Ya Tuhan

Prinsip bad news is good news memang berlaku lekat pada para wartawan. Semakin tragis satu peristiwa, semakin besar nilai peristiwa itu secara jurnalistik. Tapi buat saya, yang setiap tengah malam hobi menonton tayangan recap berita sehari di layar TV, kok malah terganggu.

Betapa tidak, setiap hari, berita yang disajikan isinya sama dan setipe semua. Soal orang kaya kampung yang sadar bahwa setiap tahun peminta zakat padanya mencapai ratusan orang, tapi dengan gobloknya nggak mau spend lebih untuk sekadar manggil polisi buat mengamankan. Bayangkan, betapa sayangnya nyawa 21 orang yang meninggal demi uang Rp30 ribu. Bahkan saya lihat di TV korbannya ada yang ibu hamil. Ya Tuhan, bayangkan bagaimana rasanya terjepit di tengah-tengah sambil kehabisan nafas. Bahkan, beberapa wartawan yang meliput akhirnya malah memutuskan untuk membantu karena tak sampai hati melihat korban berjatuhan begitu banyak.

Lalu, isu daging gelondongan yang disuntik air, atau sudah basi, bahkan kini ditemukan di supermarket, bukan lagi pasar tradisional yang jorok. Isu daging tak berhenti sampai disitu. Semalam, misalnya, ada berita soal tempat pemotongan ayam yang ternyata jauh dari higienis.
Setelah menyembelih, oleh si tukang jagal yang entah mengucap syahadat atau enggak, ayam hanya di masukkan begitu saja di sebuah tong. Darah ayam dibiarkan (tidak mengalir), yang tentu sangat berbahaya karena berpotensi menyebabkan penyakit. Melihat tempatnya menyembelih dan merebus pun bikin mual saking joroknya.

Sekarang coba kita berandai-andai, misalnya pedagang pecel ayam di Jakarta beli daging gelonggongan atau daging yang disembelih sembarangan. Kemudian, ayam tersebut digoreng di wajan besar dengan minyak yang lebih mirip oli motor (karena hitam pekat dan kentalnya) yang acap kita temui di kedai Pecel Ayam pingir jalan. Lalu, bagaimana jika semua kuman-kuman itu masuk perut kita?
Makanya sudah 2 bulan terakhir saya bersumpah tidak akan makan pecel ayam pinggir jalan lagi, kecuali yang saya yakini sedikit higienis.

Lalu ada para pedagang yang menjual daging sisa hotel (yang sialnya laris manis dibeli pelanggan karena murah). Mereka yang beli, ya Tuhan, para pemilik warteg yang berniat mendapat untung lebih (meski tidak seberapa dibanding risikonya) ; kemudian ada mahasiswa tawuran gara-gara rebutan halte dan bikin kampusnya hancur ; 10 orang lebih mati gara-gara minum alkohol dicampur autan dan spirtus (guoblognya nggak ketulungan) ; remaja belasan tahun yang mati gara-gara nekad loncat ke sungai habis tawuran karena takut di tangkap polisi ; gudang berisi berton-ton gula rafinasi ditemukan ; minyak selundupan seharga miliaran ditangkap pake kapal Pertamina ; tahu diberi formalin biar awet ; dan ya Tuhan, belum lagi berita-berita lain soal pembunuhan, bunuh diri, dibunuh, narkoba, dan lain-lainnya.

Ya Tuhan, negara ini rasanya semakin chaotic saja. Pemerintah makin asyik ngurusin dirinya sendiri daripada rakyatnya, dan sekarang, didorong masalah ekonomi dan kemiskinan orang udah nggak peduli lagi dengan sesamanya. Bahkan kehilangan akal sehat.

Bayangkan, beli daging basi trus dimasak, dan disuguhkan ke pembeli warteg? penjual daging basi atau tahu berformalin, apa nggak miris lihat dagingnya dibeli ibu-ibu, untuk dimasakkan ke anak-anaknya? what were you thinking? dan, kalau di supermarket saja kita nggak bisa dapat daging fresh, dimana lagi kita bisa makan makanan higienis? oalah, negaraku, negaraku.


Tinggalkan komentar...

10 thoughts on “Ya Tuhan”

  1. hihihi, makanya, sebelum makan coba liat itu gimana bentuk penggorengannya. gede, item, dekil, jorok. ayam dicemplungin ke dalem minyak aja sampe nggak keliatan. wiii

  2. semua itu kisah lama, kawan. manusia kaya bagi-bagi duit meski dengan cara arogan. daging gelonggongan (bukan gelondongan, wakakakaka…), daging sisa, bakso terbuat dari tikus, formalin dalam tahu, kerupuk digoreng dalam minyak bercampur plastik, bahan-bahan makanan yang berbahaya tapi diloloskan begitu saja karena produsen sudah bayar upeti, kosmetik terbuat dari material (semen untuk facial, wakakakakakaka…), semua kisah lama. tak ada yang baru. hanya saja, selama 32 tahun kisah itu terdengar begitu lirih, nyaris berupa bisikan, dan akhirnya lenyap tersapu angin. baru sekarang inilah kita mendengarnya dengan jelas, karena ada yang lantang menceritakannya: media.

    aku juga kurang menyukai kualitas jurnalisme indonesia, terutama tendensinya. kalau dibandingkan dengan negara-negara maju, haduh… *speechless*

    tapi, ah… bukankah kita memang bangsa yang masih harus banyak belajar? namanya juga bangsa baru merdeka. dan merdeka yang kumaksud ini tidak terjadi pada 1945, melainkan 1998.

    buatku, yang terpenting adalah terbukanya peluang untuk memperoleh informasi. kalaupun informasi itu tidak bebas tendensi, atau bahkan tidak akurat, kitalah (komunikan) yang harus pintar-pintar menyaringnya. dan mengambil hikmah dari informasi tersebut, seburuk apa pun isinya.

  3. well said Dian. ya, dibandingkan Korea Utara dimana nasionalisme lebih tinggi dari agama atau Zimbabwe yang inflasinya bisa mencapai 300%, kita memang lebih baik. tapi aku tetep heran dengan mental2 busuk orang2 di negara ini yang udah begitu banal.

    Maling nekad nyuri ayam, karena ia butuh duit untuk makan anak-anaknya. Koruptor, udah punya rumah miliaran, mobil ratusan juta, tapi masih tetap korupsi, karena keserakahan sudah mengalir di nadi mereka. bahkan lebih parah dari narkoba.

    Ya, disini memang peran media jadi penting untuk melakukan kontrol dan, seperti bagian pertama dari 9 elemen jurnalisme Bill Kovach “Kewajiban utama jurnalisme adalah pada pencarian kebenaran”. ya, dengan berita2 seperti paling tidak, saya dan mungkin orang-orang lain yang menontonnya tersadarkan kondisi memprihatinkan yang dialami sebagian (kebanyakan) orang di indonesia.

  4. Ada lagi nih, bukan makanan tapinya. Lu tahu enggak shampoo yang pake mint. Kata istri gue yang pernah kerja di perusahaan salah satu produk shampoo tersebut, itu rasa mint bukan dari mint. Tapi dari cabe…

    Gue kagak mau percaya, tapi istri gue ngelihat sendiri.

  5. Pingback: kopi addict
  6. adooohhh..trus gw makan apa dong danaaaangg?? blum siap mental jadi vegan. Lagian sayur2an sekarang kan isinya pestisida, organik?? oke…it’s mean more expenses..pffiuhhh…

  7. “If you are what you eat and you don’t know what you’re eating, do you know who you are?”
    Claude Fischler (2004) Sociologist with the French National Center for Scientific Research.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.