sebuah berita yang sedang panas, “ini sebenarnya soal apa sih Hum?”. Diapun memberi jawaban yang membuat saya manggut-manggut dan berkata “ooo…gitu to”. Tapi, saya juga tidak mau kalah untuk memberi asupan otak.

Selain membaca kover depan koran, saya paling suka rubrik opini, karena disinilah biasanya para pemikir-pemikir atau akademisi memberikan opini dan analisanya terhadap suatu masalah. Nah, kita tinggal mencomot analisa itu untuk dijadikan modal berargumen. Praktis. Hehe.

Nah, soal sok-sok analisa-menganalisa ini mendadak saya punya ide untuk membuat permainan yang membosankan. Kita sebut saja Selidik. Permainan ini dimainkan kalo memang nggak punya kerjaan lain yang lebih penting. Huehueh.

Ceritanya kita berlagak jadi detektif, menebak apa yang sebenarnya terjadi dalam sebuah peristiwa. Berita politik terlalu njlimet, jadi sasarannya adalah berita-berita kriminal yang tayang tiap malam. Dengan 240 juta penduduk, tak terhitung kompleksitas masalah yang dialami warga Indonesia.

Oke, here we go.

Diketahui :
Ditemukan tiga mayat di sebuah rumah. Seorang pria, istri, dan anaknya.

Dugaan polisi :
Pria itu membunuh anak dan istrinya sendiri, kemudian bunuh diri. Dari penyidikan dan saksi2 diketahui bahwa ada masalah di pekerjaan. Seorang saksi mengatakan si pria ini punya pekerjaan sampingan. Diduga valuta asing (valas). Pria itu juga menuliskan kata-kata bernada putus asa di cermin kamar mandi.

Apa yang terjadi dengan mereka?

Nah, tugas kita adalah mengimajinasi reka ulang, menebak motif pria itu membunuh keluarganya. Sama seperti yang dilakukan dokter nyentrik House, di serial favorit saya yang bertajuk sama, ketika ia mendiagnosa penyakit-penyakit aneh yang dialami oleh pasiennya melalui gejala-gejala yang ada.

“Pria itu didera masalah keuangan, kalah duit banyak, mungkin. Ia stres karena merasa gagal, tidak bisa membahagiakan keluarga. Akhirnya, karena tekanan yang memuncak, pria itu kalap dan nekad menghabisi keluarganya. Mungkin anggapannya agar mereka bisa bersama dan berbahagia disurga”.

itu analisa Hum. Masih banyak lobangnya. Tentu saja, karena kemungkinan-kemungkinan lainnya bisa sangat banyak dan terbuka lebar.

Karena itu, permainan makin seru jika dilakukan bersama-sama, untuk saling memberikan analisa, dugaan, atau imajinasi selogis mungkin dan dapat diterima. Hasilnya bukan untuk dijadikan candaan atau apapun, tapi mencari jawaban apa sebenarnya yang ada di pikiran pria itu hingga tega melakukan perbuatan keji tersebut.

Oke, kasus kedua.

Diketahui :
Mayat seorang remaja ditemukan membusuk di dalam rumah.

Dugaan polisi :
Dia ditinggal teman-temannya, sekitar 4 orang lebih, pergi mudik. Remaja itu diduga sedang sakit. Polisi sedang menyelidiki teman-temannya dan apa penyakitnya.

Apa yang terjadi dengan mereka?

Data yang ada dari berita itu memang sedikit. Ini membuat kemungkinannya semakin besar. Misalnya, kalau sakit, sakit apa yang membuat si remaja tidak bisa bangun, atau sekadar berteriak dan mencari pertolongan? Apakah dia pengguna narkoba? Bagaimana bila ia ternyata dibunuh, dan ada kejadian yang tidak diketahui? Nah, silakan berimajinasi.

Life is hard. After all, it kills you. Katharine Hepburn

Iklan