“As long it involves guns, then it’s a good movie,”
al pacino

Haha, im kidding. Al Pacino would never said that. I did. 😛

Well, ini gara-gara hampir semua teman saya mendiskreditkan Wanted. Terutama para cewek. Tapi saya tidak. Malah, saya menyesal menontonnya di DVD, dengan kualitas sound yang belum sempurna pula. Wanted, menurut saya mampu mendeliver high octane action yang sangat nikmat.

Saya memfavoritkan Hulk versi Ang Lee yang unggul di ceruk psikologis. Tapi, bukan berarti Hulk arahan Louis Leterrier tidak asyik. Sometimes, kita datang ke bioskop murni untuk terhibur. Dan, film-film seperti ini lah yang menghibur saya. Padat, simpel, melibatkan banyak senjata, serta eksyen konstan dan rapid. Hahaha.

Wanted bercerita soal Wesley Gibson (James McAvoy), seorang pekerja kantoran yang secara tidak sengaja terhubung ke persekutuan pembunuh The Fraternity. Menurut ketua persekutuan Sloan (Morgan Freeman), ayah Wesley dibunuh oleh pembelot bernama Cross. Kini, dibantu oleh Fox (Angelina Jolie), tugasnya adalah melenyapkan Cross.

Keasyikkan Wanted selain melihat mobil doin 540 flip seperti papan skateboard, juga adegan membengkokkan tembakan (curve shot). Para anggota Fraternity diceritakan sebagai orang-orang khusus dengan indera yang peka. Jantung mereka bisa berdegup hingga 400 kali lebih cepat, membuat mereka bisa melihat kejadian dalam high speed (tapi terlihat slow-mo).

Kemampuan ini tidak asing. Mirip adegan bullet time dalam The Matrix. Tapi, lebih mirip lagi dengan kemampuan yang dimiliki game Max Payne, dimana dalam beberapa detik ia bisa menembakkan senjata secara simultan.

Mungkin, yang jadi problem buat saya adalah soal senjata. Ya, film ini berintikan senjata. Dari handgun dan senapan serbu (assault rifle) terbaru, hingga model klasik (oldschool). Tapi keberadaan mereka cuma jadi selai. Andai saja di skenarionya senjata-senjata ini digali mungkin dapat menambah gimmick film ini. Ohya, mengapa Fox dan Wesley tidak bercinta? *Sigh.