Kita baru sadar betapa berartinya sesuatu setelah tidak ada. Kalau dalam bulan puasa ini, sesuatu itu adalah bersahur dan berbuka bersama keluarga. Sekarang mungkin saya heran, mengapa dulu bisa malas bangun bersahur, ketika seluruh makanan yang lezat-lezat sudah disiapkan oleh mama diatas meja.

Saat berbuka pun, mama pasti menyiapkan buah-buahan segar favorit saya, serta es buah penghilang dahaga. Ini sudah tahun keempat saya di Jakarta, tapi momen-momen itu tetap terbayang di kepala.

Meski, Ramadan sekarang ini lebih mending daripada tahun lalu, dan sebelum-sebelumnya. Dulu, saya harus bangun sendiri, lalu berjalan mencari sahur di warteg yang, duh, menunya bikin rasa lapar mendadak hilang.

Sekarang mendingan. Selain ada beberapa anggota kos baru, kami juga membayar Rp10 ribu per hari untuk dimasakkan sahur oleh pembantu kos. Jadilah tiap sahur selalu saja ramai. Makan pun bersemangat.

Soal berbuka, kali ini kantor hanya menyediakan takjil. Alhasil di hari pertama puasa saya jadi musafir, berbuka di masjid Bimantara. Tapi besoknya, ada peningkatan gizi karena bisa berbuka di resto favorit saya, Syailendra Restaurant, J.W Marriot Hotel.

Soal best buffet in town, Syailendra ini berada di tiga teratas bersama Satoo di Shangri-La dan Airlangga di Ritz Carlton. With tons of varieties, and everything tastes great. You can eat till u bloat. Cumi panggang, all you can eat sashimi, sup, bebek peking, lasagna, dan my all time fave, desserts. Chocolate fountain beserta buah dan kue-kue kecil yang manis-manis itu tak hanya memanjakan lidah, tapi juga mata.

Oh ya, setiap hari, undangan berbuka hampir selalu ada. Bahkan berganda. Tadi saja, saya harus memilih antara buffet di InterContinental Hotel Jakarta dan undangan di Pisa Café Menteng dari Universal Music.

Besok pun, Sampoerna harus mengalah dengan B.W Communication yang terlebih dulu “memboking” saya untuk berbuka di Dapur Sunda, Pasific Place. Huehuhe. Well, first come first serve. Dengan prinsip anak perantauan “cheap is good, free even better”, tentu puasa ini bakal jadi ajang “bertualang kuliner” dari restoran ke kafe, dari hotel ke mesjid. Hahaha.

Tapi, tentunya itu hanya gimmick saja. Karena bukan karena itu bulan Ramadan ditunggu. Seperti hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, “Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus.”

Untuk itu, di bulan suci ini, saya seperti halnya umat Islam lainnya, saya berniat untuk mengisi asupan rohani, dan mendekatkan diri pada Nya. Untuk mencari pengampunan, mencari bonus pahala berlipat-lipat, mendapat keistimewaan ibadah, menggapai kecintaan Allah, serta memanjatkan doa dan permohonan. Amin. Oh ya, yang pertama dan utama : sholat lima waktu. 😛

Iklan