Saya tak punya cukup alasan untuk membeli Subaru R1 seharga Rp130an jutaan, kecuali mereka yang sudah memiliki sebuah Toyota Alphard, Honda All New Accord, dan Nissan Livina X-Gear di garasi rumah mereka.

Subaru itu “hanya” digunakan untuk bermain golf ataupun fitness di Clubhouse dekat rumah. Titik. Karena saya cukup stres ketika membawa mobil mungil ini melibas jalanan padat Jakarta rute Sudirman-Pondok Indah.

Dimensi mobil yang kecil mungkin lucu saat dikendarai di jalanan sepi. Sebaliknya, dijalanan macet rasanya bukan pilihan menyenangkan. Selain sulit mengukur jarak antarmobil, gampang dipotong, juga terkesan ringkih. Bayangkan menaiki bom-bom car di jalan raya, kikuk dan rikuh kan rasanya?

R1 adalah two-door version dari Subaru R2, yang baru akan kami pinjam minggu ini. Bedanya, tubuh dan wheelbasenya lebih pendek. Dan jangan berharap banyak dengan mesin 658 cc 16-valve AVCS, meski sudah DOHC. Irit sih, tapi tarikannya nggeret. Tenaganya sama iritnya dengan bensinnya, cuma 54 dk.

Dan yang jelas, mobil ini overpriced. Tambahkan Rp5-Rp15 juta lagi sudah bisa membawa pulang Suzuki Swift, Toyota Yaris, atau Honda Jazz yang kelasnya jauh lebih unggul.

Nah, Cevrolet Captiva Diesel justru sebaliknya. Mobil ini mengubah pandangan saya tak hanya tentang diesel, tapi juga tentang bahan bakar biodiesel.
Lebih dari 12 tahun lalu, sejak ayah menjual Panther-nya, saya tidak pernah mengisi diesel di pombensin. Dan inilah hasilnya :

Saya : Mas, ada diesel?
Pom guy : yah ini diesel..(sambil menunjuk label Biodiesel).
Saya : euh, saya diesel biasa ajah ada kan mas?
Pom guy : lho, sekarang semua pake biodiesel bos.
Saya : ….euh

Well, eniwei, Chevy ini mesinnya sudah common rail, tapi masih bisa diajak sengsara minum solar lokal. Dibandingkan rival sekelasnya, Toyota Fortuner, memang bodinya kalah besar. Tapi, saat memegangnya langsung terasa banget sportynya.

Tenaganya nyalak, gagah dikendarai, dan handling yang smooth. Dengan harga Rp289.5 juta, kita mendapatkan paduan diesel irit dan kemewahan SUV.

Iklan