Leonardo DiCaprio sudah menggunakan Toyota Prius sejak 2001. Prius versi awal itu model NHW11 1.5-liter 4 silinder, belum secanggih keluaran 2004–2009 (model NHW20) yang kami gunakan untuk test drive. Bedanya selain ukuran tubuh NHW20 150 mm lebih panjang dan aerodinamis, juga penggunakan teknologi Hybrid Synergy Drive (HSD) yang membuat konsumsi bensin lebih irit serta minim emisi.

Leo, memang termasuk selebritis Hollywood yang paling concern dengan lingkungan. Ia membuat film dokumenter The 11th Hour, yang dibuat setelah An Inconvenient Truth-nya Al Gore. Menggunakan mobil ramah lingkungan atau hybrid, adalah wujud kampanye Leo untuk menunjukkan kepeduliannya terhadap lingkungan dan pemanasan global.

Dan diapun tak sendiri, karena cukup banyak selebritis Hollywood yang juga berinisiatif menggunakan Toyota Prius. Beberapa diantaranya seperti Julia Roberts, Cameron Diaz, Danny Devito, Ryan Gosling, hingga si Ugly Betty America Ferrera.

Mengapa Prius ini lebih populer, dibanding mobil hybrid serupa, katakan Honda Civic hybrid, misalnya?

Itu karena beberapa keunggulan Prius yang mengungguli Honda Civic. Antara lain, dapat berjalan hanya menggunakan tenaga elektrik baterai, lebih minim polusi, ruang kabin lebih lebar, C/D atau coefficient drag lebih rendah, hingga baterai lithium yang lebih canggih. Itu pula yang membuat penjualan Prius jauh mengungguli Civic Hybrid (3 banding 1).

Sekilas pandang, bagian depan mobil mid-size liftback ini terlihat seperti paduan Innova dan Honda Stream. Yang membedakan adalah garis bodi melengkung ke belakang yang bermuara di buritan. Desain buritannya cukup cantik. Bongsor dari belakang, tetapi kelihatan ramping dari depan.

Suara mesinnya sangat halus, nyaris tak terdengar. Ketika menggunakan sedikit tenaga (kecepatan tak melebihi 10 km/jam), mesin elektrik Prius berfungsi sebagai penggerak utama. Namun, ketika pedal gas diinjak lebih dalam, giliran mesin bensin yang mengambil alih peran sebagai penggerak utama.

Yang unik lainnya, perpindahan gigi otomatis tak serumit mobil matik lain. Hanya ada tiga arah, N, D, dan R, dilengkapi B sebagai pengganti handbrake. Tombol itu bukan terletak di konsol tengah, tetapi di dasbor, sebelah kiri setir.

Terus terang, kami (saya dan Doni Botak) sangat terpesona dengan konsumsi bahan bakar yang sangat irit. Di dalam kota dan melibat kemacetan Jakarta, Prius hanya mengkonsumsi 1 liter bensin untuk 20,7 hingga 25 km. Kita ngisi Rp100 ribu dapet 5 bar. Dibuat kota-kota seharian cuma dapat 1 bar saja. gila. Bahkan lebih irit dari Subaru R1 dan R2 yang bermesin dibawa 1000 cc.

Kuncinya, sekali lagi ada pada sistem Hybrid Synergy Drive (HSD). Sistem tersebut menggunakan kombinasi motor listrik dan pembakaran di mesin, dengan memaksimalkan kekuatan dari kedua sumber daya tersebut disamping saling mengisi kekurangannya. Energi yang biasanya terbuang menjadi panas pada saat dikendarai, pengurangan laju dan pengereman diubah sebagai tenaga listrik, yang kemudian digunakan kembali untuk memberikan tenaga ke motor elektrik.

Karena konsumsi bahan bakar yang efisien, mobil hybrid mengeluarkan lebih sedikit emisi gas buang dibandingkan dengan mobil konvensional, dan ini yang membuat mobil Hybrid lebih ramah lingkungan.

Tapi sayang, tingginya bea masuk dan cukup sulitnya proses perizinan mobil hybrid membuat harga Toyota Prius di Indonesia jadi lebih mahal (sekitar Rp400 juta). Padahal, di AS, Prius standar hanya dijual seharga USD22 ribu (Rp202 juta) dan versi touring USD24 ribu (Rp240 juta).

Para ATPM seperti PT Toyota Astra Motor (TAM) pun sudah mengaku siap mendatangkan mobil hybrid seperti Prius. Ditengah harga BBM yang naik seperti ini, mobil hybrid yang irit dan ramah lingkungan seperti ini adalah salah satu solusi jitu. Tapi entah kenapa, pemerintah yang mengaku concern dengan lingkungan justru tidak melihat hal ini.