Ini masih jadi bagian dari cerita yang belum-tapi harus diceritakan saat saya pergi ke Kairo dan Alexandria, Mesir, belum lama ini. Karena memang ada 1001 macam hal yang bisa ditulis di negeri para Nabi itu.

Surabaya dan Kairo memang sama panasnya. Tapi, udara panas yang menerpa kulit tubuh di dua kota besar tersebut ternyata berbeda. Panas di Surabaya adalah panas-lembab, sementara Kairo adalah panas-kering.

Apa bedanya? Sepulang jalan kaki membeli rokok di warung dekat rumah, saya harus segera mengganti baju yang kuyup keringat karena lembab. Sebaliknya saya fine-fine aja tuh seharian berjalan-jalan di Kairo beratapkan terik matahari yang menyengat. Karena keringat tidak keluar, baju pun tidak basah.

Kendati demikian, tenggorokan tidak bisa dibohongi. Haus karena panas rasanya tetap sama. Dan kalau sudah begitu, paling asyik adalah meminum jus buah segar nan nikmat.

Dimana? Budi, pemandu sekaligus mahasiswa Al-Azhar yang memberitahu saya soal ini. “Mau minum jus nggak mas Danang?” katanya, seusai kami lelah mengitari pasar Khan El-Khalili disiang hari bolong. “Brangkat Bud!” jawab saya tanpa dikomando lagi.

Menyusuri trotoar di sebelah Barat pasar terbesar di Mesir itu mengantar kami ke sebuah toko jus mungil yang begitu mudahnya terlewatkan. Buah-buahan segar seperti jeruk, melon, apel, dan stroberi dipajang dimuka untuk menarik perhatian pedestrian yang melintas.

Harga pergelasnya sekitar Egyptian Poundsterling (EGP) 4, atau Rp6-8 ribuan. Rasanya, ajiiiib bener joneeh! Seger luar biasa. Terutama jus tebu dan jus stroberi kesukaan saya. Takaran manisnya pas. Stroberinya terasa kental, karena harga buah itu di Mesir termasuk murah. Dan jus seperti itu jadi alternatif penghilang dahaga, mengingat kita lumayan susah mencari tempat berteduh atau ngadem yang menggunakan AC.