4bia

4bia seolah menunjukkan kembali kepada saya bagaimana asyiknya diteror oleh film horor. Seperti apa serunya ditakuti, menjerit bak seorang gadis, menutup mata dengan tangan, serta bertalu-talunya rasa penasaran sambil menanti kejadian apa akan yang bergulir selanjutnya.

Film kolektif 4 sutradara muda Thailand ini mungkin tidak membukukan sebuah pakem film hantu seperti halnya Ju’on atau The Ring. Namun, dibalik kesederhanaan berceritanya terangkum formula yang lengkap untuk membuat tontonan horor berisi.

Oke, sebuah film horor saya sebut sukses bila dapat membuat penontonnya menutup mata, atau mengintip dari balik jari tangan (seperti yang saya lakukan saat menonton 4bia kemarin malam).

Agar penonton ketakutan, mereka butuh alasan. Tidak sekadar menampilkan hantu secara frontal. Logikanya sama ketika saya bisa menikmati sebuah adult video secara maksimal ketika filmnya beralur, dan karakternya “hidup”.

Dengan logika cerita yang bisa diterima, maka mudah bagi kita untuk mengunyah ketakutan itu dengan nikmat. Ini yang jarang dimiliki film horor Indonesia yang sering ceritanya terlalu absurd, dibuat-buat, dan mengada-ada. Lha, kalau belum-belum sudah skeptis dengan logika cerita yang disusun, jadi fatal, karena bakal sulit untuk menerima dan menikmati sisa cerita. Apalagi ditakuti.

Dan 4bia, mampu merancang logika cerita dengan baik. Tidak istimewa, sebenarnya, tapi lengkap. Dari sebab-akibat, teror, caranya menghantui yang serba tidak berlebihan, dan juga, ya, pemain-pemainnya yang berakting prima. Kedekatan budaya Thailand dan Indonesia pula yang membuatnya semakin berkesan.

Film ini terbagi dalam empat cerita pendek. Film pertama, Happiness, disutradarai oleh Youngyooth Thongkonthun. Ceritanya tentang seorang gadis yang mendapat SMS dari nomor tak dikenal. Karena kesepian, SMS itu dibalas. Mereka pun saling berbalas SMS. Adegan mulai menyeramkan ketika lawan SMSnya mengirimkan kembali foto si gadis lewat MMS. ”Curang, kamu mengirim fotoku lagi, fotomu mana?” kata gadis itu. ”Aku ada disebelahmu,” balas si pengirim misterius.

Cerita kedua, saya tidak begitu suka. Berusaha untuk dibuat stylish dan ber-pace cepat, tapi malah mengada-ngada. Mirip horor Indonesia yang disutradarai Nayato. Tit For Tat, judulnya. Disutradarai oleh Paween Purijitpanya. Ini bercerita tentang cowok SMA korban bulliying yang membalas dendam dengan ilmu hitam. Sadis iya, seram tidak.

Cerita ketiga arahan Banjong Pisanthanakun ini favorit saya. In The Middle bercerita tentang empat cowok yang kemping di hutan untuk berarung jeram. Dimulai dari adegan kocak soal saling bercerita hantu, sampai akhirnya mereka mendapati salah satu temannya yang dikira tenggelam kembali lagi ke tenda. Horor seperti ini menarik, penuh komedi, seru, dan meneror sekaligus.

Yang terakhir, menurut saya yang terbaik. The Last Fright, digarap oleh Parkpoom Wongpoom. Ceritanya tentang Pim, seorang pramugari cantik yang harus mengawal jenazah dari putri raja negara lain. Teror memanas begitu pesawat mulai turbulence, dan tiba-tiba jenazah itu terhempas dari tempat duduk dan mulai menerornya. Hii…

Yang jelas, 4bia sangat recommended. Jika ditonton di bioskop di malam hari, seramnya jadi dua kali lipat. Sehabis nonton, saya saja hampir kencing di celana gara-gara buru-buru keluar dari kamar mandi Blitz Megaplex yang senyap itu. Huhuhu.

Oh ya, saya rekomendasikan juga Three Extreme. Ini film horor sadis dan penuh darah dari sutradara-stradara favorit saya. Ada Takashi Miike dari Jepang, Park Chan dari Korsel, dan Fruit Chan dari Hong Kong.


Tinggalkan komentar...

14 thoughts on “4bia”

  1. Akur banget, film keempat seremnya pol. Gue sampai minta pulang, asli gak berani ngelihat mayat si putri kerajaan itu tahu2 terlempar-lempar ke deket pramugrarinya. Yang tutup mata di film ini bukan cuma gue sama Fatia, cowok2 detikhot beberapa juga ketakutan setengah mati, hahahahaha, ternyata sama aja mereka.

    In The Middle bagus ditaruh di tengah2. Jarang-jarang nonton film horor malah ketawa. Tapi belakangan gue sadar, kalau In The Middle sengaja ditaruh di bagian ketiga, supaya kita rileks dulu sebelum tegang dan ketakutan gila untuk film ke-4.

  2. tuh kan, tuh kan. berarti gue nggak penakut-penakut amat ya Ny. masa gue diejekin temen gue gara2 hampir 60 persen adegan film tangan gue ada di depan mata. wekekeke.

    iya, gue juga geli banget, waktu itu mayat tiba-tiba dateng ke si pramugari, antara takut, geli, dan jijik. wakakaka.

    oh ya, temen nonton gue juga minta pulang. 😛

  3. mukanya princess sophia mirip aming, puak mirip BAMS SAMSON and c pink mirip alyssa soebandono !! nyahahahahaa….!!
    gw terhibur ama film ke3 dan ke4..
    film ketiga kocak+meneror+bikin penasaran..
    film keempat agag mwnjijikkan liat putri kerajaan muntah didepan muka pramugari,tapi endingnya yg bikin gw shock!

  4. @ Nana : akting tiga-tiganya memang kocak berat.

    @ Ploy : mukanya princess sophia mirip aming ==>>> BWAKAKAKKA. Kalo pink, actually cuma dia yang bikin gw betah ngeliatin film yang kedua.

    film keempat agag mwnjijikkan liat putri kerajaan muntah didepan muka pramugar =====> lho, emang ada yang muntah ya? pasti pas tangan gue nutupin muka, bawakakakaka.

  5. setelah nonton film ni, gw jadi parno kalo denger suara batuk2…
    eiya…pemeran Ter sapa si? ada yg tau ga ?? sayang.. ganteng-ganteng tapi harus mati…

  6. salam kenal… baru tahu blog ini… gw sebenernya penakut tapi menurut gue film ini kok justru gak terlalu serem ya?? mungkin karena 1 film dibagi 4 cerita, jadi teror nya gak berasa banget… soalnya abis dari blitz, pulang2 gue masih bisa tidur sendiri malem2 hehehe… padahal biasanya kalo abis nonton horror gue suka parno sendiri

  7. iya. . .4BIA keren bgt
    pertamanya emang agak garing tapi ternyata paz cerita ke 3 wahhhh NUTTAPONG”FreuD”Chartpong keren bgt

    sampe” gw pengen bgt ke thailand cuman bwat ketemu NUTTAPONG’Freud’CHARTPONG

  8. gilaaaaaaaaaaaaaaa ada 4bia2 lho…………….

    nuttapong juga main lagi tapi ceritanya mereka jadi kru film gtuuuuuuuuuu

    premiernya 09.09.09

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.