My body was forced to it’s limit. Maunya sehat, tapi malah sakit. Rutinitas harian saya selama beberapa minggu terakhir ini memang menyiksa tubuh. Kira-kira seperti ini, setiap hari saya bangun pukul 10-11 siang, ke kantor. Pukul 6-7 malam setelah halaman selesai di layout langsung pergi ke gym, forsir cardio-beban, pulang pukul 21.30 malam. Lanjut main internet-nonton kabel/dvd-dst, sampe pukul 4.30 pagi.

Iya, ini gara-gara anak-anak kos yang setiap hari tidur jam 5 pagi (sambil mainan Winning Eleven). Saya pun terpengaruh, lha kamar saya letaknya pas disebelah ruang tengah. Karena rata-rata mereka kerja malam atau sore, pulang tengah malam, wajar kalau tidur hingga pagi. Sepanjang siang bisa dihabiskan untuk tidur. Sedangkan saya sudah harus berangkat siang. Itu diperparah pula dengan bergadang, ngerokok, makan tidak teratur, serta kecapekan.

Dalam kondisi tubuh yang lemah, penyakit mudah menyerang. Kali ini, bengkak di tenggorokan saya timbul lagi. Ya, gejala serupa saya rasakan dua tahun silam. Karena kebanyakan nyimeng, akhirnya tenggorokan saya merah dan bengkak.

Selain badan meriang karena infeksi, rasanya juga mengerikan. Daerah sekitar amandel seperti ditusuk-tusuk banyak jarum. Gataaal, perih, dan geli sekaligus. Kalau sudang kumat (sekitar 30 detik-1 menitan), bahkan saya tidak bisa bicara. Hanya merasakan sakitnya, berharap cepat berhenti.

Gara-gara itu juga saya sempat berhenti merokok selama setahun, sebelum akhirnya kumat lagi, hehe. Yang membuat saya berhenti, karena kata-kata dokter waktu itu, “kalau nggak berhenti ngerokok, 6 bulan lagi kamu operasi,”. Wakaka. Daripada dibuat operasi, mending duitnya buat backpacking.

Bengkak yang sekarang ini, tak separah dulu. Tapi, tenggorokan saya terasa serik. Rasanya seperti terlalu banyak memakan mangga muda atau nangka. Kemarin malam badan saya juga meriang. Dan akhirnya tidak masuk kantor. Sepertinya saya harus berhenti merokok, dan membatasi diri untuk tidur dibawah jam 12 malam. Fiuh. Sick sucks.