“remember, it’s only for lust,”.

saya katakan kalimat itu padanya, mungkin dua tahun lalu. dia menyanggupi, sebelum saya menyadari bahwa ternyata hatinya begitu rapuh dinodakan cinta.

“kau main hati!,” tuduh saya. Saya lihat itu dari matanya, saya kecapi harapan itu dari gerak tubuhnya.

“kau langgar aturan itu, kita selesai!”.

dia menolak. saya pun tak kuasa untuk tidak menerimanya kembali. karena kami sama sadar, saya butuhkan tubuhnya sebanyak harapannya membuka pintu hati saya.

tapi sayang, pintu itu, masih dan tetap terkunci untuknya.

sampai akhirnya, tadi, dia mengakhiri sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimulai.

“Kita selesai,” katanya, meninggalkan saya merasa, sendiri