Seandainya saja Bobby menonton konser The Used di Tennis Indoor Rabu malam lalu, dia pasti ngomel-ngomel. “Lha wong kita ni dateng bayar, kok masih disuruh nyanyi. Kita ini kan pengennya dihibur,” katanya setiap melihat seorang vokalis band mengarahkan miknya ke penonton, meminta mereka ber-sing-a-long.

Saya sebenarnya tak selalu setuju. Tapi, saat melihat konser The Used, I couldn’t agree more with him. Grup rock and roll—begitu mereka ingin disebut—asal Utah, itu tampil underperform. Bert McCracken, si vokalis, hampir sepanjang konsernya mengacungkan mikropon ke arah penonton. Maksudnya sih, agar mereka ikut ber-sing-a-long.

Yang terjadi, rasanya konser itu malah milik penonton. Mereka semua bernyanyi hampir di tiap lagu. Mulai lagu-lagu di album debut The Used (2002) seperti Buried Myself Alive, On My Own, The Taste Of Ink, hingga mini album Shallow Believer yang baru saja dirilis awal tahun ini. Wow, saya sendiri sampai heran kalau ternyata begitu banyak The Used fanatik di Indonesia.

Ya, saya juga ketagihan band ini sejak rilisan pertama mereka. Dan rasanya itu rilisan terbaik. Paling enerjik, dan paling catchy. Gebukan Dan Whitesides yang berdebaman, gemuruh bebunyian bas Jeph Howard, serta laju distorsi gitar Quinn Allman menjadi paduan apik ketika disatukan dengan vokal Bert yang melengking serak.

Namun, entah mengapa The Used seperti tampil tidak fit. Sepertinya mereka hanya memberi 75 persen energi. Suara Bert sering sekali tak terdengar. Dan screamingnya yang sangat berkarakter itu terlihat pelan dan lemah. Katanya memang, dia sedang sakit tenggorokan. Sound gitar Quinn beberapa kali terlepas kasar, juga bas Jeph yang acap tidak singkron dengna ketukan dram Dan. Arrghhh, sebagai salah satu penggemar The Used saya kecewa. Juga hampir gila ketika mereka menyimpan A Box Full Of Sharp Objects di repertoar paling akhir. Buset. Kalau mereka tidak menyanyikan lagu itu, saya bisa mencekik orang disebelah saya. Hahaha.

Iklan