Saya acap merasa betapa gemar saya memandang sesuatu secara negatif. Sering berpikir pesimistis. Selalu memikirkan seribu kemungkinan buruk yang bakal menimpa, bahkan sebelum mulai berusaha. Saya memang sudah merasa, tapi tak benar-benar sadar. Saya sudah tahu, tapi tidak cukup mengerti.

Dan agaknya, Tuhan, lewat caraNya sendiri, menyadarkan saya tentang hal ini.

Bermula setelah teman saya, Kelmi, akan berangkat ke London, Inggris, selama 10 hari. Dia adalah salah satu wartawan yang akan mendampingi J-Rock untuk merekam beberapa lagu di Abbey Road, studio yang konon digunakan oleh grup pop terbaik sepanjang masa The Beatles.

Ya, Kelmi adalah salah satu pemenang kompetisi menulis yang diadakan oleh A Mild Live Soundrenalin, untuk meliput event outdoor terbesar di Indonesia itu.

Jauh-jauh hari, Kelmi sudah begitu antusias dan sangat optimistis untuk mengikutsertakan tulisannya. Saya, yang kebetulan memegang halaman musik, tentu saja sangat mendukungnya. Liputannya saya beri porsi yang cukup besar.

Namun, saya keburu pesimistis melihat liputan dari media-media lain. Kompas misalnya, di hari minggu 2 pekan lalu, memuat liputan bagus tentang J-Rock yang akan melenggang ke Abbey Road. Di fotonya, para personel J-Rock tengah berdiri berjajar, sambil memberi hormat ke sang saka merah putih. Liputan itu bagus sekali. Well planned, well coordinated. Lagi-lagi perasaan minder saya bertambah.

Belum lagi liputan-liputan dari media-media musik yang lain seperti Hai, Rolling Stone, juga koran-koran lokal tempat Soundre digelar. Maklum, iming-iming ke Abbey Road ini selalu digembar-gemborkan pihak A Mild kepada puluhan, bahkan total ratusan wartawan yang meliput. Bayangkan, berapa banyak liputan soal Soundrenalin ini, berapa banyak wartawan yang ikut serta, berapa banyak yang bagus-bagus. Pastinya, kans untuk menang sangatlah kecil.

See, belum-belum saya sudah pesimistis.

Tapi begitu Kelmi mengabarkan bahwa tulisannya yang dipilih oleh juri, saya, entah kenapa, merasa gembira sekali. Bahkan mungkin lebih gembira darinya.

Saya gembira, bukan saja karena halaman yang saya pegang bisa lebih unggul. Tapi, ini adalah kejadian, apa ya, breaking boundaries (mendobrak batas), yang terjadi begitu dekat dan lekat dengan saya sendiri.

Saya gembira, karena melihat seseorang yang begitu persisten dan optimistisnya, akhirnya mendapat sesuatu yang dia inginkan begitu sangat. Saya gembira, bahwa harapan yang begitu tinggi itu bisa tercapai, dan ternyata sangat mungkin untuk diraih asalkan punya niat dan bersungguh dalam berusaha.

Tapi pada saat itu juga saya malu dan merasa tertampar. Malu, karena hal itu sekaligus menunjukkan betapa saya tidak pernah percaya dengan kemampuan saya sendiri. Betapa saya selalu meragukan diri sendiri. Saya malu, karena selalu menyelimuti diri dengan kegagalan, keraguan, dan bayangan negatif. Saya malu, karena mudah sekali menyerah dan begitu mendapat sedikit halangan.

Sungguh, kejadian ini seperti menampar dan menyadarkan diri saya. Memperlihatkan kepada saya kondisi dan jalan pikiran yang mengendap di otak saya selama beberapa tahun terakhir ini. Saya seperti bercermin, dan melihat semua sifat-sifat buruk saya di dalam cermin itu.

Seperti berkonsultasi pada psikater yang mengenal diri saya lebih dari saya sendiri, dan mendengarnya memberikan jawaban tentang masalah yang mengganggu pikiran saya selama bertahun-tahun ini. Seperti seorang penemu yang mendapatkan inspirasi dengan muncul lampu bersinar diatas kepalanya sambil berteriak, Eureka!!!

Dan mungkin, kedepannya, saya harus berkaca pada Naruto.

Terlepas dari peralihan wujudnya sebagai siluman rubah ekor sembilan yang sangat kuat saat dia berada dalam kondisi berserk, kung fu dan jurus ninjanya justru paling lemah dibanding teman-temannya. Ia tidak pernah menang mudah saat bertarung. Tidak mudah dan sangat berat, tapi ia lebih banyak memenangi pertarungan daripada kalah.

Kekuatan terbesar Naruto yang membuatnya bisa mengalahkan lawan dengan level Hokage sekalipun, menurut saya, karena ia tidak pernah sekalipun meragukan dirinya. Naruto sangat persisten, berani, bermental baja, dan selalu berpikir optimistis. Dan yang paling penting, dia tidak pernah kehilangan harapan, dalam kondisi tersulit sekalipun.

Optimism is the faith that leads to achievement. Nothing can be done without hope or confidence. – Helen Keller