Ada film berbekal efek sophisticated, CGI superhalus, serta adegan eksyen superkeren yang hanya berakhir dengan selintas ingatan setelah menontonnya. Tapi, banyak juga film low budget beranggaran rendah yang terus mengendap diotak. Kuncinya, ada pada kualitas skenario yang diukir sedemikian cantiknya.

Saya kenal Sideways, Little Miss Sunshine, dan yang (baru) saya tonton semalam, Juno. Film ini begitu asyiknya bercerita lewat skenario yang kocak dan karakter-karakternya yang apik. Oh ya, selain tag “part time boyfriend, full time friend”, adegan yang saya ingat adalah saat Juno menjumpai ayahnya dalam keadaan kecewa.

Ini karena pasangan yang akan menerima bayinya, Mark dan Vanessa Loring, yang dikiranya serbasempurna justru berada di puncak konflik hubungan mereka. “I just need to know if it’s possible for two people to stay happy together forever, or at least for a few years,” kata Juno desperately kepada ayahnya.

“It’s not easy, that’s for sure. Now, I may not have the best track record in the world, but I have been with your stepmother for 10 years now and I’m proud to say that we’re very happy” sahut si ayah.

“In my opinion, the best thing you can do is find a person who loves you for exactly what you are. Good mood, bad mood, ugly, pretty, handsome, what have you, the right person will still think the sun shines out your ass. That’s the kind of person that’s worth sticking with,” tambahnya. haha.

Well, pesan moralnya mungkin, tidak ada pasangan yang benar-benar sempurna. Yang terbaik, justru pasangan yang bisa mengerti dan menerima diri kita apa adanya. Seperti Mark dan Vannessa yang kelihatan seperti pasangan ideal, sama-sama cantik dan tampan, sama-sama sukses dan kaya. Tapi dibalik itu, mereka sama-sama punya issue. Vannessa yang begitu berambisi punya anak dan mengidamkan hidup serbasempurna, dan Mark, yang ternyata masih “childish” dan merasa berada dibawah bayang-bayang Vanessa. oh well.