Yak, absen searah jarum jam :

1. Roti Isy’ ini tak ubahnya nasi putih bagi warga Mesir. Harganya murah, dimulai dari 25 piester (dibawah Rp1000). Rasanya plain, agak liat, dan bertekstur kasar. Biasanya dimakan dengan sayur seperti tomat atau kacang merah.
2. Paha ayam bakar yang cukup berdaging.
3. Sayur-sayuran kodimen yang, entah kenapa terlihat berkadar higienis rendah.
4. I didn’t know what the heck was that. Semacam saus, yang rasanya cuma kecut dan lebih mirip bubur bayi.
5. Bayangkan nasi putih yang di buat pagi, dan dibiarkan di atas piring sampai sore. Rasanya keras, lengket, dan berminyak mirip nasi kebuli.

Nah, kira-kira ini adalah menu yang biasa dinikmati oleh orang-orang Mesir. Terus terang saya, wartawan Go Spot mbak Fitri, Inong dari C&R, dan Budi membelinya dengan terpaksa. Karena waktu itu belum sarapan, dan perut sudah meronta untuk diisi.

Mbak Fitri sendiri akhirnya tidak jadi makan karena tidak berselera. “Jorok banget,” katanya. Jadilah tinggal kami bertiga yang makan lahap. Terus terang, menu ini memang paling buruk selama saya 10 hari berada di Mesir.

Apalagi, tingkat kebersihan orang Mesir terhitung rendah. Bisa jauh lebih jorok dari orang Indonesia. Menyajikannya pun tidak sopan. Makanan seperti dilempar ke atas meja. Tapi karena harus makan, maka semua pun dilahap. “Gue nggak pikirin rasanya, yang penting masuk dulu,” kata Inong. Sementara Budi, dia terlihat sudah terbiasa dengan makanan seperti ini.

Ya bukan berarti juga semua makanan Mesir seperti ini. Kalau makan di restoran mahal, tentunya tetap enak. Mirip-mirip makanan Indonesia. Saya suka Habasy Takanat yang bentuknya seperti kulit kebab dicampur dengan telor dan sayuran. Begitupun Shawarma atau roti isi daging.

Rata-rata makanan Mesir memang rasanya serba tanggung, mengarah ke datar, kalau saya berpendapat. Kalau manis tidak manis, kalau asin tidak asin. Sisanya adalah kombinasi daging-dagingan yang masih cocok dengan lidah Indonesia.

Iklan