Selesai

“remember, it’s only for lust,”.

saya katakan kalimat itu padanya, mungkin dua tahun lalu. dia menyanggupi, sebelum saya menyadari bahwa ternyata hatinya begitu rapuh dinodakan cinta.

“kau main hati!,” tuduh saya. Saya lihat itu dari matanya, saya kecapi harapan itu dari gerak tubuhnya.

“kau langgar aturan itu, kita selesai!”.

dia menolak. saya pun tak kuasa untuk tidak menerimanya kembali. karena kami sama sadar, saya butuhkan tubuhnya sebanyak harapannya membuka pintu hati saya.

tapi sayang, pintu itu, masih dan tetap terkunci untuknya.

sampai akhirnya, tadi, dia mengakhiri sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dimulai.

“Kita selesai,” katanya, meninggalkan saya merasa, sendiri


Tinggalkan komentar...

8 thoughts on “Selesai”

  1. *langsung dikomentari dari gorontalo*
    jadi udahan nih?

    xoxoxoxox

    *maap,tidak smpatik*

  2. kalau aja cowok bisa enggak lupa kalau mereka punya pikiran dan punya hati, bukan cuma punya perut yang memang cuma menghasilkan nafsu…

  3. cuma ngerasa ada seseuatu yang hilang aja kok, masa itu juga disebut main hati? *denial. tapi ya sudahlah, good for her, semoga nggak ketemu lagi seorang asshole kayak gue. hahaha.

  4. @ Megslogan : ya, cowo juga punya pikiran dan punya hati. tapi mereka lebih bisa ngasih batas, dan bisa “cuma” berpikir nafsu aja. tanpa hati. hahaha.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.